by

Demokrasi Ala Surabaya

Kasus bu Risma jadi Wali kota Surabaya memang unik. Dari awal, ada partai yang mengorbitkan, masyarakat Surabaya juga termasuk cerdas dan jujur dalam memilih. Meskipun di perjalanan jabatan periode 1 sempat ada ontran-ontran mau dilengserkan karena mungkin tidak mau diajak ‘kompromi’ sama pejabat-pejabat di daerah(DPRD) atau tokoh partai, tapi backing pucuk pimpinan partai pengusungnya cukup kuat dan dukungan masyarakat tetap konsisten, gagallah pelengseran itu.

Di periode kedua, bu Risma sulit dibendung dengan kondisi yang hampir sama, ada partai pengusung dan tersedianya pemilih yang cerdas serta jujur.

Demokrasi ala Surabaya tidak mudah diulang/dicopy di tempat lain. Bahkan di Surabaya sendiri untuk waktu mendatang. Meski tersedia calon yang baik/mumpuni, kadang kualitas pemilihnya yang justru tidak mumpuni. Memilih orang yang salah untuk jabatan pimpinan daerah. Jadi untuk berhasil, keduanya harus ada: calon yang mumpuni dan pemilih yang cerdas dan jujur.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed