by

HM Jusuf Kalla Membohongi Kita

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Apa yang digaungkan oleh Jusuf Kalla ternyata keliru. Nampaknya JK dan kawan kawan Islam puritannya, sengaja membohongi dan memperdaya bangsa Indonesia. Apa yang dikhawatirkan dunia terjadi. Taliban di Afganistan tidak berubah. Negeri pengekspor opium itu menuju kegelapan.

Anak anak perempuan di atas 12 tahun dilarang sekolah, perempuan dewasa dilarang bekerja. Diskriminasi gender atas nama ajaran agama (Syariat Islam) diberlakukan oleh kelompok yang telah menguasai negara. Di Indonesia
kemenangan Taliban memberi motivasi dan semangat kepada penghayat dan pelaku radikalisme – yang juga sedang tumbuh subur dini.

Wali Kota sementara Kabul, Molavi Hamdulah Nomani, telah memerintahkan kepada para pegawai perempuan di ibu kota Afghanistan itu untuk tinggal di rumah, kecuali pekerjaan mereka tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Mewakili kelompok Taliban, Wali kota Kabul, Minggu (19/9/2021), Hamdalah Nomani memutuskan “perempuan perlu berhenti bekerja untuk sementara waktu”

Menurut Molavi Hamdalah Nomani, sekitar sepertiga dari 3.000 pegawai pemerintah kota adalah perempuan. Dikemukakannya, perempuan yang boleh terus bekerja di antaranya adalah petugas kebersihan untuk toilet perempuan.

“Tapi untuk posisi yang bisa diisi lain (laki laki), kami telah menyuruh mereka (perempuan) untuk tinggal di rumah sampai situasinya normal. Gaji mereka akan dibayarkan,” tambahnya. Tak dijelaskan apa yang dimaksud dengan “setelah situasinya normal” itu.

Ini adalah pembatasan terbaru yang diberlakukan Taliban terhadap para penduduk perempuan. Di era pemerintahan Taliban pada era 1990-an, perempuan juga dilarang bersekolah dan bekerja, lapor BBC yang meliput dari Taliban.

Ketika Taliban berkuasa pada periode 1996-2001, anak perempuan tidak diizinkan bersekolah dan perempuan dewasa dilarang menempuh pendidikan dan bekerja.

Setelah Taliban menguasai Kabul bulan Agustus 2021 lalu, kelompok radikal Islam ini menutup sekolah sekolah di Afghanistan. Ketika sekolah menengah dibuka kembali, dua hari lalu, di kelas tanpa kehadiran siswi. Tak ada siswa perempuan. Tak ada perempuan juga dalam susunan pejabat baru di pemerintahan transisi mereka.

Padahal dalam pemerintah sebelumnya ada gubernur dan walikota perempuan di Afganistan. Universitas Kabul juga banyak melahirkan sarjana perempuan mumpuni.

Mengutip laporan kantor berita Reuters, seorang staf perempuan mengatakan mereka telah mencoba kembali bekerja di kementerian selama beberapa pekan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, hanya untuk disuruh pulang.

Kantor Kementerian Urusan Perempuan tempatnya bekerja telah diganti dengan tulisan “Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan”, yang dikenal sebagai “kementerian polisi moral”.

“Kementerian urusan perempuan harus diaktifkan kembali,” kata Baseera Tawana, salah satu pengunjuk rasa di luar gedung. “Penghapusan perempuan berarti penghapusan manusia.”

Pesan terbaru dari Afganistan, jangan sekali meremehkan orang orang bodoh yang militan. Ketika mereka berhasil merebut kekuasaan, dan bersenjata mereka bisa menerapkan kebodohannya dan orang orang pintar tidak berdaya.

Di Indonesia ramai didakwahkan ajaran ajaran yang senafas dengan talibanisme. Mengharamkan kunjungan ke Candi Borobudur, mengharamkan musik, kebudayaan lokal dianggap syirik, dan lainnya. Komunitas perempuan berbusana hitam hitam dan bercadar juga makin meningkat.

Dan pengajian mereka banyak dihadiri jemaah. Artinya calon calon Taliban Melayu, Taliban pesek, yang sedang didoktrin untuk mengikuti idolanya di Afganistan sana, mulai bermunculan di sini.

Sementara itu di jajaran elite, HM Jusuf Kalla meredam kecemasan masyarakat dengan menyebut “Taliban sudah jauh berubah”. Kebijakan dan pandangan yang disampaikan kepada publik “jauh relatif moderat”, katanya.

Sehingga tidak tepat bila dunia Internasional tidak memberikan kesempatan kepada Pemerintahan Taliban untuk memimpin Afghanistan. Jusuf Kalla tak sendiri. Hidayat Nuw Wahid PKS juga menyatakan yang sama. Jika Taliban dituduh Wahabi dan radikal faktanya mereka menganut mazhab Hanafiah yang kultur dan tradisi beragamanya sama dengan NU. “Jadi semua tuduhan negatif yang selama ini diarahkan ke Taliban tidak relevan lagi,” kata Hidayat.

Tapi itu pandangan HNW, yang partainya menjalankan politik Ikhwanul Muslimin ala Mesir. Kenyataan di lapangan tak ada perubahan Taliban dulu dan sekarang.

Berita terbaru, yang rilis Minggu, 19 September 2021 ini – dan diberitakan kantor kantor berita dunia – tentang larangan perempuan bekerja dan anak anak perempuan di atas 12 tahun sekolah adalah contoh nyatanya.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed