by

Covid-19 dan Rekonstruksi Budaya

Pandemi covid-19 menuntut manusia untuk berfikir keras agar mampu beradaptasi demi keberlangsungan umat manusia. Salah satu bentuk adaptasi manusia saat ini dalam menghadapi pandemi covid-19 adalah dengan merubah budaya. Apakah merubah secara permanen atau hanya sementara, hingga detik ini belum bisa dipastikan.

Salah satu budaya yang terpaksa dirubah untuk sementara waktu adalah budaya berkumpul dan berkerumun dalam jumlah besar pada berbagai acara seperti pengajian, wisuda, upacara, pesta pernikahan, konser, dan yang lain. Karena budaya ini tidak terkait langsung dengan keberlangsungan hidup manusia, maka mudah saja untuk sementara waktu menghilangkan budaya ini.

Pandemi covid-19 membuat manusia menyadari bahwa pengajian tidak harus dilakukan secara kumpul berjamaah. Zaman yang canggih menjadikan pengajian bisa dilakukan secara online di manapun. Pun demikian dengan pernikahan. Tidak harus selalu dengan resepsi yang mengundang banyak orang. Seperti halnya dengan wisuda. Ternyata dengan atau tanpa wisuda seperti biasanya, mahasiswa sudah dianggap lulus ketika lulus sidang skripsi. Manusia benar-benar diajarkan untuk memikirkan hal-hal yang sifatnya substansif dan primer.

Pandemi covid-19 telah membuat banyak budaya yang direkonstruksi, entah untuk sementara waktu, atau selamanya. Semoga manusia bisa segera mampu beradaptasi dengan munculnya budaya yang benar-benar baru, atau budaya lama yang dibangun kembali dan ditata dengan desain yang baru. 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed