by

Ganjar, Para Pekerja dan Lapangan Kerja

Oleh : Ario Subagyo

Saya pernah dengar salah satu personil Slank mengutarakan pendapatnya tentang kriteria presiden, yang nanti menjadi pemimpin kita di tahun 2024. Kita tidak butuh pemimpin yang cuma jago ngomong ataupun pandai dalam hal teori. Karena di Indonesia yang pandai ngomong itu sudah banyak. Yang diinginkan adalah pemimpin yang banyak actionnya.

Dan saya temukan hal itu pada Ganjar Pranowo. Dalam retorikanya dia realistis tapi tidak melupakan realisasi dari apa isi dalam retorikanya. Malah kalau dilihat dari rekam jejak, dia lebih banyak kerja nyatanya katimbang mengumbar janji manis.

Ya contohnya saja saat memberi hunian kepada warganya, berbagai program dikerjakan demi mewujudkan keinginan warganya untuk memiliki rumah sendiri. Ada bantuan Rumah Tak Layak Huni (RTLH), tuku lemah entuk omah, bantuan renovasi rumah, dan program lainnya.

Hal itulah yang menjadi satu pertimbangan besar saat Ganjar menerima aspirasi di barisan para buruh dan pekerja migran. Mengapa mereka menjatuhkan hati kepada Ganjar? Bacapres satu itu adalah perwujudan dari pemimpin yang realistis dan anti pemanis, karena memang dia menjalankan tugas dengan hati dan ketulusan.

Tidak perlu dibuat manis, karena apa yang dia tampakkan di publik adalah dirinya yang asli. Beberapa waktu lalu saya melihat barisan buruh linting rokok Grendel di Malang penuh suka cita menyambut kedatangan Ganjar, pekerjaan yang sedang mereka garap langsung ditinggal begitu saja.

Antusias tercetak tebal dari ekspresi dan tindakan mereka, ada yang sampai memanjat kursi demi nampak di pandangan calon pemimpin idolanya itu. Kebanyakan dari mereka adalah emak-emak yang memiliki spirit tinggi dalam melanggengkan kelestarian rokok linting.

Suasana makin heboh dengan persembahan tembang jingle rokok Grendel, yang mereka ubah liriknya menjadi Ganjar. Hanya wajah happy dan kekompakan yang nampak saat mendendangkan lagu itu. Banyak ungkapan tresno untuknya, pun dengan doa yang mereka kumandangkan untuk Ganjar. Dia adalah pengayom dan mereka mendoakan agar Ganjar menjadi pemimpin mereka, sehingga kehidupan para buruh bisa disejahterakan.

Dalam pertemuan itu Ganjar bukan hanya ikut belajar ngelinting rokok, dia juga mendukung keberadaan rokok linting agar tetap lestari dengan para pelaku yang sudah mempertahankannya di tengah munculnya modernisasi lewat rokok elektrik.

Ganjar perokok pasif, tapi dia bukan sosok yang intoleran terhadap perokok aktif. Di Jateng sendiri dia terus mendukung laju petani, agar tetap produktif menghasilkan tembakau berkualitas untuk didistribusikan ke berbagai daerah. Seperti Temanggung dan Boyolali, bahkan dia juga ikut membantu para petani untuk menyuarakan aspirasi dan kesulitannya dalam mengembangkan bahan baku rokok tersebut kepada presiden.

Pada kesempatan itu, Ganjar juga menyampaikan keinginannya nanti untuk terus mendukung keberadaan buruh. Diantaranya dengan mengatur impor dan cukai tembakau untuk menambah pendapatan negara.

Di lain tempat Ganjar juga menyambangi buruh pabrik yang menghasilkan produk dalam negeri, PT Maspion. Sambutan hangat menanti, antusias tercetak jelas dalam raut wajah buruh di sana. Berkeliling hingga berdiskusi membuat para buruh nyaman dengan calon pemimpin Indonesia itu.

Berbagai aspirasi diserap untuk meningkatkan kualitas dari komoditas yang mereka hasilkan. Produk yang diproduksi para buruh di PT Maspion meliputi peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, penjualannya pun sudah go internasional.

Dalam diskusi itu, Ganjar mendorong para buruh untuk mengajak rakyat mendistribusikan barang produksi mereka lebih massif. Dia ingin menggandeng para buruh untuk mengajak semua rakyat Indonesia agar cinta produk dalam negeri. Jadi bukan hanya terkenal di luar negeri saja, tapi produk mereka juga digemari masyarakat kita sendiri.

Menggaungkan semangat dan membuat jalur untuk mengembangkan usaha dengan memperhatikan kesejahteraan para pekerja. Keduanya adalah perpaduan yang pas untuk bertindak secara menyeluruh sebagai pemimpin.

Hal itulah yang nampak saat Ganjar membekali pekerja migran se-Indonesia (PMI), wejangan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah prioritas agar para pekerja tahu hak dan kewajibannya. Dia tahu akan kebutuhan penting bagi seorang migran, maka untuk pembekalan diri agar mereka selalu mawas diri adalah dengan tahu akan batasannya masing-masing.

Di Jateng sendiri tindakan itu direalisasikan lewat pendidikan vokasi, pelatihan dimasifkan untuk meningkatkan kualitas diri sebelum terjun ke lapangan kerja. Ya begitulah sosok Ganjar, bukan hanya beretorika tapi diperbanyak dalam bentuk konkretnya di lapangan.

Jadi saat menyusun visi-misi bisa mengukur implementasinya dari masa lalu. Semua ditakar dalam bidang masing-masing, untuk mewujudkan program yang menyejahterakan rakyat. Bergelut dengan perancangan peraturan di kursi legislatif, membuatnya paham dengan regulasi yang mengikat dan menjamin ketertiban para pekerja di lapangan.

Sebagai pemimpin dia adalah eksekutor, yang memantau jalannya peraturan dengan baik. Dalam jabatan sebagai pemimpin, dia juga sebagai king maker. Pembuat program dan mewujudkannya dengan menggandeng berbagai pihak sesuai kebutuhan.

Dari sana dia bisa menjamin keselarasan program dengan kesejahteraan rakyat, yang menerima keuntungan dari aturan dan progam buatannya. Arah yang jelas untuk mewujudkan kesejahteraan, adalah bentuk tersistemnya rencana dari awal sampai akhir.

Bukan hanya simulasi, karena sudah diimplementasikan di Jateng. Berangkat dari sana kematangan rekam jejak membuat para buruh pekerja dan siapapun kalangannya menjatuhkan penilaian, bahwa ya Ganjar adalah pemimpin yang mereka idamkan. Bukan hanya manis dalam retorika saja, tapi manisnya juga dituangkan dalam aksi nyatanya.

Sumber : Status Facebook Ario Subagyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed