by

Perdebatan Sesat

Oleh: Iyyas Subiakto

Konon agama di Nusantara pernah mencapai 250an, sekarang entah berapa sisanya, sekarang ada agama baru yaitu agamanya orang tak beragama, agnostik.

Agama sebagai Lebel kepercayaan dgn aturan tertentu dalam agama yg di yakininya. Islam tidak membolehkan umatnya makan olahan daging babi misalnya, dan aturan lainnya yg tertuang dari fiqh. Begitu juga agama lainnya dgn hukum yg di jalankan masing².
Sudah seharusnya setiap penganut agama meyakini agamanya paling benar, kalau tidak keyakinannya pasti memudar.

Jadi kalau ada orang berdebat agama itu sama, ya memang salah, mana ada kepercayaan yg sama, namanya aja keyakinan. Nabinya beda, kitabnya beda, hukumnya beda.

Tapi kalau terus ada yg mengatakan bahwa agamanya yg paling benar, dan di sampaikan kepada penganut agama lain ya salah juga. Wong sama² punya keyakinan. Ini kan ibarat dua orang memegang buku bergambar, yg satu pegang gambar buaya, yg satu pegang gambar onta. Terus ada yg nanya dinosaurus itu seperti apa.

Yg pegang gambar buaya dia pasti bilang sesuai buaya, begitu juga yg pegang gambar onta pasti bilang dinosaurus seperti onta. Sampai kiamat nggak bakal ketemu.

Sehingga seharusnya perdebatan soal keyakinan tidak bisa di bawa ke ruang publik, yg bisa di argumentasikan adalah kebenaran universal seperti, mencuri itu salah, semua agama pasti setuju, walau banyak penganut agama yg mengatakan paling benar dan mengkavling surga yg jadi koruptor sambil cengengesan.

Menurut saya agama atau keyakinan hanya kenderaan menuju Tuhan. Sehingga harus di rawat bersama jgn rusak di tengah jalan. Ibarat mobil mesinnya harus prima, bannya tidak kempes, penumpangnya tau aturan.

Silakan pilih merek yg diyakini, mau naik Toyota, Monggo, Mercy ya silakan, BMW go ahead, yg mana yg nyaman saja. Yg penting sampai ke tujuan. Jangan pada ribut di jalan, yg naik Toyota bilang Mercy gak bagus, yg naik Mercy bilang BMW jelek. Di tunggu di tempat tujuan gak ada yg nyampe.

Ternyata di tengah jalan bannya pada lepas, mesin mogok, penumpangnya mabok.

Santai ajalah, beragama itu kan memudahkanmu, bukan menyulitkanmu. Ulama mengatakan yg biasa saja, tak usah isyrof, berlebihan. Mengadili orang lain, merasa jadi wakil Tuhan, punya sertifikat surga, padahal gambar dan ukurannya belum ada, kok sudah ngaku punya hak milik.

Prof. Quraisy Shihab pernah mengatakan, ibarat nampan yg penuh hidangan dari Tuhan, pilih sesuai selera, karena hidangan itu sudah di sajikan maka sumbernya sama, walau rasanya berbeda. Saya kurang bisa mencerna, tapi bisa merasakan esensinya. Jadi Tuhan sebagai substansi jgn dirusak oleh argumentasi dangkal yg kadang malah nyengkal akal.

Sore tadi kami ngobrol dgn Prof. Ali Azis. Beliau punya mimpi mau buat pondok yg bisa di kunjungi semua penganut agama, santai berdiakusi, atau bercengkerama sebagai manusia yg saling mengasihi bukan menakut²i bahwa si pulan bakal masuk neraka, dan aku masuk surga. Katanya kawan sekemanusiaan, walau tak seiman, kan seyogianya bisa membuat nyaman, bukan mengeluarkan ancaman.

Ini repotnya kalau mayoritas menjadi buas, semua yg tak sepemahaman mau di berantas.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed