by

Dokter Penting Belajar Manajemen Bencana

Oleh : Alim

Tadi ada yang komen ngasih info, ada dokter spesialis yang bilang bahwa kematian covid itu hanya 2,6%. Mosok sekecil itu dianggap bahaya bagi semua orang? Menurutnya, mengatakan covid itu bahaya adalah hoax karena yang sembuh tidak dibicarakan.Langsung terlintas di benak saya. Cara berpikir ini tampaknya benar tapi sesungguhnya sesat. Kita bahas satu², termasuk pakai perspektif ilmu manajemen bencana.

Perdefinisi ringkas, Bencana adalah kejadian yang menimbulkan dampak korban yang melebihi swa-kapasitas untuk mengatasinya. Cek definisinya di kamus UNISDR. Nah, 73rb yang meninggal karena covid itu lebih dari 11x korban gempa tahun 2006. Gempa 2006 yang memakan 6rb korban disebut bencana besar, 73rb kok dibilang kecil. 73ribu itu angka ketidakmampuan kita dalam mengatasi krisis kesehatan. Ada yang menyanggah pakai pertanyaan: kecelakaan lalulintas berapa? Mati sakit jantung berapa? Lalu kenapa covid masalah?

Saya jelaskan, itu kesalahan logika berikutnya dengan membandingkan 2 masalah sehingga kesannya salah satunya jadi tidak masalah. Compare 2 wrong things doesn’t make it right. Kecelakaan lalu lintas itu masalah, covid juga masalah. Bukan berarti kalau kecelakaan itu masalah lalu covid itu tidak masalah. Sekali lagi coba pikir.. Jelas gempa 2006 itu bencana besar, ini yang 73rb (dan terus nambah) kok jadi dianggap kecil?

Berikutnnya, 73rb itu adalah korban meninggal yang terdata. Fenomena mati tanpa masuk data itu banyak kita dengar, yang sayangnya kita tidak tahu data kumulatifnya berapa. 2x dari yang terdata? 3x? Laporan di Surabaya menunjukkan kasus sebenarnya bisa sampai 20x lipat!!! Lebih dari itu, angka² ini bukan sekadar angka. Ini nyawa seorang ibu dan bapak dari anak² yang masih kecil, anak dari orang tua yang banyak berharap atas masa depan anaknya yang meninggal itu. Itu nyawa.

Kenapa yang sembuh tidak dibahas?Kawan, kita sedang bicara krisis. Yang sembuh tentu bagus, tapi yang sakit dan fatal itu membuat fasilitas kesehatan overload. Dalam ilmu manajemen bencana, kalau terjadi gap dan overload antara jumlah korban dan fasilitas kesehatan yang tersedia itu sudah masuk kriteria bencana. Betapa seringnya kita harus menolak pasien karena RS sudah overload pasien bergejala sedang sampai kritis. Betapa sering kita harus memilih pasien mana yang akan dibantu pakai ventilator sementara yang lain terpaksa tidak dapat karena keterbatasan fasilitas.

Belum lagi kita bicara krisis oksigen yang memakan korban. Itu gap yang lebar! Itu artinya bencana. Itulah pentingnya dokter belajar ilmu manajemen bencana. Kenapa kita jaga² dan menganggap ini berpotensi bahaya untuk semua orang. Kita tidak pernah tahu siapa yang kalau kena bakal selamat dan bakal fatal. Hanya yang punya komorbid? Tua?Data dan pengalaman menunjukkan orang muda dan tanpa komorbid banyak yang meninggal.

Angka kematian anak menanjak naik. Angka kematian ibu hamil juga naik. Ada pasien yang serangan pertama ringan, infeksi kedua harus masuk rumah sakit. Justru karena kita tidak tahu siapa yang bakal masuk dalam 2,5 – 4% fatality itu maka kita jaga semua orang.Lebih dari itu, saya bertanya². Apakah dokter yang bilang 73rb itu kecil tidak pernah muncul rasa khawatir menyesak di dadanya saat jarum ukur stok oksigen bergerak turun menit demi menit, sementara di ruang isolasi dan halaman IGD pasien² bergantung pada stok oksigen? Apakah benar² tidak muncul perasaan itu?Lebih dari belajar ilmu manajemen bencana, sebaiknya belajar dulu jadi manusia.,

Sumber : Status Facebook Alim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed