by

Jangan Menjual Ayat dengan Murah

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Kepada saudara saudaraku yang tidak shalat Jumat karena berhalangan atau alasan lainnya – terimalah khotbah dari saya, ustadz Al Tipsani alias ustadz hasil kutip sana sini.

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa barukatuh.

Puji Tuhan kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta shalawat kepada Nabi Besar Solallahuhu Alaihiwas sallam.

Topik yang saya sajikan hari ini adalah “Jangan Menjual Ayat Allah dengan Murah”.

Sesungguhnya Allah sangat murka dengan perilaku menjual ayat secara murah dan Allah mengancamnya dengan siksa yang keras di akhirat kelak.

Mengapa diancam siksa-Nya? Karena itu sama dengan merendahkan-Nya dan merendahkan Al-Qur’an yang Agung.

Begitulah khotbah pembuka dari saya sebagai ustad Al Tipsani – alias ustad kutip sana sini di hari ini.

Majelis Fesbukiyah yang Mulia ….

Saat ini sedang ramai dan viral, Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta, yang selama ini jualan ayat dan label halal – menyatakan, siap bela Gubernur di ibukota yang sedang menjabat, dengan membentuk “cyber army” atau “mujahid digital” – setelah mendapat hibah Rp.10,6 milar.

Tak malu malu dalam wawancara teve pejabat MUI DKI Jakarta menyebut siap “bekerjasama dengan pemimpin lain untuk menyebar kebaikan”.

Yang dimaksud “bekerjasama” tentulah yang saling menguntungkan ke dua belah pihak dan dengan imbal jasa. Meski tak disebut olehnya.

Seperti juga bisnis label Halal itu. Malu malu tapi nafsu.

Para ulama yang sesungguhnya – yaitu yang bukan ulama Suk – sudah diingatkan oleh Al Quran hal ikhwal “menjual ayat dengan harga murah” – termasuk dalam kitab-kitab tafsir yang menjelaskan ciri-cirinya secara konkrit, rinci dan jelas.

Apakah dengan menjual ayat setara hibah Rp.10,6 Miliar termasuk murah? Mari kita kaji lebih jauh.

Tapi sebelum itu, apa sajakah indikasi “menjual ayat dengan harga murah?”

Mohon izin saya mengutip sebagian tulisan Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Gunungjati, Bandung, yang tayang di web resmi UIN, 2013 lalu.

Mengutip tulisan beliau, inilah ini ciri-ciri ulama penjual ayat;

Pertama, Menyediakan ayat untuk tujuan salah.

Menyediakan ayat untuk kepentingan orang tanpa mengetahui untuk apa penggunaannya. Padahal, mungkin seseorang ingin mengetahui sebuah ayat untuk tujuan yang salah.
Selain itu, menyediakan ayat-ayat Qur’an dalam berbagai kesempatan untuk kepentingan materi dan uang.

Misalnya, mengajar membaca Al-Qur’an atau ceramah agama dengan memasang tarif honor. Kalau tidak memenuhi tarif yang diminta, ia tidak mau.

Kedua, Menjelaskan ayat secara samar-samar.

Ciri kedua perilaku “menjual ayat” adalah mengutip atau menyebutkan sebuah ayat Al-Qur’an secara samar-samar demi menyenangkan orang atau agar orang tidak tersinggung. Arti yang “sebenarnya” disembunyikan, agar orang tidak tersinggung, agar enak kedengarannya, agak kita simpatik.

“Tasytaru” (menjual/menukarkan) adalah perilaku memilih-milih ayat Al-Qur’an dalam berdakwah atau dalam berkomunikasi agar tidak menyinggung orang dipilihlah ayat-ayat yang lunak, yang menghibur dan menyenangkan, sementara ayat-ayat yang terdengar keras, pahit dan isinya ancaman Allah tidak diungkapkan.

Ketiga, Menyampaikan kebenaran tidak tegas. Maknanya, agar tidak terdengar galak.

Berdiplomasi dan bijaksana itu perlu – dalam konteks tertentu – tapi tidak dengan menghindari ketegasan, kebenaran dan menyembunyikan ancaman Allah. Kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak ada yang disembunyikan.

Menyampaikan kebenaran tidak boleh takut resiko. Sebab, kalau takut resiko ya jangan berdakwah, yang artinya belum siap.

Dakwah menyeru kepada kebenaran adalah perilaku luhur dan mulia, tapi tentu ada resikonya. Nabi saja banyak yang membencinya apalagi manusia biasa.

Orang yang memilih ayat yang lunak-lunak, yang lembut, agar mendapat simpati – agar ceramahnya dipakai lagi – agar tetap laku sebagai ustadz. – adalah perilaku “menjual ayat dengan murah” yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Keempat, Tidak mau mengingatkan dan menyampaikan kebenaran.

Ini adalah indikasi keempat dari orang yang menjual ayat dengan harga murah. Ia tidak mau, jarang bahkan tidak pernah mengingatkan orang, menolak menyampaikan kebenaran yang ia tahu karena tidak biasa, merasa kagok, segan, takut tidak diberi jabatan dll.

Tahu kebenaran tapi tidak menyampaikan. Ini pun termasuk menjual ayat dengan harga yang sedikit atau murah.

Kelima, Tidak mau belajar ilmu agama. Maksudnya adalah seseorang tidak punya sama sekali alat (pengetahuan agama) untuk meluruskan orang lain berbuat salah dan keliru. Ia biarkan semua, ia maklumi, karena ia sendiri memang tidak punya pengetahuan agama untuk menegurnya.

KEMBALI ke pertanyaan apakah menjual ayat dengan Rp.10,6 miliar murah? Menurut saya tidak! Rp10,6 miliar itu banyak saudara.

Entah berapa ton beras, minyak, gula kopi, dan kecap serta pulsa hape – yang bisa didapat dengan uang 10,6 Milar itu.

Karenanya apa yang dilakukan MUI DKI Jakarta sudah benar.

Semoga bisnis ayat bisa menular dan ditiru oleh MUI daerah lain. Sehingga para kepala daerah bebas membuat kebijakan dan mendapat dukungan ayat para ulama setempat dan terwujudnya sinergi yang shoheh.

Dan semoga angkanya bisa terus naik.

Subhanallah wal alhamudulillah wa la ilahailallah Allahu Akbar
Wassalamu’alaikum wa rahmatulahhi wabarukatuh.

(Sumber: facebook Supriyanto Martosuwito)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed