by

Serapan Dana Covid Kecil, Ganjar Keselek Sepeda

Oleh: Kend Subiakto

Siapa bilang dana Covid tidak ada? Berdasarkan amanat refocusing dari Pemerintah Pusat, 8% dari Dana Alokasi Umum (DAU) tiap daerah digunakan untuk penanganan Covid-19. Yang mesti dipergunakan untuk lima item, yakni penanganan Covid-19, dukungan vaksinasi, dukungan pada kelurahan, insentif tenaga kesehatan, dan belanja kesehatan lain.

Parahnya, berdasarkan release hasil serapan bansos covid 19 per Provinsi yang dirilis Kemendagri, serapan nasional hanya 22 %. Provinsi yang sudah menyerap dana di atas 50% hanya Nusa Tenggara Timur sebanyak 66%, Kalimantan Timur 63% dan Jawa Timur 61%. Selain tiga provinsi itu semua memble.

Daerah dengan korban terbesar yaitu DKI Jakarta, juga baru menyerap anggaran untuk Covid-19 sebesar 34%. Bahkan Riau yang dananya terbesar kedua, baru menyerap 5% dana. Sedangkan rakyat sudah menunggu dana itu untuk membantu mereka yang sakit agar bisa sembuh, dan membantu yang terdampak untuk melanjutkan hidup. Jawa Barat juga memble. Dananya terbanyak ketiga, tapi baru terserap 6%.

Yang membuat sakit mata adalah serapan Jateng yang berdasarkan data di Kemendagri hanya 0,15%, dan kemudian dibenerin Ganjar katanya sudah 15 %. Untuk diketahui sodara-sodara Jateng itu tidak pernah bergeser dari 4 besar keterjangkitan covid nasional atau rata-rata menyumbang sebaran wabah antara 10-15 %.

Dalam kinerja Ganjar pasti tahu angka adalah fakta dan menjadi dasar ukuran keberhasilan. Bukan diukur dengan lama dan banyaknya keluyuran dan sepedaan. Saya semula salut kepada Ganjar Pranowo hebat menejemennya. Dia tiap hari jalan ke pasar melebihi Satpol PP mengontrol warga. Berarti kerjaan yang prinsip dis aat pandemi jalan semua.

Sekarang kita baru melihat 4 Gubernur di Jawa yg total wilayahnya mengkontribusi sebaran wabah hampir 70% gak beres semua. Kasihan Presiden Jokowi. Sekali lagi kasihan Presiden Jokowi, sampai mengecek obat di apotek sendiri. Hal seperti ini kan harusnya kerjaan Gubernur atau kepala Dinkes kabupaten/kota.

Lagi krisis oksigen, obat, ya kan harus dicek sumbernya, di mana distributornya, dan seterusnya. Ini para Gubernur mbelgedes malah ada yang jalan ke kuburan, ada yang pesta ulang tahun, ada yang katanya gak punya dana, dan ynag parah kok ada juga yang tiap hari sepedaan. Kalau begini kan perkataan mas Pacul jadi benar Ganjar hanya pencitraan, sukanya main medsos, sekarang ngowos.

Semoga dengan ini Ganjar belajar. Berhentilah sepedaan. Rakyat sudah tahu GP itu gubernur rajin olah raga, tapi ternyata kurang rajin ngurus perut warga. Jangan sehat sendiri mas, nanti rakyatnya mati lemas.

Korban sudah terlalu banyak. Setiap hari terdengar berita duka. Rakyat menjerit butuh pertolongan. Tapi dana yang disediakan seperempatnya pun belum diserap, belum digunakan untuk penanganan pandemi Covid-19 yang menjadi bencana di masyarakat.

Hai kalian para Gubernur mata lalat. Masih ada waktu mengubah gaya, kalau mau jadi presiden. Jadi kerja saja dulu, berhentilah bergaya yang keterlaluan kalau cuma buat pencitraan.

Nggak uuk kalian!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed