by

Gagapnya Anies Memaknai Keberagaman

Oleh : Sobar Harahap

Ada sebuah tradisi yang sudah diyakini secara turun temurun bahwa di bulan Suro masyarakat di Jawa tidak dianjurkan menggelar pesta, termasuk pesta resepsi pernikahan. Kepercayaan ini telah mengakar kuat, mungkin telah menyatu bersama denyut nadi.

Beragam cerita mengiringi pelarangan itu. Bukan berarti mereka mempercayai tahayul ataupun hal-hal mistis, namun ini adalah sikap penghargaan terhadap tradisi dan adat yang dititahkan para leluhur.

Bahkan jika kita pahami seksama, para leluhur punya alasan kuat sampai akhirnya sebuah tradisi dilahirkan. Baik itu alasan dari segi keagamaan, maupun sisi kearifan lokal.

Dalam literasi islam misalnya juga diceritakan, bulan Assuro adalah kesedihan bagi seluruh umat muslim karena di bulan itu cucu baginda Nabi Muhammad, Husein dibunuh secara biadab dengan dipenggal kepalanya.

Para pendahu kita pun kemudian menghormati peristiwa tragis itu dengan tidak bersenang-senang. Mereka merasa tak elok jika peristiwa pilu itu diisi dengan pesta.

Dari sisi kearifan lokal, Suro jadi bulan sangat sakral bagi masyarakat Jawa. Sama halnya dengan penanggalan hijriah, bagi orang Jawa Suro jadi bulan perdana dalam satu tahun.

Pada bulan itu orang dianjurkan untuk introspeksi diri. Caranya berbagai macam, mulai dari melakukan perjalanan maupun samadi. Tidak heran jika di bulan pembuka tahun itu banyak orang yang melakukan ritual sebagai penguat perjalanan dan samadi. Maka tidak ada orang senang-senang, hura-hura maupun pesta di bulan Suro.

Namun rupanya ada pejabat yang tidak mempedulikan tradisi itu, dan justru mengadakan pesta untuk pernikahan putrinya. Seakan ia sedang mengolok-olok keyakinan masyarakat tertentu yang sudah dijaga dan dirawat baik-baik selama berabad-abad. Dia adalah Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Bagi Anies tradisi semacam itu mungkin dipandang kuno dan kolot. Bahkan mungkin pula dia menganggap tradisi itu sebagai laku syirik. Namun ia lupa bahwa Indonesia adalah wajah keberagaman. Tradisi tumbuh dan berkembang di mana-mana dengan nilai dan kepercayaannya masing-masing.

Tentu wajar jika kemudian saya mencurigai kapasitas toleransi seorang Anies Baswedan. Jika diukur dengan satuan jarak, mungkin kapasitas itu hanya sejauh perjalanan antara kamar mandi dan dapur.

Pemimpin yang baik saya kira tidak akan melupakan akarnya. Ia tidak mencabut tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun hanya karena silau akan gemerlapnya modernitas. Ia tidak pula akan mencabut diri dari tradisi leluhurnya.

Amerika adalah negara maju. Teknologi dan sains berkembang pesat. Namun mereka masih mempertahankan tradisi malam orang kudus atau Halloween. Bahkan peringatan Hallowen disebut-sebut sebagai hari libur paling meriah nomer dua setelah natal.

Di malam itu arwah-arwah orang mati diyakini akan turun ke bumi dan merusak lingkungan. Agar tak diganggu, para penduduk setempat pun mengenakan kostum hantu, dan meletakkan sesajen di depan pintu rumah. Dari sana muncullah trick or treat, sebuah tradisi bagi-bagi permen atau kue yang selalu mewarnai perayaan Halloween.

Banyak pemimpin besar yang tidak ingin melewatkan tradisi ini. Sebut saja misalnya Barack Obama. Pada malam hari pada 31 Oktober, ia dan istrinya akan open house dan mengundang ribuan anak datang ke gedung putih untuk dibagikan permen. Tak hanya itu, dekorasi menyeramkan juga menghiasi tiap sudut ruangan.

Kita di Indonesia pun sebetulnya juga punya tradisi yang tidak kalah serunya, yakni Malam Satu Suro. Selain sarat aroma mistis, Halloween dan Satu Suro juga sama-sama diikat dalam satu simpul bernama kebudayaan.

Berbagai perayaan digelar di penjuru tanah air untuk memperingati tahun baru penanggalan Jawa ini. Mulai dari doa dan makan bersama, kirab pusaka, pameran gunungan hasil bumi, hingga larung sesajen ke tengah laut bagi penduduk di kawasan pesisir yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.

Bagi Anies mungkin saja itu hanya aktivitas yang tak ada gunanya dan membuang-buang energi. Tak sesuai syariat atau apalah. Padahal bisa jadi karena kebuntuannya sendiri yang tidak bisa menjangkau kearifan dan pengetahuan leluhur negeri ini.

Pada akhirnya saya hanya bisa berucap, menghargai tradisi dan keberagaman negeri ini saja masih keteteran, lha kok malah bermimpi jadi presiden. Tapi nggak kaget juga sih, ayat dan mayat saja dia jadikan bahan kampanye. Hmmmm..

Sumber : Status Facebook Sobar Harahap

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

News Feed