by

Antara Suroto dan Krisdayanti

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Adakah hubungan di antara undangan Jokowi kepada Suroto ke istana dan heboh buka bukaan gaji anggota dewan dari penyanyi Kris Dayanti? Ya, tentu saja ada. Yaitu rakyat merasa hanya presiden yang biasa menuntaskan masalah mereka – sementara wakil rakyat – yang seharusnya menyalurkan aspirasi mereka – entah apa yang dikerjakannya.

Artinya fungsi Wakil Rakyat sedang dipertanyakan. Digugat.

Para politisi partai yang gemar mengatasnamakan “rakyat” itu sebenarnya hanya memikirkan diri sendiri.

Angka angka fantastis yang “dinyanyikan” Kris Dayanti dan menghebohkan para politisi Senayan dan pengamat – juga publik lewat media – sebenarnya tak mengejutkan. Karena bagi yang cermat mengamati seluk
beluk parlemen memang demikianlah kenyataannya.

Dua malam lalu saya menyimak dialog panjang antara Gita Wirjawan, cendekiawan, mantan menteri perdagangan dan Mardigu Wowiek, pakar geo politik ; dua orang cemerlang yang melihat gambar besar Indonesia dan serius memikirkan masa depan, Indonesia 50 hingga 100 tahun mendatang.

Di channel ‘Endgame’ – Youtube, keduanya sepakat menyebut bahwa demokrasi yang berlaku di Indonesia saat ini merupakan demokrasi parlementer. Artinya, peran parlemen sangat menentukan. Itu sebabnya orang anggota parlemen seperti Kris Dayanti, sangat diperlukan.

Tak ada suatu keputusan penting dari negara dan pemerintah tanpa
persetujuan parlemen yaitu DPR RI. Tapi para pengamat, LSM, aktifis dan mahasiswa, cenderung
menyalahkan presiden dan istana, ketimbang menyoroti anggota dewan di
Senayan yang sudah ketok palu, cap dan tanda tangan dalam kebijakan kebijakan yang disepakati bersama.

Bahkan di media, banyak anggota DPR RI sering mengingkarinya. Belagak pilon!

Kuncinya adalah sandiwara.
Politisi kita banyak pemain sandiwara.

Dibanding organ partai dan pebisnis, artis yang jadi anggota dewan sedikit. Tapi aktornya banyak. Sebagian besarnya jago akting. Banyak bersandiwara.

Politisi di Senayan (DPR RI) dan Kebon Sirih (DPRD DKI) biasa main ketoprak dan main lenong. Tak ada pengeluaran dari kementrian, lembaga, BUMN, tanpa sepengetahuan anggota dewan. Dan nyaris untuk setiap program ada bagiannya. ‘Fee’, prosentase, pengganti transport, dll.

Mereka yang marah marah biasanya karena tak kebagian proyek. Atau merasa kurang.

Hal yang menjengkelkan adalah mereka masih mengeluh. Berhasil lolos dari lubang jarum peluang 7% – 9% dalam perang di Pemilihan Legislatif (pileg), setelah duduk di Senayan, masih mengeluh. Gaji dan tunjangan besar tapi dirasa kecil, karena kebutuhan banyak, potongan banyak. Modal banyak.

Sungguh tidak enak jadi wakil rakyat , keluh mereka. Tapi nyatanya
mencalonkan lagi. Pengin dipilih lagi. Sibuk kampanye lagi. Sungguh munafik sekali.

Tidak semua politisi berbakat jadi pembohong, tapi juga nampak jelas mereka tak pernah menyatakan hal yang sebenarnya.

Jika mereka bilang “jujur saya katakan….” atau “jujur kami sampaikan….” sebaiknya jangan percaya, karena Anda bakal sakit hati. itu bagian retorika khasnya. Bosa basi – nasi basi.

Mana ada politisi jujur?

Penghasilan sebagai wakil rakyat di Senayan tekor, tapi kekayaan
berlipat ganda. Mobilnya mewah. Assetnya meroket. Sibuk sikut kiri kanan di luar pengetahuan awam.

Kenyataan pahit yang kita hadapi sebagai rakyat : ada 560 wakil rakyat
di Senayan dan hanya sedikit yang bicara dan memperjuangkan kepentingan kita – yang memilih mereka .

Itu sebabnya peternak seperti Suroto harus membentangkan poster di jalan yang sedang dilalui presiden dan mengambil resiko ditangkap polisi. Beruntung dia malah dipanggil istana.

Dari 560 wakil rakyat hanya belasan saja yang berani dan bisa bicara ke publik . Itu pun sebagiannya ngawur dan ngasal seperti Fadli Zon dan Andre Rosiade. Yang lainnya duduk takziem mengolah proyek, menggeser geser anggaran, untuk perusahaan dan rekanan. Sebagian besar memikirkan bisnis, partai, dan dirinya sendiri serta keluarganya. Rakyat yang diatas namakan ada di bagian belakang.

Dana reses dipakai untuk beli sembako 100-200 ribu perak per paket, dan hanya
itulah yang dikembalikan ke rakyat. Itu pun dari negara. Apa yang dia
perjuangkan dengan gaji 60 juta sebulan?

Anda tahu bagi mereka yang bekerja swasta orang orang yang digaji Rp. 60
juta targetnya gila gilaan. Manager dan direktur itu tekanannya tinggi
sekali. Tapi di DPR RI bahkan rapat paripurna saja jarang dihadiri. Produk legislasi rendah. Dengar
pendapat hanya basa basi dan sandiwara.

Semua pertanyaan dan jawaban di ruang komisi di gedung parlemen di
Senayan sudah diatur sebelumnya melalui lobby, kongkow kongkow di Hotel Mulia atau Hotel Atlit – masih di Senayan juga – atau lokasi lainnya. Besok Si A nanya apa, si B
nanya apa, lalu eksekutif menjawab apa. Semua sudah diatur.

Sedikit ngotot di ruang sidang buat drama, biar kelihatan ada kontroversi. Suguhan buat media, biar kelihatan serius. Kasi bahan berita buat wartawan biar senang.

Kenapa saya tahu? Ya, tahu lah wong mereka yang cerita sendiri. Seperti
Kris Dayanti yang merdu bernyanyi, bikin kuping kepanasan rekannya, yang
biasa ngolah proyek dan diem diem bae.

Dan rakyat atau orang kecil seperti Suroto tetap harus berjuang sendiri mengubah nasibnya. Wakil rakyat sibuk kampanye untuk periode berikutnya.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed