by

Gibran Rakabuming Memang “Edyan”

Oleh : Susy Heryawan

Lurah dan Linmas salah satu kelurahan di Solo mengutip uang THR dari para pedagang. Besaran antara Rp.50.000,00- Rp. 100.000,00. Budaya lama yang sudah menghilang ternyata empat tahunan kembali lagi. 

Ada 145 titik yang dimintai THR. Bisa dibayangkan dari jumlah titik itu dikalikan banyaknya toko dan pedagang kali rupiah. Berapa saja uang yang bisa dijadikan uang saku lebaran.

Spontan, Gibran Rakabuming selaku walikota, atasan  lurah dan linmas mengembalikan itu dari toko ke toko, pedangan ke pedagang. Ia berpedoman pada SE KPK mengenai pungutan untuk THR.  Hal yang sudah biasa.

Walikota mengatakan, biasakan melakukan hal yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Pungutan dan kutipan itu memang bagian tak terpisahkan di masa lalu, kini juga keknya masih deh. Hanya saja belum terungkap.

Ormas, kantor-kantor, mungkin juga pribadi-pribadi sangat mungkin menjadikan pihak lain sapi perah. Mungkin pula mereka yang dimintai ada yang tidak ikhlas, ada pula yang setengah hati, pun tetap ada yang menilai sebagai sedeqah.

Kondisi sedang tidak baik. THR ASN pun dipotong dan itu menjadikan mereka membuat petisi. Padahal keuangan negara sedang tidak baik. Anggaran pemotongan dialokasikan untuk Prakerja dan bansos. Eh lha ASN yang tidak cukup parah terdampak pandemi malah ngotot minta seperti biasanya.

Apa yang dilakukan Gibran Rakabuming untuk mengembalikan satu demi satu kutipan itu sesuatu yang baru. Ia mengajak camat yang ada di wilayah di mana ada “pemalakan” sebuah terobosan. Jokowi saja tidak pernah melakukan hal ini.

Apakah ini pencitraan? Bagi kubu yang tidak respek jelas iya, namun pada umumnya, yang wajar, ini adalah sebuah kewajaran,hal yang lumrah. Melihat karakternya ini adalah, perpaduan Ahok dan Jokowi.

Ahok yang keras, lugas, namun ngaco itu ada dalam diri Gibran. Lugas, keras, dan karakter Jokowi yang membuatnya tidak ngaco. Ini perlu jam terbang tinggi, agar tidak kebablasan model Ahok.

Potensi ngaco sangat mungkin. Mengapa demikian?

Dasarnya ada. Modelnya begitu sebenarnya. Lihat saat pelantikan Jokowi pertama. Cara bersikap identik dengan Ahok.

Ditambah dengan sanjungan dan pendekatan ala parpol miskin prestasi. Siapa saja mereka pada datang. Ini bisa menjerumuskan. 

Sumber : susyharyawan.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed