by

Kaya Ilmu Miskin Harta

Oleh : Ahmad Sarwat

Itu komentar saya kalau bicara tentang para santri kita yang berhasil melanjutkan studi ke Timur Tengah. Tidak sedikit yang sukses sampai bergelar doktor, bahkan dengan nilai terbaik syaraful ula.Kalau pas melepas keberangkatan para calon mahasiswa kita ke negeri Arab, saya bangga bukan main. Proses kaderisasi para calon ulama masa depan sedang berjalan dengan sistematis. Itu yang ada dalam pikiran saya

.Namun yang masih perlu ditingkatkan lagi dari mereka adalah karya tulis. Geliat untuk kembali ke kitab turats, talaqqi, daras dan mengambil sanad dari para masyaikh sudah sangat menggembirakan. Tinggal masalahnya bagaimana menggenjot mereka untuk berkarya yang langsung bisa dirasakan umat. Di sisi yang ini saya kok merasa agak miris dan prihatin. Ilmunya banyak banget, tapi karyanya tidak ada. Ah sayang sekali.

Biasanya alasan klasiknya begini : Afwan ustadZ. Kami ini kan lagi masa pendidikan. Pastinya belum layak untuk bikin karya. Ini masa menanam dan belum lagi masa memetik.Saya sudah hafal luar kepala jawaban macam itu. Makanya juga sudah tahu bagaimana menyanggahnya. Gini ya anak-anakku. Kalian lihat kakak-kakak senior kalian yang sudah rampung studinya? Sudah pada jadi orang top dan terkenal. Coba sebutkan mana karya tulis mereka saat ini? Tetap nggak ada kan? Memang nggak ada. Kalau sudah selesai kuliah itu, mana sempat terpikir untuk menulis. Dunia ilmu sudah berhenti berputar. Yang ada tinggal bagaimana cari uang. Soalnya kalau tidak cari uang, bagaiamana mau nikah? Bini mau dikasih makan batu?

So jangan bilang bahwa waktu menulisnya nanti-nanti saja, kalau sudah lulus dan pulang ke Indonesia. Ceritanya sudah lain lagi. Kalian akan disibukkan dengan berbagai rutinitas harian dan lupa menulis. Kalau pun mau menulis, ilmu yang didapat sudah mulai lupa. Jadi kapan waktu yang paling baik untuk menulis? Ya ketika masih kuliah. Toh nanti ada dosen yang siap membimbing, mengoreksi dan mengkritisi. Sekarang atau tidak sama sekali.

oOo

Seandainya hal-hal seperti ini bisa dipahami dengan baik oleh para mahasiswa kita, saya yakin akan ada begitu banyak nilai positif yang kita dapat. Apalagi kalau bisa dijalankan secara bersama, masif, dan kompak. Pasti cetar membahana. Hitungan kasar saja, tiap mahasiswa diwajibkan menulis satu makalah tiap satu semester, lalu makalah itu dibuat dalam versi pdf sehingga bisa diviralkan penyebarannya.

Tinggal dikalikan saja dengan jumlah mahasiswa kita. Anggaplah ada 5.000 orang. Tiap satu semester, koleksi buku pdf kita akan ketambahan 5.000 judul. Ke depan nanti, masyarakat Indonesia kalau mau cari rujukan terkait ilmu-ilmu keislaman, tidak perlu Googling. Cukup cari saja makalah-makalah berformat pdf karya para mahasiswa kita yang lagi menempuh pendidikan di Timir Tengah sana. Karena berformat makalah ilmiyah, maka pertanggung-jawaban ilmiyahnya pasti terjamin. Ada footnote yang bisa ditelusuri rujukannya.

oOo

Sebenarnya saya sih bisa saja memberi motivasi penulisan makalah ilmiyah ini di kalangan mahasiswa kita. Tapi akan jadi lain gaungnya kalau dilakukan oleh pihak yang punya pengaruh besar. Misalnya pihak sponsor mewajibkan setor makalah, atau KBRI atau atase pendidikan.Selain itu kerjasama juga dengan organisasi kemahasiswaan, baik yang sifatnya kedaerahan atau ikatan alumninya.

Tapi yang paling efektif sebenarnya kalau datang dari pihak kampus sendiri. Seperti yang kami alami di LIPIA. Selama kuliah 4 tahun, setidaknya kami diwajibkan bikin bahts (makalah) sebanyak tiga judul. Saya tidak tahu kalau kampus lainnya, apakah ada kewajiban menulis makalah juga atau tidak. Soalnya kalau pun ditulis, yang pasti tidak pernah dipublish. Jadi beberapa masukan dari saya sebagai berikut :

1. Bagusnya setelah dinilai, makalah-makalah itu jangan hanya disimpan di gudang. Kenapa tidak dipublish saja di internet, misalnya dalam format pdf? Maksudnya biar jutaan umat Islam yang haus ilmu agama bisa mengunduh dan membacanya. Ilmu tidak hanya numpuk di gudang perpustakaan. Tapi ilmu itu diviralkan.

2. Bagusnya makalah itu ditulis dalam bahasa Indonesia saja. Atau setidaknya dibuatkan terjemahannya juga. Maksudnya biar 221 juta muslimin Indonesia bisa memahaminya. Kalau menulisnya dalam bahasa Arab, yang mau baca siapa?

3. Biar tidak kaget dengan masalah ini, syarat penerimaan mahasiswa baru harus setor satu judul makalah. Jadi bukan cuma bisa bahasa Arab yang jadi ukuran, tapi kemampuan menulisnya juga harus sudah dijadikan tolok ukur prestasi sejak dini.Mau kuliah di Arab? Tunjukkan link makalah karya anda yang sudah online dan tunjukkan bahwa makalah anda sudah dibaca banyak orang.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed