by

Argumentasi, Biasanya Melandaskan Latar Belakangnya

Oleh : Agung Wibawanto

Pernah mengikuti rapat RT, di mana dalam forum tersebut biasanya terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Ada dari kalangan praktisi, akademisi ataupun birokrat, membahas masalah di lingkungan. Atau tonton saja Program Talk Show ILC yang dipandu Karni Ilyas. Coba amati, bagaimana suasananya? Rame, ribet, muter-muter, jadi debat kusir atau seperti apa? Perhatikan pula saat ada kerja bakti di lingkungan kita, mengatasi got yang mampet, misalnya. Bagaimana proses pelaksanaannya?

Atau pengalaman lain saat rapat perumusan dan pembuatan tata tertib RT/RW. Siapa yang menjadi dominan? Dari pengalaman beberapa aktivitas tersebut bisa disimpulkan setiap orang biasanya akan merepresentasikan “background” lingkungan profesinya. Menjadi tidak heran jika di setiap diskusi dengan latar belakang profesi berbeda selalu berlangsung alot. Bagaimana praktisi yang berbasis praktik dan pengalaman di lapangan berdebat dengan akademisi yang berbasis teori akademik, serta birokrat yang berbasis normatif regulasi (hukum prosedural).

Pada faktanya, ketiga basis pengetahuan tersebut memang dibutuhkan, namun mana yang lebih utama dalam sebuah wacana? Hal ini kerap menjadi perdebatan jika masing-masing pihak mengklaim lebih penting dalam sebuah diskusi. Jawabannya: Teori Akademik. Mengapa? Karena hanya diskusi. Jika sebatas diskusi maka lebih diutamakan narasi/teori. Sebuah ide gagasan yang kemudian diwacanakan memang biasanya membutuhkan asumsi berdasar pada teori. Berbeda dengan implementasi. Sejuta teori tidak menghasilkan apa-apa tanpa eksekusi atau praktik lapangan. Akademisi cenderung membuat modul untuk menjadi model, sementara praktisi berdasar pada model untuk dijadikan modul.

Sedangkan birokrat, tidak terlalu paham (atau tidak mau tahu) soal modul dan model, sepanjang sesuai dengan peraturan/prosedur yang ada. Hanya saja terkadang peraturan juga dibuat bukan untuk mengatur melainkan untuk “daya tawar” sehingga mudah diperdagangkan. Belum lagi jika ketambahan alim ulama, ustadz, habaib, pendeta, biksu, terutama yang kerap membahas soal keyakinan berdasar kitab suci masing-masing. Meski mereka juga kerap bahas soal kehidupan bermasyarakat hingga persoalan-persoalan di sekitar namun tetap menggunakan pendekatan teologi. Maka, marilah kita sedikit berpikir terbuka, bahwa mereka mungkin bisa jadi dianggap cerdas dan bijak ketika berada di lingkungannya masing-masing.

Akademisi di kampus, praktisi di lapangan, birokrat di instansi pemerintah dan agamawan di tempat ibadah atau jamaahnya masing-masing. Jadi, kalau kita melihat atau mendengar sebuah perdebatan, maka tidak perlu kaget. Lihat saja apa latarbelakang mereka masing-masing? Ada pula yang ‘saljur’ (salah jurusan), tugas dan kapasitasnya apa tapi membahasnya apa. Apapun sekarang sering didebatkan, yang kadang celakanya kita tidak tahu substansi debatnya, sekadar berisik. Atau sudah begitu, masing-masing ngotot merasa paling benar. Kategori profesi yang empat tadi juga sudah mulai tidak berlaku. Pengelompokannya terjadi karena berbeda dukungan politik. Tidak peduli sama profesinya, jika berbeda arah dukungannya maka bisa berbeda omongnya. Selain itu, ada pula faktor eksistensialis di mana setiap orang ingin diakui keberadaannya, termasuk pendapatnya.

Lantas apa faedah dari debat? Adakah solusi yang dihasilkan? Debat yang benar tujuannya agar masalah semakin runcing, dalam artian mengerucut sehingga ditemukan akar masalah yang sesungguhnya itu apa (substansi). Untuk itu sebetulnya jangan pernah anti memperuncing masalah, sepanjang ia paham tujuan dari debat itu apa, dan tidak boleh baperan apalagi pakai lama.———————————

Caption: Debat juga bisa karena salah paham lho. Ya, biasa seperti kita kalau di chatingan. Orang bercanda dibilang serius, orang serius dibilang marah, orang marah dibilang bercanda… 😂😂😂

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed