by

Alasan Jokowi Ngotot Bangun Infrastruktur

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kemarin Pak Jokowi mengatakan bahwa 5 tahun pertama pemerintahannya fokus membangun infrastruktur. Infrastruktur menjadi modal utama pembangunan aspek lain. Tanpa infrastruktur memadai, akan susah mengembangkan ekonomi, pendidikan, kesehatan. Pada masa pemerintahan kedua sebenarnya beliau ingin switch ke pembangunan SDM. Dana akan dialihkan untuk membangun SDM.

Tapi lalu ada badai pandemi covid. Nampaknya juga Pak Jokowi kesulitan mendefinisikan pembangunan SDM akan dimulai darimana. Kalau mengembangkan skill dan kemampuan literasi ya akan dimulai dari sekolah-sekolah, kampus, lembaga pendidikan. Tetapi mengubah karakter manusia? Ini yang sulit. Membangun infrastruktur jauh lebih mudah karena kebanyakan berhubungan dengan fisik, hasilnya mudah dilihat. Tetapi mengubah karakter manusia, merevolusi mental orang, sungguh hal yang sangat mendasar dan sulit.

Jepang bangkit dan berubah menjadi bangsa santun, bersih berawal ketika akan menjadi tuan rumah Olimpiade 1964. Budaya jujur, bersih, disiplin makin terbangun untuk ditunjukkan pada dunia, ini ciri khas bangsa kami. Sebelumnya tentu sudah ada nilai-nilai itu. Tapi sejarah penjajahan Jepang di Asia pada tahun2 1940an menunjukkan tindakan dan sikap brutal para prajuritnya. Kini polisi Jepang pun terlalu sopan bagi orang Indonesia jika akan menilang pelanggar lalu lintas. Mengapa bisa begitu? Karakter tidak dibangun dengan uang tapi sering malah dibangun melalui latihan kesulitan.

Anak-anak yang biasa dididik dalam keterbatasan sering menjadi anak yang tangguh, ulet. Tapi yang dimanjakan dengan uang dan kemudahan justru tidak tahan banting dan sulit menjadi manusia mandiri. Para pelaku diet atau puasa juga memperlakukan badannya sedikit menderita agar badannya sehat, bukan diberi makan sekenyang-kenyangnya. Orang puasa intermittent (mengatur jadwal makan dan tidak makan) juga melatih tubuh untuk terbiasa tidak disuapi makanan selama sekian jam. Orang yang menjalani puasa air (water fasting) juga hanya minum tanpa makan selama 24, 48 atau 72 jam.

Tujuannya menghidup sel-sel baru dan mengganti sel-sel yang sudah usang. Badan ditreatment dengan ‘kesusahan’ agar bekerja keras dan awet muda.Membangun SDM tidak semata-mata memberi fasilitas yang bagus untuk berkembang tapi juga perlu diberi tantangan sehingga akan menjadi manusia yang tangguh, pekerja keras, kreatif. Jadi saya ikut berpikir kira-kira membangun SDM itu yang seperti apa? Apa akan mengirim sebanyak mungkin anak-anak untuk kuliah keluar negeri? membangun sekolah dan fasilitas internet? ( kalau ini ya lagi2 membangun infrastruktur).

Kadang infrastruktur sudah tersedia bagus tapi justru yang ada adalah generasi yang malas membaca, malas mencari, kurang kritis, ingin serba instant tanpa banyak usaha. Apakah membangun banyak tempat ibadah? Ini juga sudah banyak , tapi tidak memapu mengubah karakter.Kementerian yang diberi banyak dana juga belum tentu mampu memanfaatkan secara efektif. Bisa jadi malah menciptakan program-program yang asal menyerap anggaran tanpa output yang terukur.

Membangun SDM menurut saya, selain membangun skill, adalah membangun keteladanan, membangun kejujuran, kerja keras. Tidak perlu dana, hanya perlu kerja keras dan konsistensi. Jer basuki mawa bea, kata orang Jawa. Keberhasilan selalu butuh biaya. Biaya bisa berupa usaha/kerja keras dari badan, pikiran dan tenaga kita. Ini yang lebih sulit. Mengapa orang kita sering lebih suka berobat ke Singapura? Bukan karena fasilitasnya, tetapi layanannya. Inilah indikator SDM bermutu.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed