by

Anies Merajut Jubah Kekuasaan

Oleh: Eko Kuntadhi

Dalam soal ngepot, tidak ada yang lebih jago dibanding Anies Baswedan. Makanya ia memaksakan menggelar Formula E, meski borosnya minta ampun dan gak punya dampak ekonomi bagi rakyat. 

Yang penting bisa ngepot. 

Demikian juga cara berpolitiknya. Kita tahu, Anies naik tahta di DKI dengan mempolitisasi habis-habisan simbol agama. Jakarta mau meledak saat itu. 

Mayat dan ayat dijadikan senjata. Anies, saat itu, seperti membiarkan kebencian pada suku dan agama lain dipolitisir. 

Bahkan saat dipato pertamanya ia menekankan isu pribumi. Seolah ingin kembali menghidupkan segregasi Pribumi dan Nonpribumi di Indonesia. Sebuah stigma yang merobek bangsa ini. 

Anies memuji FPI. Menunjukan persahabatan dengan Rizieq yang begitu mendalam. Dan kita tahu, FPI di Jakarta adalah biangnya intoleransi. 

Tapi pada kali lain ia bisa nyelonong ke Vihara. Menyalahkan hio. Seperti seorang penganut Kong Hu Cu sejati. 

Padahal baru saja ia ikut memanasi suasana di Taman Meruya. Ketika ada fasilitas umum berupa ruang terbuka hijau yang mau didirikan masjid. 

Sebagian warga komplek perumahan protes. Bukan karena berdiri masjid. Tetapi bangunan itu didirikan di lokasi taman terbuka. Sementara di kompleks itu sudah ada masjid lain. 

Isu soal masjid ini sensitif. Sebab sebagian warga di kompleks perumahan itu berdarah Tionghoa. Dan ketika isunya naik ke permukaan, Anies sengaja datang ke lokasi. Numpang sholat di masjid yang bersengketa. 

Ia seperti menyiramkan bensin pada percikan api. 

Anies dulu pernah menulis soal tenun kebangsaan. Saat kita membacanya, kita membayangkan penulisnya adalah seorang pejuang toleansi sejati. Pejuang keberagaman. 

Tapi ia juga yang menjadi tokoh politik yang naik tahta dengan cara mengoyak-ngoyak tenun kebangsaan itu. Ia berselancar di atas isu agama dan ras. Ia tahu, residu politisasi agama akan terus menjadi bim waktu. 

Tapi ia gak terlalu peduli. Sebab ia memang hobi ngepot. 

Mungkin bukan ngepot. Tapi cepat berganti kulit. 

Ia bisa membakar emosi konflik berbasis agama di pagi hari. Dan sore harinya ceramah soal keberagaman dan kebhinekaan. 

Ia bisa berwajah FPI. Bisa juga berwajah paling plural. Semua dilakukan asal memberi manfaat politik untuk dirinya. 

Jadi jika kemarin Anies bersetuju dengan cacian terhadap etnis Tionghoa. Lalu hari ini ia menyalahkan hio di sebuah Klenteng. Kita gak usah kaget. 

Anies memang hobi ngepot. Dimana ada celah politik. Disitu ia ngepot dan bermanuver. 

Mungkin inilah jenis yang disebut political animal. 

Dan dari orang seperti ini. Kita cuma akan dapat residu konflik dan perpecahan. Boro-boro merajut tenun kebangsaan. Benangnya saja sudah dibuat kusut sebelum dirajut. 

“Mungkin ia hanya mau merajut jubah kekuasaan untuk dirinya, mas, ” ujar Abu Kumkum. 

Setojoo..

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed