by

Bekerja Bahu Membahu

Oleh : Mimi Hilzah

Begini mi saja saya bantu berpikir. Mau apa saja bentuknya. Rumah tangga, perusahaan, yayasan atau apalah yang isinya ada lebih dari dua kepala kemudian ada pemimpinnya, adalah kewajiban pemimpin memastikan pasukannya sehat lahir batin dan aman. Cukup makan, cukup istirahat, cukup hiburan, cukup pendidikan, ya paling dekatnya hidup dalam keadaan baik. Susah? Tidak. Mudah? Tidak juga. Seorang pemimpin memang diberi amanah besar dan berat tapi karena itulah ia mendapatkan privilege sebagai pemimpin. Dihormati, dihargai, seringnya dinomorsatukan. Plus kalau ada bayarannya, biasanya dia dapat bagian paling besar.

Jika berhasil, biasanya yang mendapat tepuk tangan dan apresiasi paling banyak adalah pemimpin. Padahal tidak dipungkiri, tidak ada seorang pemimpin bisa berhasil tanpa kerja sama yang keras dan solid antara pasukan di bawahnya. Tapi ndak apa-apa, itu sudah takdir seorang pemimpin. Takdir baik yang sekaligus menjadi ujian, apakah dia menjadi congkak dan lupa diri atas jabatannya? Ataukah dia memilih tetap rendah hati dan berjalan bersama-sama pasukannya. Kadang-kadang dia mundur ke belakang demi memastikan tidak seorang pun yang tertinggal apalagi terjatuh.

Ko tau tiang rumah? Pondasi? Itu ibaratnya pasukanmu. Kalau salah satunya lemah apalagi tumbang, rumah semegah apa yang ko harap berdiri?Lalu orang dengan dasar ilmu agama yang hebat (saya bilang hebat karena memang kabarnya nama dan institusi kalian cukup terkenal), bukankah hal biasa saja jika publik berharap kalian menjadi teladan yang baik bagi yang lain? Tidak mungkinlah ada korslet di pasukan tanpa diketahui pemimpinnya terkecuali pimpinan sibuk ibadah atau sibuk bersenang-senang. Lalai sekali dua kali akan termaafkan sebab manusia itu memang rentan melakukan kesalahan. Tapi setelah berkali-kali dan tidak memperbaiki diri itu artinya apa? Bebal mungkin. Terlalu angkuh bisa.

Misal ada suami yang rajin sekali menyempurnakan ibadahnya tapi ternyata anaknya sakit dan istrinya tidak punya uang belanja, pasti mi akan dihitung sebagai lalai. Lho saya kan ibadah, saya ini imam, saya pemimpin tidak harus mengurus tetek bengek pasukan di bawah saya! Eh, jaman dulu ji itu ada pemimpin bertahta sampai 32 tahun sementara ada banyak rakyatnya hilang tanpa bekas dan dia tidak perlu menjelaskan. Sekarang rakyat sudah jauh lebih peka, cerdas dan berjiwa intelejen.

Dan tidak seorang pun berhak merampas kemerdekaan orang lain dalam menentukan sikap dan pilihan. Bahkan anakmu sendiri bukan milikmu pribadi. Apalagi kalau cuma karyawanmu, yang sebenarnya datang untuk memudahkan urusan-urusanmu. Jika kau tidak mampu memberikan hak dan ruang yang nyaman bagi mereka bekerja, mereka tidak boleh dipaksa melakukan di luar batas kemampuan mereka, apalagi diancam dengan membawa nama-nama Tuhan sekalipun.

***Saya mau pulang, baru selesai shalat di lantai atas ketika saya temukan Dilan di teras belakang. Sejak Anti datang, semua kegiatan mencuci loyang dan peralatan makan dipindah ke teras rumah belakang. Anti tidak terbiasa mencuci di wastafel. Di kampung ia biasa mengerjakan cucian dengan cara duduk.

Saya kaget melihat Dilan ikut mencuci piring. Saya bahkan hampir menjerit. Hei, itu anak bikin apa??? Dari kemarin Bu, dia bantu Anti mencuci. Kamu suruh?? Tidak, Bu. Dia mau sendiri… Aduuhh… nanti bapaknya marah! Saya lalu berteriak kepada Dilan; Dilaannn!! Nanti bapakmu marah kalau tau kamu ikut mencuci, Nak… Dia ketawa-ketawa. Sambil terus menyabuni piring di tangannya. Ah, tidak jiiii!! Biasa ma’ cuci piring! Saya menoleh ke asisten lain yang masih mengerjakan kue. Aduh, nanti bapaknya marah.. .Nia menyahut; Katanya sudah biasa cuci piring, Bu. Malah dia suka, dia lebih suka mencuci daripada mengerjakan hal lain…

***Berapa usia Dilan? Sebelas tahun. Kira-kira menurutmu dia akan jadi pemimpin yang seperti apa kelak jika dia juga ditakdirkan memiliki sebuah pasukan? Dia tidak mau diam. Biar dilarang membantu ini-itu, dia tetap mencari pekerjaan. Saya hadiahi game tetris, dia bilang doanya terkabul bahwa saya akan memberinya satu untuk dibawa pulang. Jam makan, dia duduk di antara asisten tanpa merasa berbeda, makan sambil bercanda dengan mereka. Seperti ini rumahnya juga, seperti orang-orang yang sebenarnya asing ini keluarganya juga.

Dia sesekali bertengkar kecil dengan Anti yang susah sekali berbahasa Indonesia. Rebutan pekerjaan biasanya, tapi dia tetap pergi membantu Anti mencuci. Dia tidak malu misal ada orang lain melintas di belakang ruko dan mungkin saja akan meledeknya. Sepupu-sepupunya berkeliaran bermain saat sore, dia tetap menyelesaikan pekerjaannya.

Jumat dan Sabtu dia ijin ke Malino bersama keluarga besar dari ayahnya. Saya menggodanya, saya ingin oleh-oleh tenteng gula merah. Asisten lain menggodanya, mereka mau stroberi. Baru tiba di sana, ibunya cerita, dia sudah ribut ingin membelikan kami oleh-oleh. Ibunya bertanya apa kau punya uang? Punya katanya, ada sodara kakeknya yang memberinya uang seratus ribu. Saya dibelikan dua bungkus tenteng gula merah, para asisten dibelikan dua wadah stroberi. Saya pulang dengan hati seperti teraduk-aduk. Anak sekecil itu masya Allah… tidak henti-hentinya memberi pelajaran.

Dilan sedang belajar menjadi seorang pemimpin sekaligus kawan yang adil. Yang peka, yang penuh kasih sayang, yang tidak berhitung soal meringankan beban orang lain, yang tidak berhitung saat hendak membahagiakn orang lain dan yang terus-menerus mencari cara bagaimana ia bisa tetap berjalan bersama-sama dengan pasukannya.Sehat terus, Nak. Sehat terus….

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed