by

Sumbangan yang Berseliweran

Oleh : Lutfi Nur Farid

Beberapa minggu lalu saya baca netizen di medsos yg nyinyir dengan salah satu ormas yg membagikan nasi untuk warga miskin terdampak pandemi. “Isinya cuma telur tahu saja, mana kenyang.”, ada juga yg komentar, “Tinggal tambah dua ribu aja lauknya ayam, pelit amat.” Bayangkan luar biasanya hobi kita berdebat, ada orang ngasih makan orang susah saja, bisa timbul pro kontra. Syukurlah organisasi tersebut kabarnya tidak berhenti memberi. Saya pernah jadi panitia baksos di sebuah RS swasta. Pasien diminta datang paginya dalam keadaan berpuasa, untuk menjalani operasi, dan menginap semalam untuk observasi pasca operasi.

Tentu tidak nyaman memasang infus, memastikan puasa, mengganti cairan di jam-jam sebelum operasi. Saya bertanya pada senior saya yg sering baksos, “kok nggak ngamarnya sehari sebelumnya mas?” “kalau biaya nginap semalam 200 ribu dan biaya operasi baksos rata2 3 juta, anggaran buat operasi dan nambah semalam 15 orang itu bisa buat operasi 16 orang.” Eh benar juga. Baru-baru ini juga ada debat di medsos mengenai etis tidaknya memberikan sumbangan berupa baju bekas. Kaum yg menentang bilang, “Jangan memberi barang yg kamu sendiri tidak mau menggunakan. Lebih baik jual saja lalu uangnya belikan pakaian yg baru.” Lalu saya yg teringat baksos itu dan kadang ke pasar pakaian bekas impor cap karung iseng menghitung, mungkin hasil penjualan pakaian bekas sebanyak lima buah hanya bisa untuk membeli satu pakaian baru.

Itupun kalau laku. Itupun kalau tidak diributkan lagi, membantu kok cuma sedikit.Dengan anggaran yg sama, tentu harus ada yg dipilih, membantu lebih banyak orang atau menurunkan kualitas bantuan. Tergantung outcome yg dipilih pemberi bantuan. Kalimat “Ah cuma seribu saja” akan diucapkan oleh mereka yg memiliki privilege untuk tidak memikirkan uang seribu, atau tidak memiliki pengalaman mengelola dana sendiri. Konsep tradeoff itu asing untuk mereka yg biasa hidup tanpa batasan finansial. Di otak saya yg begini mirip paradoks lama. Kapal Theseus tapi tidak persis. Mereka yg bilang selisih seribu tidak signifikan, berarti 100 ribu dan 101 ribu tidaklah berbeda. Tapi bila logika itu dirunut terus, 101 ribu dan 102 ribu tidak berbeda, 102 ribu dan 103 ribu tidak berbeda, hingga 149 ribu dan 150 ribu tidak berbeda, maka mereka akan mencapai kesimpulan bahwa 100 ribu dan 150 ribu tidak berbeda, sesuatu yg tidak masuk akal sehat … tapi tampaknya masuk ke akal mereka.

Pada tahun 1995, isu ibu melahirkan menjadi topik hangat di Amerika Serikat. Di sana, biaya kesehatan ditanggung oleh perusahaan asuransi, yg biasanya preminya sebagian besar dibayarkan oleh pihak pemberi kerja. Sistem pembayaran dari asuransi sendiri sejak tahun 1980an dilakukan paketan per kasus, bukan lagi reimbursement biaya yg dihabiskan RS. Kira-kira seperti BPJS di sini. Akibatnya, asuransi yg ingin biaya yg mereka keluarkan turun demi profit, mereka bernegosiasi dengan pihak RS untuk harga standar paket per kasus, apa yg bisa ditekan.

Bahkan asuransi membuat panduan berapa hari perawatan yg menurut mereka layak menjadi standar pelayanan. Karena asuransi pemerintah pun meminta hal yg sama, pihak RS pun mau tidak mau mengikuti. Kalau tidak RS akan merugi. Akibatnya menurut data, pasien dengan kasus apapun lama perawatan di RSnya makin berkurang, termasuk ibu bersalin. Data CDC, lama perawatan rata2 untuk ibu lahir normal menurun dari 3.9 hari tahun 1970 menjadi 2.1 hari tahun 1992. Untuk persalinan Caesar, menurun dari 7.8 hari menjadi 4 hari saja. Ketika salah satu asuransi besar memulai pilot project untuk menurunkan masa rawat ibu melahirkan normal menjadi 8 jam saja, presiden Clinton pun bereaksi, berjanji menghentikan yg dia sebut “drive-through delivery” dan isu ini menjadi isu nasional

“Lho kan tinggal buat standar lama perawatan dua hari”, mungkin menjadi respon orang awam. Tapi di Amerika tidaklah sesederhana itu, biaya asuransi akan diteruskan kepada pembayar premi. Kalau biaya premi naik sedikit saja, mereka yang berada di margin, mereka yg sudah membayar premi di kapasitas finansial maksimalnya tidak akan mampu membayar asuransi lagi. Inilah tradeoff-nya, kenyamanan sejumlah besar orang vs sejumlah kecil orang terancam jadi uninsured. Inilah kekurangan terbesar sistem kesehatan ala Amerika yg sudah tidak gratis, bukan reimburse pula.

Survivabilitas RS dilawankan dengan kepentingan pasien, sedang pihak asuransi mengambil profit yg makin lama makin tinggi. Penekanan biaya yg dijadikan tujuan akan menurunkan kenyamanan dan lebih buruk lagi, keamanan. Dokter mengangkat kekurangannya asuransi sistem case based group, tapi tidak dipedulikan. Mereka suruh dokter tidak memikirkan uang tapi uang selalu menjadi batasan yg kami temui dalam memberikan pertolongan. 🙂Kenapa saya dapat inspirasi menulis ini? Saya sedang antre di warung, di depan saya ada suami istri ingin pesan nasi untuk sedekah Jumat. “Beli 12 ribu sebungkus aja Dek, lauknya yg enak, nanti buat 25 orang” “Terlalu sedikit yg dibantu Mas, beli 10 ribu sebungkus aja, asal kenyang, nanti bisa buat 30 orang.” Saya tersenyum. Mungkin ini dialog calon penghuni surga.

Sumber : Status Facebook Lutfi Nur Farid

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed