by

Bastian dan Kebenaran yang Setengah

Absennya jawaban dari pertanyaan diatas membuat kita seperti memilah fakta sesuai dengan keinginan kita dan kita anggap itu mewakili sebuah kebenaran yang total dan kita setuju dengan semua yang diceritakan sang paman. Pemilahan fakta seperti ini menurut saya adalah kebenaran yang setengah. Kebenaran yang setengah adalah hoax.

Dari sini saya sepakat bahwa kejadian ini sejak awal adalah kelengahan dan bukan karena perilaku yang dirancang, terstruktur dan sengaja. Sekolah dan orang tua Bastian sama-sama salah. Sekolah membiarkan murid mengucapkan dan meniru apa yang dilakukan para orang dewasa yang membenci Ahok. Padahal jika dia ditanya, bocah-bocah itu tidak paham apa maksudnya kecuali hanya sekedar meniru umpatan orang-orang disekitarnya.

Sementara orang tua Bastian nampaknya kurang berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Tadinya saya berharap Bastian tetap bersekolah di sekolah negeri sebagai ikon pembelajaran bagi guru dan orang tua murid, bahwa ucapan rasis adalah terlarang. Namun kabarnya Bastian pindah sekolah. Kita menghormati keputusan ini.

Pastinya sekolah lama Bastian , Kepolisian dan Kanwil Diknas sangat sangat sangat lega karena mungkin Bastian pindah sekolah adalah yang sangat mereka harapkan agar tidak ada kerja tambahan. Case closed dengan happy ending bagi semua yang terlibat.

Kasus Bastian tentu merupakan pelajaran bagi semua agar jangan sampai anak-anak kecil meniru ucapan dan perilaku rasis orang-orang dewasa.

Dipihak lain, kita juga harus adil dalam menyikapi fakta dari berbagai sudut. Bukan mempercayai kebenaran yang setengah. Kemudian fakta sisanya kita buang karena tidak menyenangkan kita.

Jika kita bersikap demikian, kita adalah pemuja hoax bukan pencari kebenaran . Yang bawaannya emosional mengesampingkan fakta-fakta penting yang rasional.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed