by

Ibu Negara yang Menghanyutkan

Oleh : Nikmatul Sugiyarto

Ibu Saya Yang Salah Atau Ibu Negara Yang Diam-diam Menghanyutkan?

Ibu saya itu fans beratnya Almarhumah Ibu Ani Yudhoyono. Karena beliau, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hadir di bumi pertiwi. Alasannya, ibu negara satu itu peduli akan pendidikan generasi muda.

Buktinya sebelum mengenyam taman kanak-kanak, balita dipersilahkan untuk mengenal teman dan bermain bersama di tingkat PAUD. Lalu suatu ketika saya pernah bertanya ulang tentang bagaimana ibu negara setelah Bu Ani. Ibu saya juga cukup mengagumi Ibu Iriana, bilangnya dia adalah gambaran ibu negara yang sederhana.

Pak Jokowi yang hebat, bisa membawa Indonesia mendunia karena ada wanita yang siap siaga menemani jatuh bangunnya Pak Presiden. Kesederhanaannya itu adalah percontohan bagi rakyat untuk tidak lupa diri saat berada di puncak.

9 Tahun sudah perjalanan mengarungi samudera, banyak ombak yang menyapa. Dan tibalah pasangan suami istri itu di penghujung tahun sebelum landing di dua periodenya. Awalnya aku tidak merasakan apa-apa, saat jelang terselenggaranya pesta demokrasi 2024 nanti.

Tapi saya dibuat terdiam saat fakta satu-persatu bermunculan. Ekspektasi tentang ibu negara yang sederhana, hancur berkeping-keping saat mendengar podcast di kanal youtube Bocor Alus Tempo. Nanti lebih detail ceritanya, kalian bisa dengarkan langsung di sana. Karena saya tidak kuat memaparkan secara rincinya di sini.

Saya hanya tidak habis pikir, mengapa sang ibu tega mencari jabatan tinggi untuk anak sulungnya disaat dia belum siap betul? Apa yang membuatnya gigih dan berani bergerak kesana-sini demi pencawapresan Gibran?

Tidak pernah terbayang di kepalaku, saat dia bersilaturahmi kepada Ibu Megawati Soekarnoputri yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Berulangkali Bu Mega menggaungkan, agar anak-anaknya selalu memprioritaskan kepentingan rakyatnya. Tapi kenapa nasehat itu bisa lepas dari istri presiden Jokowi?

Sampai hari ini berbagai pertanyaan masih muncul terus. Tanda tanya besar terparkir dalam kalimat tanya, mengapa pemikiran untuk memberi kekuasaan kepada anaknya dengan menggunakan aji mumpung Jokowi itu bisa muncul dari sosok ibu yang sangat sederhana, yang mengedepankan urusan negara daripada urusan pribadinya?

Apa betul semua berangkat dari kenyamanan posisi tertinggi, yang 9 tahun ini ditempatinya?

Ya memang darah lebih kental daripada air. Ibu negara mendahulukan anaknya daripada anak bangsa lainnya. Melihat hal itu membuatku merasa miris, karena kehendak yang terlalu dipaksakan itu kegaduhan terjadi dimana-mana.

Banyak suara mendukung keputusan Ibu Iriana, mulai dari keluarganya di Solo yang memainkan peran di Mahkamah Konstitusi dan saudara-saudaranya. Ya mungkin mereka sudah membayangkan privilege yang nanti mereka dapatkan lagi. Jadi kesempatan itu tidak akan disia-siakan.

Bak sudah matang dipersiapkan istri Pak Jokowi jauh hari sebelum hari ini. Saya kira Ibu Iriana hanya fokus mendampingi suaminya untuk mengabdikan diri pada negara, sambil jalan berbaur dengan warga mengurusi problem yang menghampiri mereka. Tapi ternyata di sela-sela itu terselip pemikiran untuk tetap stay, mengambil peran untuk membawa kekuasaan itu.

Ya karena sang suami sudah tidak mungkin lagi melakukannya, karena ada batasan dua periode kepemimpinan di tanah air maka Gibran yang menjadi gantinya. Cerita ini mungkin sudah mengudara di tanah air, bahkan mungkin Ibu Iriana juga sudah mendengarnya langsung.

Ibu saya yang tadi mengagumi kesederhanaan ibu negara berkali-kali menyangkal. Bahkan dia tidak ingin mempercayainya. Dia tidak menyangka bahwa ibu yang dia puja akan kesederhanaannya, ternyata memiliki keinginan tinggi juga untuk berkuasa lagi lewat anaknya.

Apa tidak cukup puas dengan privilege yang selama ini melingkupinya dan anak-anaknya. Ibu, hidup itu berputar, tidak melulu di atas. Sudah cukup lama ibu dan keluarga bertahan di posisi teratas. Toh kalau pun kalian sudah menjadi rakyat biasa, rasa segan dan hormat masih tumpah ruah kepada Ibu dan keluarga.

Pikiran sederhana ibu saya sih “sudah terlalu nyaman, keblabasan jadi serakah sampai lupa nasib demokrasi negara”. Ya akhirnya ibu saya menyadari penilaiannya selama ini salah. Mungkin sederhana itu sifat sementara Bu Iriana, tapi untuk yang sebenarnya itu hanya keabu-abuan yang kini mulai menghitam.

Kondisi negara hari ini makin carut-marut. Hukum dikangkangi, dengan putusan yang dipakai muntuk mengangkat anaknya terbukti berasal dari pelanggaran etik iparnya. Sampai penggerakan aparat negara yang semakin brutal, dipacu untuk memenangkan Prabowo-Gibran.

Doa yang kami lantunkan adalah yang terbaik untuk negeri ini. Kami yang di bawah tetap bersuara. Walau tidak bisa berteriak langsung, setidaknya bisa menyuarakan lewat sepucuk surat digital seperti ini agar sampai di hadapan para elite yang dikira ibu saya penuh kesederhanaan tadi.

Bumi pertiwiku semoga lekas membaik, dengan pemimpin baru yang akan tulus membela dan melayani kami, menegakkan hukum dan menjaga demokrasi di tanah NKRI.

Sumber : Status Facebook Nikmatul Sugiyarto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed