by

Pandemi, Fokus Ibadah Atau Bantu Orang Lain?

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Gus Dur pernah bilang bahwa perjuangan sesungguhnya kadang baru berhasil setelah kita nggak ada. Jadi tidak selalu kesuksesan dirasakan secara cepat. Para politikus sukanya instan. Kasih subsidi atau bantuan tunai biar nanti dipilih lagi. Ada unsur pamer yang kental di situ. Membangun sesuatu yang berefek jangka panjang memang berat, para politikus tidak suka melakukan itu.

Hanya yang bekerja ikhlas yang mau membangun yang berefek jangka panjang. Lain lagi yang berbuat karena mengharap pahala. Jangankan tidak merasakan hasilnya, baru mau berbuat saja sudah ngitung pahalanya. Saya dulu sempat kalau mau sholat subuh saya belain sholat sunat dulu 2 rekaat. Karena katanya pahalanya lebih besar dari dunia dan seisinya. Tapi sholat sunat sebelum dhuhur nggak saya lakukan, karena nggak sebesar itu pahalanya. Akhirnya pilih2 ibadah mana yang pahalanya paling besar. Puasa sunah pun juga bisa ngitung2 mana yang pahalanya besar.Bayangkan setiap orang selalu ngitung pahala/imbalan, dunia pasti tidak akan jalan.

Ada orang2 yang bekerja ikhlas tanpa menghitung imbalan. Para relawan covid contohnya. Ada teman di Klaten ingin ngasih uang ke relawan karena kasihan, tapi ditolak. Lalu nawari vitamin, juga ditolak. Teman saya tabik. Mereka ingin bekerja tanpa ada imbalan apa-apa selain memang secara sukarela. Saya sangat malu mendengar cerita itu. Sementara kami memikirkan keselamatan diri dan keluarga, para relawan merelakan nyawanya untuk membantu para korban covid tanpa imbalan. Mereka nggak ngitung2 pahala.

Logika bisnis memang bagus ketika kita sedang bisnis, jangan rugi, dapat profit. Tapi menerapkan logika bisnis ketika berbuat kebaikan, bisa menghilangkan esensi kebaikan itu. Ada yang rajin sholat dan tepat waktu, karena itu perintah agama. Tapi orang yang sama tidak menerapkannya pada saat menghadiri rapat perusahan. Karena tidak ada pahalanya dan juga bukan perintah agama. Ada yang sangat dermawan iuran membangun mesjid . Tapi orang yang sama jadi pelit ketika diajak iuran membangun sarana olahraga atau seni. Karena membangun sarana olahraga atau seni tidak ada perintahnya dalam agama.

Ada yang rajin donasi Palestrina krn diminta memusuhi Yahudi tapi membantu saudara sendiri malas.Berbuat semata2 karena perintah agama sering tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sekarang begitu mudah menemukan mesjid mewah hampir di semua tempat di Jawa. Tapi sulit menemukan tempat olahraga untuk melatih kebugaran. Masyarakat lupa bahwa hidup perlu juga menjaga kesehatan, tidak cuma masalah ritual saja.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed