by

Orde Baru Cetak Kualitas Pendidikan yang Diskriminatif, Tidak Berkualitas dan Anti Nasionalisme

Oleh : Tito Gatsu

Hakekat sebuah negara adalah melindungi dan mensejahterakan rakyatnya jika Kita bicara logika seseorang membela negara karena dia Hidup di negaranya mencari makan dinegaranya dan bisa sejahtera dinegaranya , kenapa Bung Karno mengganti syair lagu Padamu Negri ciptaan Kusbini pada bait terakhir Bagimu Negri…Indonesia Raya berubah menjadi Bagimu Negri Jiwa Raga kami ! Karena di Negri inilah Kita harus mendapatkan segala-galanya , kekayaan alamnya hingga Kita Hidup harusnya Negara hadir kepada setiap kesulitan Kita.

Seharusnya Kita menyadari bahwa selama puluhan tahun Kita dijajah oleh bangsa sendiri bahkan yang sangat menyedihkan Kita Tak faham arti kebangsaan karena Masa Pemerintahan orde Baru adalah masa- Masa Kita dibuat bodoh !Pendidikan yang Paling Penting pun mengenai kebangsaan Kita Tak Pernah faham. Pada Masa Orde baru kita taunya cuma PMP atau Pendidikan Moral Pancasila yang isinyapun sumir mengenai wawasan kebangsaan Kita Tak Pernah tau apa Itu Haluan negara karena GBHN sudah berubah menjadi P4 atau Pedoman Penghayatan dan pengamalan Pancasila yang isinya pun sumir Kita dipaksa untuk membela Pancasila secara buta dengan. mempelajari arti Pancasila dan UUD 1945 yang sudah banyak direfisi isinya lebih banyak menggambarkan sikap anti komunis dan menjadi penjilat Orde Baru

Sungguh sesuatu yang membosankan seperti Kita membaca doktrin harus begini dan begitu jika tidak melanggar dan sebagainya.Padahal jaman sebelum Orde Baru Bung Karno menanamkan Rasa kebangsaan sejak sink seperti Manipol/USDEK yang merupakan akronim dari Manifesto politik / Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang oleh Soekarno dijadikan sebagai haluan negara Republik Indonesia, sehingga harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia. Diumpamakan juga Manifesto Politik/USDEK bagaikan Quran dan Hadis shahih yang merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik/USDEK pun merupakan satu kesatuan yang sama.

Artinya Bung Karno Ingin rakyat Indonesia sejak dini tau politik dan disinilah kader kader Negara akan tumbuh sebagai pionir kemajuan bangsaYang Penting dalam pendidikan Itu bukan seorang ahli matematika atau ilmu pengetahuan alam tapi bagaimana seseorang merasakan secara langsung hasil pendidikan yang dia Terima dan bagaimana memajukan bangsa jika bangsa maju rakyatpun akan sejahtera.

Tapi jaman Orde Baru memang menjadi jaman pembodohan rakyat dibuat tidak tau apa-apa mengenai kehidupan berbangsa bahkan selama masa Orde Baru terjadi diskriminasi pendidikan di daerah , orang yang bisa bersekolah hanya orang yang mampu bahkan didaerah-daerah tidak usah jauh2 di Sumatera saja banyak kekurangan SMA , sehingga orang yang Ingin melanjutkan SMA harus ke pulau jawa apalagi Perguruan Tinggi. pada era Tahun 1970 – 1980 perguruan tinggi megri.favorit hanya ada di pulau jawa diluar jawa banyak dibuat perguruan Tinggi Islam yang Saya sendiri tidak faham lulusan nya siap guna atau tidak sebagai tenaga kerja.

Diskriminasi tersebut yang Paling parah adalah di daerah yang potensial.konflik seperti Aceh dan Papua, sekolah disana sangatlah kurang sekali karena ada satu pesan politik bahwa mengendalikan orang bodoh akan lebih mudah daripada orang pandai ini adalah strategi fasis agar masyarakat didaerah konflik dibiarkan terus terbelakang sehingga bila ada masalahpun tinggal mengambil tindakan represif.Jujur saja banyak pelajaran yang tidak disukai karena oleh peserta didik hampir semua siswa tidak suka matematika dan IPA padahal diluar pelajaran Itu sungguh membosankan karena hanya hapalan yang bisa dikuasai menjelang ulangan diluar pelajaran matematika IPA dan mungkin bahasa literatur yang Kita dapat semua buku-buku dari Pemerintah ,

Jadi begitu lulus SD Kita bisa baca tulis dan menghitung dengan sumber bacaan yang sangat Terbatas begitu Juga ketika lulus SMP dan SMA sering Saya berpikir ngapain sampai lulus SMA jika kemampuan Saya sama dengan lulusan SD sesungguhnya pendidikan jaman Saya sangat membosankan.Ketika Saya Sudah mempunyai anak Saya sekolahkan anak Saya sejak SD di sekolah swasta favorit jam belajarnya luar biasa padat , pagi pagi harus ikut Pengajian hingga sore Hari dulu waktu sekolah Saya sejak SD dari jam 7 pagi hingga jam 12 , anak Saya sejak SD Baru pulang jam 16.00 Setelah lulus SD Saya evaluasi pengetahuannyapun kurang lebih sama dengan saya waktu SD

Yang lebih parah lagi ketika Saya bisa menjadi pengusaha dan mempunyai karyawan Saya tidak melihat perbedaan yang jelas antara seseorang lulusan SD dengan lulusan SMA bahkan Saya bisa mendidik lulusan SD Karyawan Saya menggunakan komputer hingga mampu menjadi seorang disainer , jadi Saya tidak melihat secara signifikan perbedaan kemampuannya dengan lulusan SMA.

Betapa pendidikan di Indonesia banyak membuang waktu tanpa memberikan nilai lebih bagi anak anak mungkin buat orang yang Punya bakat di ilmu eksakta tidak jadi masalah karena pendidikan disini cukup menunjang tapi bagi yang Punya bakat dibidang ilmu sosial.dan bahasa sulit berkembang karena begitu ketatnya screening pemerintah Orde Baru Terhadap buku buku ilmu sosial apalagi politik masyarakat dididik menjadi teknokrat tanpa tau sosial politik karena pelajaran Ilmu sosial dan politik akan membuat pemerintah Orde Baru ketakutan kebobrokannya akan diketahui rakyatnya sendiri, ingat lho Indonesia menjadi negara terkorup di Dunia dan dikuasai penguasa tunggal Soeharto.

Apabila ada yang mengkritik Kita akan dicap tidak Pancasilais jadi jangan heran jika minat baca orang Indonesia rendah karena memang Kita Tak bisa leluasa membaca kecuali buku-buku yang disortir pemerintah.Pemerintah memang mengkader para politisi melalui Golkar dan militer sehingga yang tidak masuk radar Orde Baru mereka takkan bisa jadi politisi dan sekolah hanya disiapkan untuk bidang pekerjaan yang sudah disiapkan melalui konsep trilogi pembangunan atau perusahaan asing yang berbondong- bondong masuk.ke Indonesia dan supply dari pemerintah untuk tenaga kerja hanya sebatas operator dan tekhnisi saja.

Sedangkan tenaga manajerial diberikan pada perusahaan asing tersebut.Jangan heran jika sampai Sekarang pun banyak orang yang buta politik dan Tak faham.kedaulatan rakyat karena pola kehidupan dan pendidikan era Soeharto hanya untuk teknokrat dan militer diluar Itu pendidikan di Indonesia tidak Punya visi dan kualitas lulusan SD dan SLA nyaris sama terutama pada kemampuan bekerjanya .Salam kedaulatan rakyat.

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed