by

Matinya Ali Kalora

Oleh : Islah Bahrawi

Entah sudah berapa nyawa tak berdosa yang dirampas paksa oleh gerombolan Ali Kalora; yang jelas banyak warga di kaki Gunung Biru selama bertahun-tahun tak pernah bisa tidur nyenyak. Ketika Ali Kalora kehabisan makanan, mereka turun dan mengobrak-abrik rumah warga. Bagi warga yang berdiam di sekitar lereng, kelompok Ali Kalora tidak ubahnya seperti sekawanan serigala.

Tidak sedikit rumah penduduk yang dibakar dan penghuninya dibantai dengan brutal. Bahkan para pekebun di sekitar lereng Gunung Biru tidak jarang yang dipenggal, kebanyakan karena dicurigai sebagai “cepu” polisi. Ali Kalora adalah bagian dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kelompok ini adalah ampas dari konflik Poso yang terjadi pada akhir dekade 90 hingga awal milenia. Melalui berbagai dialog yang panjang, konflik komunal ini berakhir setelah terjadi kesepakatan damai antar pemuka agama.

Proses perdamaian itu memunculkan tokoh-tokoh inisiator damai seperti Haji Adnan Arsal dan pendeta Damanik. Namun damai itu ternyata hanya dimiliki oleh mereka yang bernalar; bahwa agama bukanlah api untuk membakar orang lain. Sebagian yang tak bernalar itu ternyata dimiliki Santoso, Ali Kalora dan kelompoknya yang menolak damai. Mereka menganggap bahwa agama adalah alat yang tepat untuk memelihara dendam dan harus terus bertikai. Kelompok MIT lalu menepi ke Gunung Biru, yang pada akhirnya harus berhadapan dengan negara.

Hingga hari ini, ampas-ampas itu telah tewas satu persatu. Dihadapan wartawan di Bima pada Jumat pagi 17/9, Haji Adnan Arsal meminta negara untuk segera menyelesaikan kelompok Ali Kalora. Besoknya negara menjawab kontan, Ali Kalora dan Jaya Ramadhan alias Ikrima terjengkang dalam kontak tembak, setelah mata Ali Kalora dihantam sniper petugas. Kebetulan? Tentu saja tidak. Densus 88 telah mencium sejak beberapa hari sebelumnya, bahwa Ali akan turun menjemput logistik di rumah warga bernama Uti. Disitulah pentolan MIT ini meregang nyawa, di tangan Tim Densus 88, Walet, Sogili dan Madago Raya.

#awasadaJI#lawanintoleransi#antiradikalisme.

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed