by

Indonesia Disandera Partai

Oleh: Iyyas Subiakto

Konsensus atas lahirnya partai politik di Indonesia yg pada akhirnya menjamur tidak terhindarkan, akibatnya jadi tontonan murahan, karena isinya cuma kepentingan golongan bukan kepentingan kebangsaan.

Di Indonesia ada 16 partai politik yg ikut pemilu 2019, 7 diantaranya gugur karena tak mencapai ambang batas perolehan suara. 9 sisanya terdiri dari 5 partai yg berbasis nasionalis, dan 4 berbasis agama. Bahkan ada satu yg berideologi non Pancsila pada awalnya, skrg mungkin masih pura² Pancasila, tapi dibiarkan begitu saja.

Kita sudah pernah di jajah partai walau tidak mau disebut partai saat itu, mereka lebih suka menyebut dirinya Golongan Karya, artinya bagus, kelakuannya prengus.

32 tahun Indonesia di jajah Golkar Kuning, Merah dan Hijau. Karena sejatinya hanya ada satu partai ya Golkar, cuma dibagi dalam 3 warna. NU saja hampir di Golkarkan kalau MU mungkin sudah pada saat itu, karena AR itu ya Cendana minded, hanya pura² saja gayanya melawan, tapi sejatinya selimutan.

Selepas itu sedikit ada pergeseran, partai yg ada mulai kelihatan, tapi lebih kepada cakar²an rebutan kongsi dan jabatan.

Hadirnya Jokowi melalui PDIP yg awalnya disebut oleh Mega sebagai petugas partai ( Mega selalu jumawa seolah Jokowi dibesarkan oleh PDIP, padahal kebalikannya ). Kesan dari statement itu adalah bahwa Jokowi harus tunduk atas kemauan partai. Partai sebagai kenderaan pengantar, akhirnya terjebak ikut mengatur. Padahal saat kadernya sampai kepada tempat yg dituju, maka ybs bebas menentukan keputusan yg akan membawa konsekuensi kepada dirinya.

Apa PDIP mau kalau Juliari Batubara yg nyolong bansos juga kita sebut petugas partai yg disuruh nyolong, dan Harun Masiku adalah petugas partai yg diminta melarikan diri dgn kasus yg serius.

Kasus lainnya adalah berderet politisi yg jadi pencuri. Terakhir Aziz Syamsudin yg sudah bercokol lama dgn kelakuan busuknya, baru skrg bisa di gelandang.

Terus apa yg kita dapat dari partai. Kalau sekarang BUMN bisa untung triliunan, Pertamina menjadi penyumbang kas negara ini semua karena Jokowi menempatkan orang yg berintegritas yg sejenis dgn nya.

Sebelumnya BUMN jadi sapi perah partai. Bahkan komisi 9 DPR RI yg membidangi anggaran adalah komisi basah yg memeras APBN dan APBD untuk isi perutnya Dewe dan setoran ke partai.

Dari kondisi diatas, begitu gilanya mereka merusak Indonesia. Semua lini yg ada duitnya dijadikan sapi perah. Sementara kinerjanya buat Indonesia nyaris nyampah.

Lihat saja saat ini dimana Jokowi hadir sebagai penyelamat Indonesia yg nyata dan kita berharap bisa melanjutkan pemerintahannya agar bisa menjaga kinerja sampai ada pengganti yg memadai, partai yg ada menjadi buta tuli.

PDIP misalnya, andai mereka berhati Pancasila dan berbangsa Indonesia, maka merekalah yg bergerak melobi bagaimana agar bisa mengamandemen dan Jokowi bisa melanjutkan minimal 1x lagi. Bukan malah cakar²an internal membiarkan benturan Ganjar – Puan, pakai senjata Pacul tumpul.

Pondasi lepas landas Indonesia sudah dan sedang disiapkan Jokowi, penerusnya harus yg berkemampuan, bukan kelas Puan. Bukan juga Airlangga, Anis, PS, yg hanya kuat beretorika.

Indonesia akan masuk sebagai negara maju dgn kekuatan ekonomi no 5 di dunia mulai tahun 2035, kita butuh pemimpin cerdas, berintegritas, bukan kelas biasa yg hidup pada budaya partai lama apalagi hanya bermodal ketum partai, atau keturunannya.

Indonesia butuh paradigma baru, termasuk memikirkan apakah model partai yg ada akan dibiarkan. Semestinya kita bisa saweran buat partai baru, 85 juta pendukung Jokowi saweran Rp. 10.000 saja kita punya dana 85 m utk memulainya. Lahirkan partai baru, Partai Indonesia Baru. Agar bisa menenggelamkan partai lama yg hadir sebagai benalu saja.

Dengan Partai Indonesia Baru, dgn paradigma baru, berlandaskan pemikiran memilih pemimpin yg mampu diluar partai.

Sekarang saja kalau partai mau, banyak calon yg lebih mampu. Ada Sri Mulyani, Ahok, Erik Thohir, dll. Jangan cuma muter calonnya PS yg sudah berkali2 nyapres gak laku, kalaupun ada tambahan baru kelas pacul yg muncul. Mau gantiin Jokowi ya jauh panggang dari api. Yang ada cuma bau asap, sangit !!.hasilnya bukan Indonesia maju, tapi Indonesia malu !

Mari kita kawal Jokowi menyelesaikan tugas sambil mengelus jago, karena hanya dia yg mampu untuk tau siapa orang yg bermutu membuat Indonesia maju.

Jangan yg pura² ngopi bareng, tapi mengancam kelangsungan. Karena sejujurnya kebanyakan mereka mengincar tengkuk Indonesia untuk di mangsa. Mana pernah ada Singa berkawan dgn Jebra.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed