by

Memahami Vaksin, DPT, DaPT

Oleh : Tonang Dwi Aryanto

Dok, saya diberi vaksin yang dari AZ, rasanya seperti digebuki orang sekampung. Kalau yang istri saya dapat yang dari Sinovac kok ringan-ringan saja, hanya merasa ngantuk dan lapar. Kenapa? Tanggapan:Pertama-tama, respon masing-masing orang terhadap vaksinasi memang berbeda-beda kekuatannya. Jadi berat ringannya gejala, tidak bisa menjadi ukuran mutlak. Beberapa tahun lalu, kita mulai kenal istilah “DPT pakai panas dan tanpa panas”. Awalnya, ketika anak-anak kita menjalani vaksinasi DPT (salah satu vaksin dasar dalam program pemerintah), maka sering sekali timbul demam.

Maka dibekali obat paracetamol yang sudah dibuat sebagai puyer. Rata-rata terjadi demam sekitar semalam, besuk paginya berangsung-angsur membaik. Anak-anak biasanya rewel semalaman, sebelum besuk paginya mulai tenang. Tentu kita ada rasa sedih, lelah dan khawatir. Maka ketika ada tawaran “DPT tanpa panas”, disambut gembira. Beda kedua produk itu pada pembuatannya. DPT yang produk pertama, dibuat dengan komponen sel utuh dari Bakteri Bordellia pertussis.

Dinding sel bakteri ini lah yang memicu demam penerima vaksinasi. Kemudian dibuat produk sel bakteri tapi sudah dihilangkan dinding sel nya. Maka kejadian panas tidak muncul atau kalaupun muncul, jauh lebih ringan. Disebut sebagai vaksin DaPT (Difteri, Aseluler Pertusis dan Tetanus). Teknologi pembuatan DaPT ini lebih kompleks, maka wajar harganya juga lebih tinggi. Tapi, ada sisi lain. Efektivitasnya juga berbeda. Produk pertama (DPT), memberi efek lebih optimal daripada produk kedua (DaPT).

Ada anjuran bagi penerima DaPT untuk melakujan vaksin ulangan (boster) beberapa tahun kemudian untuk mempertahankan kekebalan. Begitulah gambaran mudahnya. Dalam hal vaksin covid, produk Sinovac dibuat dari inactivated whole virus (virus utuh yang sudah dimatikan. Dengan kondisi itu, tersisa sifat perangsang imun terutama pada yang paling dominan: protein S. Dengan kondisi ini, respon imun yang timbul relatif lebih lemah daripada produk AZ. Vaksin produk AZ dibuat dengan teknologi lebih kompleks.

Ada bagian dari virus covid (sebagian kecil saja, dengan membersihkan dulu dari bagian-bagian lain), ditanamkan dalam vektor (virus pembawa). Maka tubuh kita harus merespon dua benda asing sekaligus pada prinsipnya: vaksin yang dibawa dan virus pembawanya. Walau virus pembawanya ini bukan yang biasa menginfeksi manusia, tetapi adalah benda asing yang harus direspon sistem imun kita. Dengan metode yang lebih kompleks tersebut, diharapkan efektivitas vaksin lebih tinggi, walau konsekuensinya, respon tubuh cenderung lebih kuat.

Akibatnya gejalanya juga lebih terasa. Tapi sekali lagi, tidak juga harus diartikan bahwa “kalau tidak ada gejala, berarti responnya tidak kuat atau bahkan tidak ada”. Karena semua kembali kepada kekuatan tubuh masing-masing. Respon dalam tubuh mungkin kuat, tapi tidak sampai timbul gejala signifikan karena tubuh kita kuat. Minimal semoga lebih menggambarkan mengapa yang menerima produk dari AZ, cenderung merasakan efek yang lebih kuat dalam bentuk gejala lebih signifikan, daripada produk Sinovac. Apakah berarti pasta penerima produk AZ mendapatkan kekebalan lebih baik daripada produk Sinovac?

Pada klausul DPT dan DaPT, kita sudah berpengalaman bertahun-tahun. Sehingga sudah mencapai efektivitas yang tinggi. Sudah banyak data. Sudah banyak pengalaman. Maka lebih mudah kita simpulkan.Pada vaksinasi covid, semua masih baru. Belum banyak data. Belum banyak pengalaman. Maka semua masih dalam fase mengumpulkan data-data. Karena itu, saat ini, apapun adanya, sudah mendapat vaksin saja, sudah bersyukur. Sambil tetap waspada dan memantau, semoga hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan. Sambil juga menyimak data-data yang terkumpul. Di luar sana, masih jauh lebih banyak lagi yang bahkan belum mendapat kesempatan divaksinasi. Mangga.

Sumber : Status Facebook Tonang Dwi Aryanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed