by

Yang Tolak Vaksin Layak “Dihukum”

Oleh : Budi Setiawan

Tanda kutip pada judul diatas ingin menegaskan bahwa hukuman bukan penjara atau denda buat yang tidak mau Vaksin dengan alasan apapun, kecuali alasan kesehatan yang terverifikasi oleh dokter. Hukuman yang dimaksud adalah semacam pembatasan gerak langkah mereka yang anti Vaksin dalam segala hal. Misalnya tidak dapat Bansos. Vaksin dulu baru dapat sembako. Vaksin dulu kalau mau terbang, naik kereta api atau naik bis antar kota.Vaksin dulu kalau mau urus surat di kelurahan, buat surat tanah atau surat rekomendasi, surat izin, surat persetujuan yang melibatkan lembaga pemerintahan.

Sektor swasta bisa berpartisipasi. Resto atau hotel menolak melayani mereka yang tidak punya sertifikat vaksin. Tapi memperlakukan istimewa mereka yang sudah divaksin. Mau diskon 20 persen di resto atau nginap di hotel? tunjukkan sertifikat Vaksin. Jadi mereka yang tidak mau Vaksin harus konsekuen dengan pilihannya. Mereka harus terima mobilitasnya cuma sejauh motor atau mobil mereka bisa menjangkau daerah yang mereka bisa tempuh tanpa sertifikat Vaksin.Yang sangat tidak bisa melakukan perjalanan antar pulau.

Mereka juga harus rela diperlakukan berbeda ketika mau makan di resto atau menginap di hotel. Aneka pembatasan ini diperlukan karena sudahlah terbukti melaluii aneka jurnal kesehatan bahwa dampak vaksinasi telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Diketahui bahwa mereka yang meninggal, kebanyakamya belum di Vaksin. Semua bukti tentang keampuhan vaksin sudah dijelaskan dalam aneka data yang tersebar dan bisa dibaca melalui pencarian Google.

Kita yakin meskipun yang wafat selama tsunami Covid 19 di Indonesia tinggi namun vaksinasi yang dilakukan telah menyelamatkan lebih dari ratusan kali lipat jumlah kematian yang bertengger di level 1000 orang perhari. Kita yakin yang selamat ketika isoman jumlahnya jauh lebih besar dibanding yang wafat, karena mereka sudah divaksin hingga gejalanya ringan saja. Kita tidak ingin kegenitan dan gaya-gayaan sok ilmiah padahal yang bersangkutan bukan dokter atau alasan agama yang dangkal menghalangi usaha pemerintah menyehatkan negeri ini.

Kita hukum yang anti Vaksin dengan mendukung aneka pembatasan yang dilakukan pemerintah.Agar yang awam tidak termakan kegenitan mereka yang sok jadi dokter padahal bukan dokter. Atau ocehan tolol para ustad dan oendeta dobol. Biarkan mereka yang tidak mau divaksin, menikmati kehidupan mereka dengan terus ber genit ria sampai akhirnya mereka sadar bahwa perilaku sok ilmiah dan sok jadi professor dokter hanyalah ilusi Ilusi dari seorang yang bodoh.Tapi tampil keminter…

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed