by

Bukan SBY, Bukan Pula Jokowi, Ini Tentang Indonesia

Oleh : Karto Bugel

Ini bukan tentang pak Beye lebih baik atau lebih buruk dibanding pak Jokowi. Dua periode pak Beye tak perlu disandingkan dengan niat mencari siapa lebih unggul dibanding 7 tahun pak Jokowi. Ini adalah logis cerita berdasar data demi kita tak disrupsi.”Dari sisi mana pak Jokowi bisa lebih unggul dibanding pak SBY?” Ketika anak ngambek, orang tua tau apa yang paling mudah membuat anak tersebut balik normal. Bila masih kecil, permen atau jajanan sudah cukup. Bila remaja, beliin kuota bisa jadi adalah solusi.

Pacar ngambek, ini agak rumit. Jangan pernah tawari permen apalagi kuota, ribet nanti urusannya. Lebih rumit lagi mereka yang marah pada Jokowi. Dikasih permen dan kuota mereka terima tapi masih tetap ngamuk. Kita tidak pernah bisa mengerti atas hal apa mereka menjadi marah. Tak ada logis dapat dicari kecuali jawabannya adalah mereka tak suka.Mereka protes bahwa hidup mereka makin sulit pada jaman Jokowi. Benarkah? Biasanya, orang yang susah hidupnya adalah mereka yang tak mampu beli beras. Adakah harga beras terlalu mahal pada jaman Jokowi sehingga banyak orang kelaparan misalnya?

Harga beras hari ini adalah antara 9.000 hingga 11.000 rupiah. Tujuh tahun yang lalu saat awal Jokowi menjabat Presiden, harga beras juga setara dengan itu. Artinya bila ada kenaikan, itu sangat kecil. Bandingkan dengan era SBY. Pada 2004 harga gabah kering berdasarkan 651 observasi gabah berbagai jenis di 14 propinsi pada Juni 2004 harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 847,23 per kilogram yang ditemukan di Bali dan harga tertinggi sebesar Rp 1.750 per kilogram di Kalimantan Tengah. Harga beras berada pada kisaran 3.000 rupiah per kilogram dan dalam 10 tahun naik menjadi 10.000 rupiah. Ini berarti naik 330% kan? Koq gak ada yang marah? Itu dari sisi beras.

Sekarang lauknya. Harga daging sapi pada 2004 adalah 38.000 rupiah per kilogram dan 10 tahun kemudian naik menjadi 95.000 rupiah. Ada kenaikan setara dengan 250%. Hari ini harga daging sapi adalah 125.000 per kilogram. Dibanding dengan tahun 2014 yang lalu atau 7 tahun setelah pria kurus itu duduk sebagai Presiden, kenaikan yang terjadi adalah 31%. Koq yang dibilang nyusahin rakyat masih Jokowi? Pada 2004 harga premium adalah 1.800 rupiah per liter dan di akhir pemerintahan SBY pada 2014 harga itu telah menjadi 6.000 rupiah per liter. Ada kenaikan hingga 330% bukan? Saat ini harga premium berada pada 6.450 rupiah per liter. Ada kenaikan 450 rupiah per liter atau kurang dari 7% saja.”Hutang negara hingga lebih dari 6000 triliun ga dibitung po? SBY ga segila itu ambil hutangnya tahu?” Hutang Indonesia pada akhir tahun 2004 adalah 68.57 miliar dollar.

Pada akhir pemerintahan pak Beye, hutang kita telah menjadi 292 miliar dollar. Ada kenaikan 425% lebih dong? Bila selama 7 tahun Jokowi memerintah, hutang Indonesia telah meningkat menjadi 415 miliar dollar, artinya Jokowi pun benar telah menambah hutang. Besarannya adalah 143% dari peninggalan pak Beye yang berjumlah 292 miliar dollar. Pun pada kurs rupiah. Pada 2004 kurs kita terhadap dollar AS adalah 9.100 dan pada akhir 2014 telah menjadi 12.200 di mana itu berarti bahwa rupiah telah mengalami penurunan nilai sebesar lebih dari 35% hanya dalam waktu 10 tahun.

Pada saat ini, kurs mata uang AS itu berada pada posisi 14.488 rupiah per dollar. Artinya sejak tahun 2014 juga ada penurunan nilai tukar, namun hanya sebesar 17%. Sementara, bila itu dikaitkan dengan nilai penghasilan yang diterima oleh warga negara, pada 2014, UMR DKI adalah 2,2 juta rupiah dan tahun 2021 ini naik menjadi 4.4 juta. Artinya penghasilan rakyat selama 7 tahun Jokowi menjadi Presiden, naik 100%. Namun harga beras, daging hingga BBM pada nilai kenaikan rata-ratanya ternyata tak sampai pada 15%. Seharusnya bukan makin miskin dong? Sementara pada SBY UMR DKI tahun 2004 sebesar 671.550 dan 10 tahun kemudian naik menjadi 2.2 juta rupiah per bulan. Di sana ada kenaikan sebesar 330%. Namun harga beras, daging hingga BBM ternyata juga naik dengan presentasi rata-rata lebih dari 300%. Ini bukan data diinput dan dibuat demi melihat siapa lebih baik dibanding siapa. Ini hanya data kita gelar demi tak bias perdebatan yang tidak perlu.

Ini belum bicara tentang berapa penambahan hutang ketika dibandingkan dengan berapa banyak waduk dibuat, jalan dibentangkan, bandara digelar dan lain-lain dan lain-lain. Ini nanti akan terlihat seolah menjadi sindiran tak netral. Dan Tuhan tidak suka itu… 🙄 Disrupsi atau kebingungan kita dalam berbangsa dan bernegara kali ini ternyata tak terkait dengan hasil kerja presiden SBY lebih baik atau lebih buruk dari Presiden Jokowi. Disrupsi kita ternyata adalah tentang like dan dislike. Kita memang sengaja dibuat saling tak suka pada sesama warga negara agar jalannya pembangunan negara ini terhalang. Di sana, para peniup bara dan sekam berharap api muncul dan kita saling membakar. Itu tidak kita butuhkan. Itu hanya akan membuat kita (bukan saya) prihatin… 😉..RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed