by

Bagaimana Artis Lokal Membunuh Budayanya Sendiri

Oleh : Tua Kolo

Minuman hasil distilasi mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat di banyak tempat di Indonesia Timur. Sebutannya beragam, sopi, moke, arak, tuanakaf, dll. Lebih dari sekadar minuman, sopi, moke, dll ini digunakan dalam setiap upacara dan tidak bisa dipisahkan dalam setiap ritual. Ia adalah pintu masuk yang mempertemukan manusia, yang masih hidup, dengan leluhurnya, yang telah punya tempat berbeda. Jika kau hidup di Insana, sebagai contoh, saat kau lahir, lewat upacara tapoin-anah, orang-orang menuang sopi ke tanah, memberitahu leluhur, bahwa cucu mereka telah lahir. Memastikan bahwa leluhur akan selalu menjaga engkau, di mana pun engkau berada, ke manapun kau mengembara. Sampai saat kau mati pun, lewat ritual seperti tutu’ kubi, juga tahat-tol, orang-orang membawa sopi dan minum bersama leluhur, untuk memberitahu leluhur bahwa kau akan segera bergabung dengan mereka.

Setiap kali orang minum sopi, ia minum bersama leluhur. Namun nilai sopi yang luhur ini, seperti halnya produk kebudayaan tradisional yang lain, kena gerus oleh manusia yang tidak tradisional. Orang beragama menganggapnya sebagai produk iblis yang harus dijauhi. UU negara melihatnya sebagai minuman beralkohol yang bernilai negatif. Bahkan orang modern yang mengkonsumsinya sering hanya melihat sopi sebatas minuman rekreatif, minuman yang membuat rileks, menurunkan nilainya hanya sebagai minuman persaudaraan antar-manusia. Bahkan, para artis lokal Indonesia Timur sendiri, orang-orang yang diharapkan bisa menjadi — dalam tanda kutip — “duta budaya”, kerap salah menyebut nilai dari sopi Timor.

Bisa dilihat bahwa karya mereka minim riset, mungkin juga hanya berangkat dari dan menuju keinginan menjadi artis dan youtuber, kerap menempatkan karya mereka dalam jalur estetika tiktok agar bisa diterima dan menjadi viral.Ada banyak lagu karya anak timur hari ini yang mengerdilkan nilai sopi, produk kebudayaan mereka sendiri. Anda bisa melihat sendiri di youtube – saya punya beberapa contoh.

Contoh yang pertama adalah lagu daerah Atoin Meto, yang menceritakan sopi sebagai media berpamitan dalam keluarga. Miun mana botel mese, etum mak hem nao, Kunyadu. Baru satu botol kita minum, kau sudah buru-buru ingin pergi, Kunyadu. Tetapi lagu dengan syair yang puitis itu diambil oleh para penyanyi pesta, dan liriknya diubah menjadi: Baru satu botol kita minum, kau telah muntah-muntah. Bukan perpisahan, bukan eratnya kekeluargaan yang dipotret, tetapi orang mabuk bodok muntah-muntah yang dinyanyikan atau dirayakan, dijadikan musik pesta. Sangat jauh dari nilai budaya.

Contoh lain adalah lagu yang lagi trend berjudul Sopi Kapala. Ia menceritakan tentang laki-laki yang galau karena cinta, yang karena itu memilih untuk “kasih masuk” sopi kapala ke perutnya, “biar hati tra sakit”. Ia menjadikan sopi sebagai pelarian, sesuatu yang secara adat, adalah penyalahgunaan sopi, hanya dilakukan oleh orang timur yang lemah.Tidak hanya itu, ia membandingkan sopi dengan minuman beralkohol lain. Ia bernyanyi: “Bukan Vodka Iceland, bukan Anggur Merah, beta hanya mampu Sopi Kapala…”“Hanya mampu sopi Kapala”. Ia menempatkan sopi kapala di bawah dua jenis minuman lain, ia bahkan menyebut merk: Vodka Iseland dan Anggur Merah. Saya tidak tahu nilai macam apa yang membuat Vodka Iseland lebih tinggi daripada nilai Sopi Kapala.

Apakah yang dimaksud adalah harga? Vodka Iceland ukuran 750ml kira-kira seharga 175.000. Ia tidak tahu bahwa ada sopi kapala double distilled, ukuran lebih sedikit 620ml, yang harganya 200.000. Gubernur kami bahkan memproduksi sopi yang harganya 1.000.000. Apakah kualitas? Pencipta lagu ini tidak punya pengetahuan apa-apa tentang minuman beralkohol, tidak riset apa-apa sebelum bikin karya, dilihat dari usahanya untuk membandingkan tiga jenis minuman yang jelas-jelas berbeda jenis dan prosesnya: triple distilled vodka, malolactic fermentation, dan pot-wooden still.. kualitas macam apa yang mau dibandingkan dari ketiga hal berbeda itu?

Dan, di atas itu semua, bicara tentang nilai luhur sopi, aneh jika kita bicara tentang harga, bukan? Murah atau mahal, di depan tiang utama rumah adat, sopi adalah media yang mempertemukan kita dengan leluhur. Vodka dan wine tidak kita pakai dalam rumah adat, bahkan jika itu Absolut Crystal seharga 15 juta, atau wine dari Henry Jayer seharga 200-an juta per botol. Hanya sopi yang kita pakai. Turun dan temurun — kita minum apa yang pernah leluhur minum, kita ucapkan doa yang sama, kita hidup bersama, meski di tempat yang berbeda. Sudah banyak orang yang melihat sopi hanya sebagai hal negatif yang mendatangkan keburukan. Banyak yang belum tahu, bahwa minuman itu adalah media kita untuk berdoa, kita pakai dalam ritual kepercayaan adat/agama asli kita.

Pekerjaan rumah kita adalah memberitahu orang di luar Indonesia timur bahwa sopi adalah pintu pertemuan kami dengan leluhur, sopi adalah sesuatu yang luhur. Jadi, bagi para pencipta lagu, musisi atau seniman lain, jika tidak bisa membuat lagu atau karya yang mengedukasi masyarakat Indonesia tentang nilai luhur sopi, tidak bisa mengedukasi masyarakat timur dan anak-anak muda untuk minum secara bertanggung jawab minum bukan untuk mabuk, setidaknya jangan mengerdilkan nilai sopi lewat karya. Buat lagu tentang hal lain saja. Dan kalau galau ya kasih masuk apa begitu, baygon kek… Supaya tidak buat lagu sambil mabuk, dan tanpa riset bikin seolah-olah sopi ini barang murahan.

Sumber : Status Facebook Tua Kolo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed