by

Hoax tentang Israel, antara Kebencian dan Mental

Oleh: Erizeli Bandaro

Istri saya sempat marah ketika dapat video dari WAG. Dalam video terlihat anak remaja disembelih lehernya. Disebut oleh yang share adalah itu kekejaman Israel. Saya cepat cari tahu video itu. Untung dapat sumber aslinya.

“Mah ini video aslinya. Penyembelihan itu dilakukan oleh ISIS kepada orang yang dianggapnya musuh.”

Istri saya paham. Tapi keesokannya ada lagi gambar yang dishare di WAG. Dia marah lagi. “Pah, liat keterlaluan benar israel itu. Mesjid di bom selagi orang sholat,“ katanya.

Untung dalam sekian menit saya dapatkan gambar asli. “Mah, ini adalah video lama yang diklaim bahwa pelaku penghancuran tersebut adalah Militan ISIS. Sedangkan lokasinya adalah situs arkeologi kuno yang dihancurkan berada di daerah Irak dan Suriah bukan di Palestina,” kata saya.

“Oh kok semua yang jahat jahat itu ISIS.”

“Ya memang kerjaan ISIS itu jahat. Lebih jahat lagi dia pakai nama islam untuk membunuh dan menipu. Nah di Indonesia itu banyak agent ISIS yang tugasnya menyebarkan berita HOAX tentang kekejaman Yahudi di wilayah pendudukan Israel. Yang lucunya waktu hoax itu disebar pasti ada embel embelnya minta donasi lengkap dengan nomor rekening penerima. Tuh liat WAG itu. Minta sumbangan kan,” kata saya.

“Terus katanya, orang yahudi rampas tanah orang Palestina. Apa benar?“

Itu engga begitu ceritanya. Itu berkaitan dengan sengketa tanah antara warga Yahudi dan Palestina di Yerusalem Timur. Awalnya sengketa melalui pengadilan. Pengadilan distrik Yerusalem memutuskan rumah-rumah itu adalah milik keluarga Yahudi yang melakukan pembelian tanah sebelum tahu 1948.

Itu tentu ada bukti otentik. Namun warga Palestina tidak terima keputusan pengadilan itu. Mereka juga punya bukti kepemilikan dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam. Sebetulnya tidak perlu ribut besar. Karena ada peluang banding ke MA.

Tapi karena ulah provokator, jadi ribut meluas. Ya mau engga mau dihadapi oleh aparat Israel dengan tegas agar tidak terjadi meluas. Yang korban bukan hanya warga Palestina, warga Yahudi juga ada korban. Itu biasa saja. “Jangankan di wilayah pendudukan, di negara berdaulat saja, ada keributan kalau aparat engga tegas, bisa bubar negara itu.”

Istri saya paham. Dan dia langsung left dari WAG itu.Yang saya sedihkan adalah ada pihak sengaja menyebarkan HOAX kekejaman israel. Maksudnya menimbulkan kebencian kepada Yahudi dan pada waktu bersamaan bisa menyentuh empati keagamaan orang untuk keluar uang. Saya yakin mereka yang sebarkan hoax itu punya penyakit mental dan sengaja ajak orang ikut gila.

(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed