by

Mengobati Moral

Oleh : Islah Bahrawi

“Hari ini mata kita terjajah dan sering tertipu”, kata Jack Crumley dalam salah satu jurnalnya. Dia menulis “Appearances Can Be Deceiving” 30 tahun lalu, jauh sebelum manusia akrab dengan benda “bid’ah” bernama telepon pintar. Tapi soal penipuan melalui status dan penampilan pada dasarnya sudah terjadi sejak jauh sebelum Crumley. Sahl at-Tustari mengungkapkan, “Tuhan tidak akan memperkenalkan para Wali kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka”.

Kalimat at-Tustari ini adalah perlawanan terhadap sikap publik yang sering terpengaruh oleh tampilan kosmetis. Ada sisi misterius manusia dibalik jubah kesalehan yang tak mampu dihakimi oleh mata. Pada akhirnya manusia adalah manusia. Ada kesadaran moral yang tercipta secara otonom, yang terkadang dimatikan secara sengaja oleh orang-orang yang sibuk untuk mengalahkan orang lain tapi lalai mengalahkan dirinya sendiri. Ada ambisi-ambisi kekuasaan yang dijalankan dengan menjadi penumpang gelap sebuah “kendaraan” bernama agama.

Mereka menghasut untuk membangun kebencian satu sama lain. Dan pada akhirnya, sejarah arogansi dalam agama seringkali meluap oleh keterlibatan manusia yang diperdaya oleh perilaku antagonis yang dipuja paksa.”Manusia dalam suatu bangsa adalah solidaritas perlindungan dan pertahanan dalam kebersamaan”, kata sosiolog Islam, Ibnu Khaldun. Dia menyebut konsep itu sebagai “Umran”; negara yang terpecah-belah akan jauh dari kemakmuran dan mudah diruntuhkan.

Ibnu Khaldun dengan teori dasar “Asabiyah” mengatur keseimbangan dan kebersamaan antara ulama, umara dan masyarakat biasa. Yang membedakan adalah tugas, moral dan keilmuannya, Khaldun menyebutnya “Hadhari Umran”. Ibnu Khladun telah meletakkan konsep sosial negara pada abad ke 14, ratusan tahun sebelum Auguste Comte pada abad ke-19 merumuskan ilmu sosiologi politik. Karenanya, Comte menyebut Khaldun sebagai perumus dasar semua cabang ilmu sosiologi dan historiosofi. Jika Ibnu Khaldun 600 tahun lalu sudah merumuskan keseimbangan kehidupan sosial negara, seharusnya MUI DKI hari ini tinggal mengikuti tapaknya.

Sebagai bejana para ulama, MUI tidak boleh terombang-ambing oleh hiruk pikuk belahan-belahan politik. Persoalan disparitas dalam umat Islam sendiri tidak kalah ruwetnya.

#lawanintoleransi

#antiradikalisme

#lawanpolitisasiagama

#muidukungdensus88

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed