by

Soal Demo Jokowi End Game

Oleh : Karto Bugel

Pada kabar adanya rencana aksi demo di Semarang hari ini (24/7), kita patut waspada. Sinyal bahwa kegagalan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 akan mereka gunakan sebagai pintu masuk bukan lagi sekedar isapan jempol belaka. Massif cara mereka bergerak dalam grup-grup WA atau platform sosial media yang lain juga bukan lagi sekedar guyonan atau candaan sebagai cara mereka mengisi waktu senggang manakala sedang dirumahkan. Itu ada unsur terstruktur dan sistematis.

Narasi “target kita hanya satu : ciptakan kekacauan untuk melumpuhkan perekonomian kota” adalah benderang subversi sebagai niat telah mereka gaungkan. Dengan matang mereka telah mempelajari apa itu lemah pada posisi pemerintah. Mereka memberi keterangan bahwa berangkat dari pengalaman yang sudah-sudah, pelemahan pada bisnis dan ekonomi adalah cara paling tepat dan cepat bila hasil ingin mereka tuai. Di sisi lain, kita tak mungkin melepaskan bahwa ide ini tak terkait dengan masa pandemi dan apalagi perpanjangan PPKM Darurat yang dianggap sebagai kebijakan pemerintah yang tak populis.

Artinya, mereka dengan cermat telah mengamati dengan seksama bahwa saat ini adalah waktu paling tepat bagi kekacauan dapat diciptakan. Mereka telah menyebar ajakan pada masyarakat untuk datang dan memenuhi lapangan. Mereka juga membuat ajakan untuk menguasai media sosial. Pada lahan mana kita dapat berpartisipasi, tentu pada point kedua yakni melawan narasi tak baik mereka pada media sosial. Di luar itu, biarkan negara bekerja.

Paling tidak, ada dua hal pokok dapat negara pakai sebagai alasan memberangus gerakan tak tahu diri ini. Bukankah ajakan membuat kacau ekonomi kota adalah kacau ekonomi negara? Dan itu adalah bentuk subversif pada pemerintahan yang sah? Negara memiliki aturan main dan hukum sebagai pegangan. Wajib hukumnya bagi pemerintah untuk melindungi negara dan rakyat terhadap gerakan-gerakan semacam ini. Bukankah berkerumun adalah pelanggaran pada darurat bencana pandemi sesuai hukum PPKM Darurat? Bukan hanya berkerumun mereka sedang ingin lakukan, mereka ingin demo di lapangan dalam jumlah jauh dari apa itu definisi kerumunan. Mereka melanggar protokol kesehatan dan wajib hukumnya bagi aparat melakukan tindakan.

Dua hal tersebut telah lebih dari cukup bagi negara melakukan tindakan tegas. Bila negara masih juga tak bertindak, justru kita yang harus bertanya, ada apa dengan pemerintah? Ada apa dengan aparat? Bila pemerintah melalui aparat tetap loyo pada gerakan seperti ini, kita memang patut bertanya ada apa dengan mereka semua? Karungi mereka tanpa pandang bulu. Cari tokoh di balik gerakan itu. Cari siapa donatur dan pemilik hajatan jahat yang sesungguhnya itu. Mustahil sekelas intelejen negara atau aparat kepolisian yang dalam kinerjanya seolah selalu terlihat mampu mencegah banyak hal besar yang membahayakan negara seperti dalam tindak kejahatan terorisme yang jauh lebih rumit dalam skala apapun tiba-tiba mandul dan tak dapat mendeteksi keanehan sederhana seperti itu. Sia-sia uang rakyat diberikan dalam jumlah besar pada mereka bila hal kecil seperti itu saja tak mereka mampu.

Hanya menangkap dan memenjarakan mereka yang turun ke lapangan adalah seperti kita mengobati kulit gatal. Bentol-bentol dan gatal pada kulit bukan penyakit yang sebenarnya yang harus kita khawatirkan. Ada aktor yang sedang bersembunyi yang harus dibuat segera terungkap. Cari dan temukan penyebab sesungguhnya.

Di sana, TSK utama seringkali bersembunyi pada wajah ramah dan santun. Karungi mereka tanpa perlu lagi melihat baju apa yang mereka pakai. Tak penting dan tak ada urusan bagi hukum meski mereka tampak dalam bungkus dia seorang pengusaha, politisi, pejabat publik bahkan bila itu aparat sekalipun. Faktanya, mereka hanya PARASIT negara. Bila negara berani, berarti ada harapan tinggi bahwa 3 tahun akhir dari pemerintahan Jokowi kita akan benar-benar sibuk dengan banyak hal terkait pembangunan. Kita sebagai rakyat akan bekerja layaknya masyarakat dunia pada umumnya yang rindu dengan makna perdamaian dalam arti yang sebenarnya. Bila terjadi pembiaran lagi, yaa.. siap-siap saja dengan 3 tahun tanpa bersapa dalam rukun pada sesama saudara kita sendiri.

Kita akan terus seperti ini. Kita tak sibuk membangun demi kualitas yang semakin baik namun sibuk mencari senjata demi menyerang dan atau bertahan pada saling serang dengan saudara sendiri…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed