by

Akar Radikalisme

Oleh : Muhammad Ilham Fadli

Ketika bicara tentang akar radikalisme dalam sejarah Indonesia, banyak di antara kawan-kawan diskusi saya yang menunjuk gerakan Paderi sebagai (salah satu) “embrio”nya. Entitas fakta historis. Ketika diskusi masalah nasionalisme serta “langgam” politik mainstream Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir, banyak sahabat-sahabat saya yang “menunjuk” PRRI sebagai bentuk “pembangkangan” yang genealogis historisnya masih terasa bila dihadap-hadapkan dengan pusat. Pusat dalam pemahaman dua periode belakngan.

Dua hal diatas, bisa dipahami. Tergantung perspektif yang digunakan. Tak bisa dipungkiri, gerakan Paderi identik dengan gaya yang “hitam putih” dalam melakukan purifikasi Islam. Namun tak bisa pula dinafikan, Paderi juga berjasa besar dalam menghadirkan tradisi intelektual pasca gerakan ini dibumihanguskan oleh kolonial Belanda, khususnya gerakan intelektualisme Islam yang melahirkan ulama-ulama besar di masanya. Orientasi menimba ilmu di pusat Islam, salah satunya terinspirasi dari gerakan Paderi. Ketika orang bicara tentang tradisi keilmuan (Islam) Minangkabau, maka sering titik berangkat analisisnya dari gerakan Paderi. Gerakan ini bukan melulu gerakan kaku yang “hitam putih”. Tapi ada pula semangat mengembangkan tradisi keilmuan, belakngan, yang dihadirkannya.

“Lalu, bagaimana dengan kisah pembangkangan. Dengan pemberontakan. PRRI itu…. lho !”.

Duh …. stigma yang teramat sulit dihilangkan. Walau kejadiannya sudah lama, berbilang tahun, tapi sejarah senantiasa memberitakan bahwa orang Minangkabau pernah memberontak … terlepas apapun alasannya.

Tapi apapun itu, saya percaya, bahwa Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, M.Yamin, M.Natsir, Abdul Muis, Hamka, Agus Salim dan lain-lainya itu adalah para pembangkang terbesar yang pernah ada. Jika mereka tak membangkang pada praktik-praktik kolonialisme sungguh tak mungkin kita bisa merasakan Indonesia seperti saat ini.

Satu lagi, walaupun Ahmad Yani dkk. meluluhlantakkan Sumatera Barat waktu melaksanakan operasi penumpasan PRRI, meninggalkan trauma yang sangat mendalam terhadap satu generasi ….. tapi nama Ahmad Yani tetap digunakan sebagai nama sebuah jalan besar di beberapa kota di Sumatera Barat. Satu lagi ….. tak pernah dikisahkan bagaimana peran Ahmad Yani tersebut ketika proses penumpasan gerakan PRRI itu. Ia justru tetap dikenang sebagai pahlawan.

MERDEKA …. !

Sumber : Status Facebook Muhammad Ilham Fadli

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed