by

Demokrasi Takhayul

Oleh : Sahat Siagian

Terlalu banyak tahyul di sekitar kita. Ketika para researcher memetik kecurigaan bahwa ada kemungkinan Musa dan beberapa tokoh agamawan lain fiktif, sebagian dari kita berteriak kalap: “Itu blasphemy, penghancuran akal sehat, menantang Tuhan.” Gila. Riset, yang metodologinya terukur, dibilang blasphemy?

Demikian juga dengan demokrasi. Teman-teman saya di luar sana tahu persis bahwa saya cenderung memajukan Jokowi lagi sebagai presiden Indonesia di periode ketiga. Mereka bilang—bule lho—saya telah menghianati konstitusi dan menuntun Indonesia ke arah sesuatu yang chaotic. Saya langsung muntap.Kenapa kalian pertahankan ketentuan bahwa seseorang hanya boleh menjabat presiden 2 periode? Apa basis akademisnya?

Tidak satu bisa jawab. Ya, kalau sudah berurusan dengan basis akademis, banyak orang gagu dengan apa yang mereka percayai bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Sampai sekarang tidak ada penjelasan akademis yang menyatakan bahwa 2 periode adalah sesuatu yang harus dipenuhi umat manusia. Mereka hanya bilang bahwa konstitusi telah menetapkan demikian. Kita harus patuh.

Berapa banyak dari konstitusi yang yang sudah kalian amandemen bahkan anulir—sebagian diganti—dan disulih ke sesuatu yang baru? Banyak…, banyak banget. Tapi kalian tidak merasa telah berkhianat kepada founding fathers? Semprul. Untuk hal yang satu kalian perbolehkan, hal lain kalian tabukan. Sudahlah…, kelakuan cherry picking dalam beragama jangan kalian bawa ke dalam hal bernegara. Tanggalkan kesesatan kalian. Cukuplah itu di gereja untuk bercengkerama dengan pundi persembahan dan gratituta umat. Tapi kuduslah dalam berbangsa dan bernegara.

Sebab ini urusan satu negara, bukan pemeluk agama kalian doang.Kalian tahu Angela Merkel? Tahun ini dia akan turun dari jabatannya setelah 16 tahun memimpin Jerman. Ya, 16 tahun, dipilih berulang kali. Hancur Jerman karena itu? Anda blo’on. Belum pernah Jerman sekuat sekarang pasca PD II. Masih ngotot bahwa jabatan dua periode adalah sesuatu yang suci?

Angela Merkel mundur dari jabatan karena partai yang dipimpinnya kalah dalam pemilu lewat. Rakyat Jerman tidak setuju dengan kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu lunak kepada para pengungsi dari timur tengah. Pengungsi diduga sebagai sumber kekacauan dan keresahan yang mulai merebak. Migran dari Timteng ngotot berjuang agar kepercayaan asal mereka menjadi acuan kehidupan di Jerman. Rakyat marah dan menunt.ut Merkel mengusir mereka.

Merkel lahir dari keluarga Kristen yang taat. Buyut hingga keponakannya mengabdi sebagai pendeta mau pun klerikus gereja. Ajaran Kristus mewarnai jiwa Merkel dalam memimpin Jerman dan Eropa. Mengasihi tanpa syarat adalah kredo yang dipegangnya teguh. Rakyat kecewa. Partainya kalah dalam pemilu. Tumbangkah Merkel?

Harusnya tidak. Merkel masih berpeluang memegang kekuasaan dengan membentuk pemerintahan koalisi. Syaratnya satu: keras dalam bersikap kepada para pengungsi kurang ajar dan penghianat.Merkel menolak. Cinta, tiang penjuru ajaran Kristus, adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. Dia mundur dalam beberapa bulan ini. Perempuan terbaik Jerman jatuh justru karena demokrasi itu sendiri.

Mau tahu berapa waktu yang dibutuhkan Xie Jin Ping dalam mereformasi China? 8 tahun. Itu waktu yang dia minta untuk mengangkat nasib 660 juta orang miskin di China naik ke garis kehidupan manusia normal. Dan persis di tengah masa pandemi tahun lalu China berhasil menuntaskannya setelah nyaris gagal karena Corona.

Kelirukah jika Politbiro merekam suara nurani rakyat dan memberi kekuasaan seumur hidup kepada Xie? Cina bukan Barat dan tak perlu menjadi Barat. Cina punya kearifan sendiri.Tak ada yang kekal di bumi ini. Apa pun bisa diganti jika dianggap perlu, termasuk masa kekuasaan presiden. Tapi kalau Xie berhasil mengentaskan Cina dari kemiskinan dalam waktu 8 tahun, kenapa Jokowi tidak bisa?

Xie tidak seperti Jokowi, yang mewarisi segunung persoalan bernamakan agama. Xie tidak menghabiskan bagian terbesar dari anggaran tahunan negaranya buat membiayai agama. Tidak satu sen pun. Jokowi harus mengkonsolidasikan kekuatan. Butuh satu periode sebelum dia akhirnya mampu menghancurkan para setan genderuwo.

Pak Chaplin masuk tempat tidur, Jendral kardus gigit jari, imam besar para pemabuk masuk kandang, dan banyak kekuatan palsu harus dipreteli satu per satu. Butuh satu periode. Lalu Corona menghantam.Apa salahnya kita beri kesempatan kepada Jokowi satu periode lagi untuk menuntaskan apa yang telah dimulainya? Konstitusi? Bisa diamandemen. Itu pun demokratik. Para penolak Jokowi 3 periode—seperti direkam SMRC—bersikap seperti itu untuk menjaga agar Jokowi tidak terjerembab ke kebobrokan yang ditanggung Soeharto. Buat mereka 2 periode adalah ketentuan undang-undang. Titik. Itu suci. Itu sakral. Itu sama kuatnya dengan firman Allah.

Berapa pasal dari undang-undang dasar yang sudah diamandemen? Kenapa kalian tidak merasa telah melanggar demokrasi dan konstitusi karena itu? Aneh. Cherry picking lagi.

Untuk sementara ini masih Jokowi yang terbaik. Lalu kenapa kita buang yang terbaik demi lamunan tukang cendol?Sekali lagi, kalian telah berdosa dalam hal beragama. Jangan ulangi lagi dalam bernegara. Mencalonkan Presiden Joko Widodo ke periode 3 mungkin bukan sesuatu yang benar dan malah cenderung sesat. Sila kalian uji dengan menyodorkan pilihan alterna. Gabungan Demokrat, PKS, dan Nasdem, misalnya. Itu sahih dan demokratik.

Tapi ingat, jangan mabok buah cherry lagi. Pastikan Pemilu berlangsung adil dan jujur. Terima apa pun hasilnya termasuk keputusan amandemen. Kita telah pilih mereka yang bersidang d gedung vagina merekah. Hormati dan bersetialah. Begitulah kita menghormat agung kepada demokrasiRakyat pemegang kekuasaan tertinggi. Bukan tahyul yang kalian pelihara berabad-abad. Mengamandemen konstitusi adalah kesetiaan kepada konstitusi.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed