by

Presiden yang Mendengar

Oleh: Tomi Lebang

Foto ini sekadar ilustrasi, seolah-olah saya tengah berdebat dengan Presiden. Saat itu, masa sebelum pandemi, Pak Jokowi tiba-tiba muncul lalu saya yang berkemeja bukan batik lengan panjang sedikit jengah. Tapi beliau biasa saja.

Bertemu Presiden Jokowi, siap-siaplah untuk banyak berbicara, karena ia akan lebih banyak mendengar. 

Seperti hari ini, ia mengundang Suroto, seorang peternak ayam petelur dari Blitar ke istana. Suroto jadi berita karena sempat ditangkap oleh polisi gara-gara poster yang dibentangkannya saat iring-iringan Presiden melintas. Isi posternya adalah keluhan tentang harga jagung yang tinggi sementara harga telur ayam begitu murah. 

Pak Jokowi tak melihatnya langsung, tapi ia membaca peristiwa kecil itu. Dan jadilah Suroto ke istana. Ia diundang oleh Presiden untuk didengarkan. 

Dan Jokowi memang seorang pendengar yang baik. Ia bisa bertanya apa saja, dan tekun mendengarkan. Jika menarik, bisa berjam-jam. 

Kalau kepada saya yang bukan siapa-siapa, kepada Suroto yang peternak ayam, Jokowi masih mau bertanya dan mendengar, bagaimana pula ke mereka yang bukan orang biasa? Para tokoh, penasehat agung, intelektual? 

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa kali menyampaikan pengalamannya selama lima tahun mendampingi sang Presiden. Di matanya, Jokowi jauh dari otoriter. Jokowi selalu mau mendengar banyak pihak sebelum mengambil keputusan. “Karena itulah, Pak Jokowi terlalu sering rapat. Kami bisa rapat 200 kali dalam setahun,” kata JK. 

Jokowi pendengar yang tekun. Ia menyimak pendapat orang-orang, dari kalangan mana saja, yang menyukai atau tidak menyukainya. 

Ia mendengar pendapat, keluhan, sampai teriakan. Ia mengikuti perbincangan di media, kasak-kusuk media sosial, forum-forum yang ramai. Dan tentu dari TOA-TOA jalanan. 

Ia mendengar pengemudi truk yang kerap dipalak di pelabuhan, menyimak perdebatan soal vaksin mandiri, keriuhan soal aturan beternak babi di empat provinsi, dan sebagainya. 

Tapi ia juga seorang yang teguh dan percaya kepada prinsip dan intuisinya sendiri. Ia bisa memilah masukan yang tulus, yang ditumpangi kepentingan tertentu, saran yang menjerumuskan, usulan yang cari muka.  

Karena itulah keputusan yang diambilnya selalu disambut dengan beragam pula. Ada yang suka, tak kurang yang tidak. Ada yang diuntungkan, banyak juga yang dirugikan. Ada yang menggembirakan, terselip pula yang mengecewakan. Ada yang tuntas saat itu juga, ada yang menjadi janji yang tak mungkin langsung selesai.

Jadi, saya pun tak jadi besar kepala ketika Jokowi mendengarkan kata-kata saya dalam sebuah pertemuan yang kebetulan tadi. Karena ia memang senang bertanya, tekun menyimak, dan mau mendengar. 

Jika keputusan yang diambilnya tak sepenuhnya kita senangi, itulah tabiat kekuasaan. Tak mungkin menyenangkan semua orang. 

(Sumber: Facebook Tomi Lebang)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed