by

Memaknai Gelar

Oleh : PItoyo Hartono

Megawati Soekarnoputri menjadi profesor kehormatan kenapa ribut ? Berilah selamat lalu lupakan karena nggak ada maknanya.Beberapa bulan yg lalu saya pernah menulis ttg arti gelar yg bersliweran di dunia akademia, saya copas lagi tulisan saya itu di bawah.Hari2 ini banyak yg ribut dan sebagian nyinyir karena Megawati Soekarnoputri diangkat menjadi profesor kehormatan.

Kenapa ribut dan nyinyir ? Urusan mengangkat seseorang menjadi profesor itu urusan universitas yg bersangkutan, bukan urusan orang lain. Kenapa orang lain yg nggak ada sangkutpautnya perlu nyinyir ? Iri ? Apakah dng pengangkatan ini jatah anda berkurang ? Ngenes banget hidup anda. Coba buat universitas sendiri, lalu angkat diri anda sendiri, toh banyak universitas kelas ndlesep di Indonesia. Atau mungkin memang bakat anda utk mempermasalahkan segala hal tanpa mengerti apa masalahnya? Dan satu lagi, profesor kehormatan itu tidak ada nilai dan maknanya dalam dunia akademis.

Ini hanya gelar “hiasan” yg tidak terkait dengan prestasi akademis seseorang. Tugas seorang prof (yg bukan kehormatan) secara garis besar ada tiga. Memberi arah bagi proses pendidikan di universitasnya, melakukan penelitian yg bermakna baik dalam konteks pendidikan ataupun kemajuan disiplin ilmunya serta “menyebarkan” kemajuan itu pada dunia, dan me-manage gerak universitasnya agar misi pertama dan keduanya berhasil.

Tidak ada orang yg mengharapkan seorang profesor kehormatan utk melakukan semua itu. Kredensial akademisnya pun tidak relevan. Beberapa minggu setelah seremoni pengangkatan, dunia akademia akan lupa ttg prof. kehormatan ini, karena memang dia tidak diharapkan utk berperan sebagai apa2.

Seperti tulisan saya beberapa bulan yg lalu, prof. sama sekali bukan suatu profesi yg istimewa. Tapi seperti profesi lain, perlu skill dan latihan sampai seseorang bisa menjalankan profesi ini. Mengharap seorang prof. kehormatan bisa berperan dalam akademia itu seperti mengharap seorang yg belum pernah memarut kelapa bisa menjadi tukang klepon beken, atau seorang yg nggak pernah “ngulek” lombok bisa menjadi tukang rujak cingur idaman sekota Surabaya.

Saya tidak tahu dan juga tidak peduli apakah Megawati pantas menjadi profesor yg bukan kehormatan kalau dia memilih berkarir di akademia. Dan juga nggak relevan. Jadi ngapain ribut dengan sesuatu yg tidak berpengaruh pada apa2? Berilah selamat padanya layaknya menyelamati orang yg dapat hadiah, lalu lupakan karena toh nggak ada maknanya.

Sumber : Pitoyo Hartoyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed