by

Gelar

Oleh: Abad Badruzaman
 

Jujur saja, orang kuliah salah-satunya ngejar gelar. Dibela-belain bayar SPP, rajin kuliah, ngerjakan tugas, UTS, UAS, PPL, KKN, bikin skripsi; buat apa semua itu jika di ujung tak ada gelar sarjana yang ingin direngkuh.

Salahkah orang kuliah ngejar gelar? Tidak, menurut saya. Gelar merupakan ukuran legal-formal. Gelar bisa menjadi modal sosial. Gelar merupakan kebanggaan, bukti tersahih buah perjuangan empat tahun bergelut dengan kuliah beserta perangkat pengiringnya. Gak usah malu disebut pemburu gelar jika memang Anda mahasiswa sungguhan.

Tapi gelar lebih sebagai titik-awal. Gelar diraih bukan tanpa membawa beban yang segera ia timpakan ke pundak pengusungnya. Dalam sebuah yudisium kecil-kecilan, saya menandai beberapa ciri sarjana: berpikir dewasa, berwawasan dan visoner, mampu membaca dan memetakan masa depan, percaya diri dan tidak mengecewakan ekspektasi masyarakat, tidak pernah putus asa, serta tetap “terhubung” dengan Tuhan.

Di lingkungan Kemenag, gelar sarjana diatur oleh PMA, No. 33 Tahun 2016. PMA ini men-nasakh PMA sebelumnya, No. 36 Tahun 2009. PMA, 33, 2016 lebih “luwes” dalam memberi gelar. Perhatikan misalnya: S.Ud jadi S.Ag, S.Sy jadi S.H. Gelar S.H. terdengar lebih “keren” tinimbang S.Sy.

Kendati begitu PMA terakhir bukannya tanpa celah buat dijadikan bahan ngerumpi. Sarjana Filsafat Agama yang biasa menenteng ijazah S.Fil.I, berubah jadi S.Ag. Sarjana Tasawuf Psikoterapi yang sejauh ini digelari S.Psi.I pun berubah jadi S.Ag; Prodi BKI yang di banyak tempat dikelola oleh Fak. Dakwah dan sarjananya bergelar S.Sos.I, harus migrasi ke Fak. Tarbiyah dan sarjananya bergelar S.Pd.

Anak-anak filsafat merasa lebih gagah jika bergelar S.Fil.I dan anak-anak TP merasa lebih PD dengan gelar S.Psi.I, ketimbang S.Ag. Mereka kuatir ada yang ngira S.Ag itu Sarjana Alam Ghaib! BKI yang existing juga lebih mengarah ke konseling sosial, bukan sekolah. Jujur saja jika kemudian Fak. Tarbiyah “mengakuisisi” BKI, para pengelola BKI (agak) keberatan.

Pada akhirnya PMA terbaru soal gelar ini tetap harus diberlakukan. Tapi sebelum benar-benar diberlakukan, izinkan kami–seperti biasa kalau ada peraturan baru–merumpikannya sesuka hati. Setelah cape berdiskusi pada akhirnya kami sadar siapa sih kami ini, terus berkhayal andai jadi menteri!

“Abah juga sudah lama merindukan Gelar.”

“Gelar apa, Bah?”

“Gelar juara Liga Inggris. Leicester, Chelsea dan Manchester Biru merebutnya dari Old Trafford.”

“Ooo…Abah ini pemuja ‘Setan Merah’?”

“Yaaa…setidaknya Abah bukan penyuka Manchester Biru. Sebab the real Manchester is Red. Catat itu, Le..!”

 

(Sumber: Status Facebook Abad Badruzaman)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed