by

Ketika Pecundang Merasa Sok Bisa

Oleh : Aven Jaman

Oleh: Aven JamanIndonesia sukses jadi tertawaan sedunia. Bukan cuma karena glorifikasi yang tak beralasan para pemuja atas kemunculan Pak Mantan selama 2 detik di film The Tomorrow War, tapi juga demo-demo yang suruh Presiden Joko Widodo mundur.

Negeri ini memang sakit. Bukan nyata sakit akibat wabah tapi juga sakit karena banyak dihuni manusia-manusia yang malas menggunakan otaknya. Demo-demo itu misalnya. Bagaimana tak nyata menunjukkan betapa kita tengah sakit, konon demonya banyak melibatkan mahasiswa. Kelas sosial satu ini harusnya terdepan menunjukkan kemampuan menggunakan akal sehat. Faktanya, dengan demo tuntut mundur presiden pada situasi sedang PPKM justru menunjukkan lumpuhnya kemampuan bernalar sehat. Sakit!

Mereka seolah lupa PPKM dilatari oleh fakta bahwa kerumunan merupakan pemicu utama gelombang penularan baru wabah yang sedang melanda. Sisi lain, demo menciptakan kerumunan. Maka jelas pendemo menunjukkan kalau mereka mempertontonkan kebodohan luar biasa. Gilanya, mereka kebanyakan mahasiswa. IRONIS sekali. Makanya pas kalau dibilang bangsa kita ini sakit bukan karena wabahnya tapi terutama karena jarang yang pakai otak. Bagi saya, fenomena macam begini terjadi akibat ada yang sengaja mengondisikannya. Siapa? Jujur, tidak bisa tunjuk hidungnya langsung. Tapi dengan membaca tuntutan para pendemo, harusnya kita SADAR BAHWA ADA YANG MENUNGGANGI. Tuntut presiden mundur akibat kebijakan PPKMnya adalah sesuatu yang sangat politis.

Koherensi tuntutan itu dengan kebijakan PPKM tak ada. Tak percaya? Coba dipikir! Apakah kebijakan PPKM adalah sebuah skandal? Kalau bukan skandal, mengapa dijadikan alasan tuntut presiden mundur pakai tagar Jokowi End Game segala? Padahal, jika bukan kebijakan PPKM yang mesti diambil pemerintah, lantas harus ngapain di tengah lonjakan kasus yang menggila? PPKM ini solusi paling masuk akal. Mari kita membedahnya! PPKM diambil karena dianggap sebagai kebijakan jalan tengah antara pendekatan Draconian (pemaksaan kehendak penguasa untuk tutup total semua aktifitas publik tanpa kecuali) dan Darwinian (yang kuat akan wabah yang bertahan, bebas semau-maunya aja).

Dengan kata lain, PPKM adalah pelunakan dari LOCK DOWN sebab jika kita paksakan diri untuk lock down, kita bisa-bisa segera menjadi negara gagal, bangkrut karena pandemi. Sebab apa? Lock down mensyaratkan negara tanggung semua kebutuhan rakyat selama lock down berlangsung. Apa itu mungkin jika kas negara menipis? Bisanya tentu cuma berhutang. Sedangkan jika berhutang lagi, itu sudah tidak mungkin. Hutang kita sudah di ambang batas normal terhadap PDB. Jadi, pilihan berhutang jelas tak mungkin. Karenanya, sampai di sini harusnya kita sadar bahwa PPKM merupakan VIRTUS IN MEDIO (kebijakan jalan tengah) yang paling masuk di akal sehat berkaca pada kondisi real yang ada dilihat dari seluruh aspek bernegara.

Sekarang, gegara kebijakan PPKM, lantas ada gelombang aksi demo tuntut presiden mundur?? Jelas ini sangat politis. Siapa yang berpolitik, apakah adik2 mahasiswa itu tengah berpolitik? Jelas tidak. Lantas siapa? Kembali kubilang bahwa untuk tunjuk batang hidungnya langsung aku tidak bisa. Tetapi siapapun dia atau mereka, pastilah orang-orang tuna nurani tapi raksasa dalam hasrat berkuasa. Di pikirannya (mereka) cuma bagaimana bisa (kembali) berkuasa, tak peduli bila harus menggiring kesengsaraan rakyat akibat wabah sebagai kegagalan rezim penguasa yang ada. Ini SANGAT AMAT JAHAT!

Sudah tak punya nurani, otak juga tak dipakai. Kenapa? Karena meski misal Jokowi mundur, tidak bisa serta-merta Makruf Amin seketika jadi presiden karena alasan pemakzulan terhadap Jokowi (jika karena kebijakan PPKMnya) bukanlah sebuah skandal. Maka kalau memaksa Jokowi mundur berarti wakilnya juga harus mundur. Mereka sepaket dalam rezim penguasa yang sedang berlangsung sekarang, maka jika PPKM adalah alasan pemakzulan presiden, itu harusnya berarti kegagalan rezim. Ya mesti sepaket dong disuruh mundur. Apa mungkin?Jika pun mungkin, itu berarti kita mesti selenggarakan pilpres baru.

Pertanyaannya, apakah kita bisa selenggarakan pilpres baru di tengah situasi wabah berkecamuk begini? Jelas juga tidak mungkin. Dananya boro2 buat selenggarakan pemilu, buat talangi yang paling sengsara akibat dampak pandemi saja belum tentu cukup. Kecuali ya…kecuali orang2 dalam foto di postingan ini mau urunan buat nalangin kali aja bisa membantu sedikit. Tapi apa mungkin? Maka lagi-lagi, tuntutan supaya Jokowi mundur dalam apa yang mereka suarakan lewat tagar JOKOWI END GAME itu jelas merupakan tuntutan gila. Hanya orang-orang yang sedang sakit jiwa yang melantang-dengungkan itu.Semoga bukan Anda ya, Saudara!A J.

Sumber : Status Facebook Aven Jaman

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed