by

Fatwa MUI Soal Astrazaneca

Oleh : Mila Anasanti

Vaksin AstraZeneca sama sekali tidak bersentuhan dengan produk turunan babi baik sebelum maupun saat produksi, fatwa MUI sepatutnya direvisi________ Saya mungkin dulu dianggap kelewat berani ketika mengkritisi fatwa MUI pusat di bulan Maret sebagaimana yang saya screenshot di bawah ini.

MUI pusat adalah satu-satunya lembaga fatwa di dunia yang mengharamkan vaksin AZ, tapi membolehkan karena darurat. Ini karena persedian vaksin terbatas sedang wabah di depan mata. Fatwa mereka berlawanan pendapat dengan MUI Jatim, juga lembaga fatwa muslim Inggris dan dunia, termasuk timur tengah dan lainnya yang menghalalkan vaksin AZ.

Celakanya antivaks dari jaman dahulu menggunakan issue tripsin babi ini sebagai senjata. Kata ‘darurat’ selalu dihilangkan, yang dibold dari fatwa MUI selalu ‘haram karena bersinggungan dengan babi’, lalu mereka cari alasan ngeles bisa pakai alternatif lain, susu beruang, empon-empon, dsb. Atau yang galau memilih menunda vaksin demi menunggu vaksin jenis lain, menghambat penanganan wabah, memperlambat cakupan vaksinasi dan herd immunity.

Yang jadi masalah, MUI memberikan fatwa hanya bersandar dari studi literatur online, sedang ketika saya verifikasi dengan studi literatur dari rujukan yang sama, saya menemukan beberapa kejanggalan. Ternyata benar dugaan saya, MUI menyoroti proses sebelum produksi yang sebenarnya tidak tercantum detil di dokumen yang dirujuk (tentu saja karena dokumennya kan fokus ke aspek produksi). Lebih jauh lagi, pihak MUI pusat lalu mengambil asumsi sendiri jika proses sebelum produksi pasti seperti pada umumnya menggunakan trypsin babi. Padahal bahkan pra produksi vaksin AZ ternyata menggunakan teknologi lebih maju, yaitu tanpa menggunakan tripsin sebagaimana umumnya,

sebagaimana hasil penelusuran saya bulan Maret yang terkonfirmasi juga dari ulasan detil 2 ilmuwan Indonesia yang terlibat langsung pengembangan vaksin AZ di artikel berikut ini . https://theconversation.com/…/fatwa-haram-tapi-boleh… Singkatnya : Proses yang dituduhkan tersebut berada pada tahap sebelum proses produksi :

1. Persiapan plasmid (pembuatan DNA) yang merupakan cetak biru vaksin COVID-19 pada tahapan riset. Ini proses riset sebelum produksi vaksin, dituduhkan menggunakan tripsin babi.

2.Proses pengembangbiakan sel inang pada saat proses pre produksi dan produksi virus Adenovirus, juga dituduhkan menggunakan tripsin babi.

3.Proses pembuatan stok sel inang sebelum proses produksi vaksin, dituduhkan menggunakan tripsin babi.

Sanggahan : 1. Plasmid adalah material genetik (DNA) sampingan dari bakteri yang dapat memperbanyak diri sendiri. Medium pertumbuhan bakteri biasanya mengandung sumber nutrisi berupa Trpyton (peptone). Ini merupakan hasil pemecahan senyawa casein yang biasanya menggunakan enzim dari pankreas babi. Tapi riset Astrazeneca tidak memakai ini. Peneliti menggunakan medium pertumbuhan alternatif bernama vegiton yang mengandung sumber nutrisi dari tumbuhan. Lalu dipecah menggunakan enzim papain yang berasal dari pepaya, bukan tripsin babi.

2. Pengembangbiakkan sel inangDalam dokumen yang sama,fatwa MUI menyatakan tripsin babi digunakan dalam proses pengembangbiakan sel inang untuk menumbuhkan virus Adenovirus. Tripsin merupakan enzim yang diperoleh dari hewan, tumbuhan atau mikroba yang berfungsi untuk memotong protein untuk memisahkan sel dari medium, proses ini disebut pasase. Proses produksi Adenovirus membutuhkan sel inang berupa sel mamalia (T-Rex-293). Peneliti Astrazeneca di Oxford mengembangkan metode baru untuk menumbuhkan sel inang untuk dapat tumbuh dalam keadaan melayang di dalam medium (tersuspensi), bukan metode biasa. Sehingga tripsin tidak diperlukan dalam proses pasase.

3. MUI mengacu salah satunya pada dokumen laporan asesmen vaksin COVID-19/Astrazeneca yang dikeluarkan oleh Badan Regulasi Obat Uni Eropa. Dokumen yang dirujuk menyebutkan penggunaan serum dari sapi yang digunakan pada saat proses adaptasi sel inang, bukan tripsin babi. Ini diterangkan di dukumen dalam sertifikasi TSE (Transmissible Spongiform Encephalopathy). Sertifikat ini memastikan bahan dari sapi ini terbebas dari penyakit sapi gila. Serum dari sapi memang digunakan dalam proses adaptasi sel inang untuk mendapatkan stok sel saat pre-GMP. Saat fase produksi, stok sel tidak lagi memerlukan serum dari sapi untuk dapat tumbuh sehingga proses pembuatan bahan aktif benar-benar menggunakan bahan baku yang bukan berasal dari hewan.

****

Maka saran saya masih tetap sama sebagaimana bulan Maret lalu, sudah seharusnya MUI pusat merevisi fatwa vaksin AZ. Kesalahan seperti ini justru akan menjatuhkan kredibilitas ilmuwan yang dilibatkan MUI karena gegabah dalam studi literatur. Tapi ya tetap kita menghormati MUI pusat, tiada yang ma’shum kecuali Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam.

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed