by

Serumah dengan Srigala

Oleh: Iyyas Subiakto

Mengamati kehadiran Jokowi sebagai presiden ke-7 Indonesia, Jokowilah presiden tersulit menghadapi situasi perpolitikan yg ada.

Mungkin saja GUSDUR akan sama, hanya saja “mereka” berhasil meruntuhkan GUSDUR lebih cepat. Sementara Jokowi bertahan lebih kuat.

Selamat sampai periode kedua adalah hasil yg luar biasa bila dilihat gencarnya usaha lawan bahkan kawan yg pura² untuk menghabisinya. Kalimat pemakjulan yg terang²an sudah selalu di dengungkan tapi Jokowi bergeming atas izin Tuhan.

Kalau dilihat kadar pertikaian yg di lancarkan mungkin kita sudah satu level di bawah Afganistan, negara dgn perang saudara yg tak berkesudahan. Hanya saja kita masih terkendalikan karena belum saling angkat senjata dan baru sebatas fitnah, makian, serta semburan kebencian yg tak beralasan.

Kalahnya PS dalam dua kali pilpres adalah asal mula kaum penggemar orba mengidap stress, kegeramannya kepada Jokowi seolah tak pernah selesai sampai mati. Sampai mereka lupa luapan benci dan kemarahannya merusak negaranya yg notabene mau mereka rebut kekuasaannya.

Jokowi adalah presiden dgn hasil kerja terukur dan merata sesuai amanah Pancasila dan Nawa Cita, walau belum sempurna namun jelas arahnya. Manusia yg sudah selesai dgn dirinya ini tidak pernah mengambil hati kepada orang yg memusuhi, karena berkelahi akan membuat pembangunan terhenti.

Kelenturan dan sekaligus ketegasannyalah yg membuat dia tetap mengendalikan keseimbangan kepentingan negara bisa berjalan di tengah serangan.

Andai mereka cerdas dan bisa menahan diri semua aturan sudah ada, ada waktu dan masa pemerintahan, disanalah masing² pihak bisa berekspresi bila mau menjadi pengganti, bukan nafsu ” mengganti “.

Apalagi saat ini sisa 3 tahun saja Jokowi berkuasa. Kenapa mereka tergesa², kan sudah ada aturan mainnya, ada pemilu, pilpres sebagai ajang adu program dan sekaligus mengukur tingkat elektabilitas siapa yg dipilih oleh rakyat yg semakin cermat.
Di tengah pandemi, disaat negara sedang kesulitan mereka makin menjadi², tanpa rasa simpati atau sedikit berempati.

Ibarat Srigala yg melirik mangsanya, sedikit saja Jokowi salah langkah langsung di terkam lehernya. Usulan mereka di tengah pandemi tidak ada yg murni, bila dituruti usulan itu jebakan yg mematikan, untung saja Jokowi punya perhitungan.

Posisi serangan saat ini diambil alih oleh Demokrat yg bekerjasama dgn PKS, silih berganti memaki, sampai pendukung Jokowi diajak perang, inilah kelas pecundang mengaku pejuang.

Di tengah tekanan serangan ada yg makin membuat kita terperangah, PDIP sebagai partainya Jokowi malah ikut²an menimpali ketidak senangan atas keputusan Jokowi, umpan lambungnya dimainkan Effendy Simbolon dan Masinton, dan di-smess Puan, malah ada kesan Megawati memungut bola.

Kenapa mereka jengah, apa karena Jokowi tak ikut saat Mega diberi gelar doktor, sementara Jokowi malah ke Jateng ketemu Ganjar. Apa hal ini dianggap kurang ajar. Petugas partai berani kepada sang penentu. Kita yg waras jadi sakit gigi melihatnya.

Andai mereka menyadari kredibilitas Jokowi saat ini diatas semua pemimpin di Indonesia, apalagi hanya ketum partai, maka harus berpikir berkali² kalau mau membuat Jokowi mati suri dgn cara seolah Jokowi tak mumpuni.

Masa pandemi jgn dipikir gampang menghabisi Jokowi dgn jalan menyalahkan. Justru kalian yg menyeranglah dianggap tak punya empati dan hilang rasa kemanusiaannya.

Apakah PPKM dianggap menyulitkan, apakah waktu makan 20 menitan dianggap menyesakkan. Apakah pasang Billboard lebih berbobot.

Kalian tak sadar dilihat rakyat Indonesia yg punya Indra kebenaran, bukan robot yg tak punya perasaan.

TAPI SAYANGNYA KALIAN YG TAK PUNYA PERASAAN, JADI BEBAL KARENA NAFSU KEKUASAN.
SILAKAN KALIAN CAKAR²AN KAMI BERGEMING BERSAMA JOKOWI KRN KAMI BUKAN BUZZER BAYARAN, DAN TAK SILAU DGN BILLBOARD YG BERTEBARAN.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed