by

Bahaya Mesolevel

Oleh : Alim

Kalau nggak tau, tidak pernah intelectual exercise lalu ngeyel, itu ya wajar. Atau sebaliknya, malah manut sekalian sami’na wa atho’naa, juga wajar.Yang repot itu mesolevel yang baru belajar bidang baru, tahu permukaan, baru ngerti 3%, tapi mencoba analisis ndakik². Kalau ditambah dengan ego dan identitas sebagai “intelektual” di bidang lain yang digeluti sebelumnya, biasanya ini yang membahayakan banyak orang.

Mesolevel tapi punya kecenderungan memposisikan diri sebagai highlevel. Habis gitu kampanye pendapatnya di medsos, padahal keliru.Mesolevel yang baik adalah yang saat belajar bidang lain itu mau “mengosongkan gelasnya”, belajar pelan², belajar tanpa tendensi dulu, dan melengkapi ilmu² dasar. Itupun tidak boleh punya sifat buru² pengen ambil kesimpulan seperti halnya para ahli. Ada contohnya, baru dengar soal Hiperbarik udah langsung ambil kesimpulan sambil mengampanyekan hiperbarik ke mana² sembari menyalahkan ventilator.

Padahal pegang alatnyapun belum pernah. (Saya bukan anti hiperbarik, wong saya sedikit belajar mengenai itu. Ini soal cara bersikap dalam mencari ilmu). Tantangan bagi para mesolevel adalah mencari guru dan referensi yang benar. Niatnya mungkin oke, tapi pengennya guru alternatif yang beda dengan jumhur. Ya itu sudah tendensius namanya. Jadi kalau ada pertentangan ide antar “para ahli”, lalu bingung memilih guru/referensi, ikuti saja jumhur.

Kalau bidang kedokteran ya organisasi² profesi. Di situ ijtihadnya jama’i. Sebagai contoh, kalau ingin belajar mengenai virus, belajar penangan pasien, belajar penanganan krisis kesehatan (pandemi, bencana), ambil referensi dari organisasi² profesi seperti IDI, IAKMI, PAPDI, PERKI, IDAI. Kalau mau ambil dari dokter hewan, ada PDHI. Di situ berkumpul orang² yang diakui kepakarannya oleh peer group dan melakukan ijtihad jama’i. Kalau belajar ke person², apalagi ahli² “alternatif”, potensi kesalahan subyektivitasnya tinggi. Saya pikir ini berlaku dalam semua bidang, bukan hanya soal urusan ilmu kesehatan, kebencanaan dan pandemi.

Sumber : Status Facebook Alim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed