by

Sampah yang Dipungut

Oleh : Uster B Kadrisson

Dahulu di dekat rumah ada sebuah pertigaan yang selalu saya lewati kalau hendak pergi ke tempat kerja. Saya harus melaluinya karena pintu masuk ke stasiun kereta yang saya tuju ada di dekat sana. Sebenarnya ada tiga pintu masuk, tetapi saya memilih yang ini karena kereta akan berhenti tepat di bagian tengah. Dan nanti kalau berhenti di tujuan, pintu keluar juga tepat ada di depannya sehingga saya bisa menghemat langkah. Pertigaan ini berada di perpotongan jalan raya yang cukup besar, dengan 8 jalur dan kalau di sini dikategeorikan sebagai boulevard. Setelah itu ada sebuah jalan melengkung lain yang memotongnya sehingga daerah itu sering tidak terawat. Memang ada petugas pembersih jalan yang bekerja setiap waktu sehingga kebersihan bisa terjaga tetapi di sana tampak banyak sampah yang berserakan, sepertinya bagian yang ini sering terlewat.

Bukan karena ada orang yang sengaja membuangnya tetapi sepertinya karena bawaan angin sebab terlihat kantongan plastik atau benda-benda ringan yang tersangkut di semak-semak dan pagar kawat. Sekali waktu ketika saat libur kerja, saya membawa sebuah kantongan besar dan mengutip sampah-sampah yang ada berserakan. Hanya karena tidak enak saja melihatnya dan tampak sangat merusak pemandangan. Hanya dibutuhkan waktu satu jam saja dan ada seorang lain yang melihat saya bekerja dan ikut membantu membersihkan. Tidak ada imbalan yang saya dapat, hanya timbul sedikit rasa senang dan perasaan nyaman. Juga jika sedang berada di daerah pantai saat liburan, saya mempunyai kebiasaan berjalan menyusuri pantai yang bersih di saat pagi hari. Biasanya dengan secangkir kopi di tangan dan sebuah kantongan plastik yang saya tenteng untuk mengumpulkan sampah yang terbawa oleh buih. Sekali lagi tidak ada keharusan, tetapi rasanya saya mempunyai suatu kewajiban untuk ikut menjaga keindahan yang lestari.

Saya bergidik ketika pernah melihat photo-photo tentang sampah yang berserakan di pantai-pantai di pinggiran Jakarta dan pulau Bali. Di Amerika, kebiasaan untuk membuang sampah pada tempatnya memang sudah ditanamkan sejak mereka sudah bisa berjalan. Anak-anak dilatih sejak dari rumah, untuk memilah-milah mana yang bisa di daur ulang, atau limbah yang harus dibuang. Walaupun memang ada petugas kebersihan yang bekerja tetapi diminta partisipasi masyarakat untuk mempermudah tugas mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan. Terkadang, di sebuah daerah ada denda yang dikenakan jika jalanan di depan rumah tidak terawat dan semak-semak yang tumbuh semrawutan menjadi penghalang.

Kebiasaan untuk membuang sampah pada tempatnya membuat saya kadang harus mengantongi bungkus permen atau secarik struk bekas belanja. Rasanya malu pada diri sendiri kalau harus membuangnya sembarangan walaupun hanya secarik kertas kecil saja. Bukannya saya memilah-memilah karena rasa tidak suka, tetapi kebiasaan ini jarang terlihat pada masyarakat berkulit hitam dan juga keturunan Asia. Sewaktu di Chicago, dua orang anak negro dengan enaknya makan kuaci dan sampahnya dibuang begitu saja di lantai kereta dan saat ditegur malah lebih galakan mereka. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika kemarin ada berita yang menjadi viral tentang perdebatan seorang mahasiswa dengan Akang Dedi Mulyadi. Si mahasiswa pekok mengkritik tindakan si Akang yang ketika sedang meninjau pasar di Purwakarta dan ikutan melakukan kegiatan bersih-bersih.

Si mahasewa yang hanya pandai berteori mengatakan kalau itu bukan wewenangnya karena sudah merupakan tugas pokok sebuah instansi. Ketika diajak untuk melakukan bersih-bersih, si mahageblek menolak dengan alasan kalau dia ada acara diskusi yang harus dihadiri. Anak mahapekok ini nanti besarnya pasti akan menjadi orang yang hanya bisa membuka mulut tanpa pernah melakukan kerja nyata. Dan herannya dia akan bisa mencari pengikut dan menarik perhatian massa dengan kepintaran permainan memutar balikkan kata-kata. Juga yang lebih menakjubkan adalah masyarakat Indonesia yang masih suka terpedaya dengan kata-kata manis dan polesan make-up di sekujur wajah. Biasanya orang-orang seperti si mahadengklek ini akan banyak bermunculan pada saat pemilu nanti untuk mendulang suara. Dalam ajaran Islam konon ada perkataan kalau kebersihan adalah sebagian dari iman, tetapi sepertinya kalimat ini hanya tinggal sebagai sebuah slogan.

Di negara yang merupakan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dan Bangladesh adalah negara yang penuh dengan sampah pembuangan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan sudah mendarah daging tanpa ada rasa keinginan untuk melakukan pembersihan apalagi daur ulang. Dan herannya sekelompok orang-orang yang katanya beriman ini malah sering memungut sampah masyarakat untuk dijadikan idola, ada yang menjadi ulama, ada yang diantar sampai ke balaikota dan ada juga yang ke gedung di Senayan.Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed