by

Lockdown, PPKM dan Penurunan Kasus

Oleh: Dr dr Dominicus Husada SpA (K)

Apakah kasus menurun dalam 2 minggu terakhir karena efek PPKM?

Pasti ada peran PPKM di situ, walau bukan satu-satunya. Semua pembatasan orang berkumpul sehingga bisa saling menjaga jarak minimal 2 meter akan sangat bermanfaat. Semua upaya membuat orang mengenakan masker jelas berguna. Jadi PPKM, PSBB, atau apapun namanya, akan mempunyai peran.

Jika dilakukan secara ekstrem, atau yang dikenal sebagai “lock down” biasanya efek akan lebih dramatis. Ketika negara maju melakukan lock down, efek langsung terlihat. Lock down paling keras dilakukan China pada November 2019. Hanya China yang mampu melakukan pada tingkat tersebut, lebih dari negara maju di dunia. Sebenarnya China hampir berhasil melokalisir kasus saat itu dan semua ahli infeksi sudah hampir menyanyikan lagu kemenangan.
Sayangnya ketika berita di bulan Desember 2019 menyatakan bahwa kasus juga merebak di Iran dan Italia, tahulah kita bahwa manusia sudah kalah. Setidaknya kalah untuk sementara. Negara lain seperti Iran dan Italia tidak akan mampu melakukan seperti China.

Ada orang yang menyalahkan pemerintah RI karena tidak mau melakukan lock down di pertengahan 2020 ketika kasus meningkat pada taraf yang sulit diatasi. Mereka berpendapat “seandainya saat itu dilakukan lock down maka kasus tidak akan bertahan sampai hari ini”. Pendapat ini agak meleset.

Lockdown, atau apalagi PPKM, tidak akan mampu menahan kasus untuk jangka panjang. Lock down hanya akan menyelesaikan fase gelombang saat itu. Setelahnya kasus akan tiarap sampai muncul gelombang baru. Itu sebabnya ia diberi nama gelombang, karena memang bentuk yang kita lihat persis gelombang. Datang lalu pergi lalu dating lagi, dan seterusnya.

Saat ini kasus merebak lagi di banyak negara maju, sekalipun beberapa kali lock down sudah mereka lakukan. Bahkan China mencatat ratusan kasus minggu ini, angka tertinggi mereka sejak akhir 2019. Jadi jelas bahwa penguncian tidak akan menahan kasus untuk jangka panjang. Sebaliknya, ada juga negara yang tidak pernah melakukan lock down seperti Amerika Serikat yang juga mencatat penurunan kasus sangat signifikan, terutama setelah vaksinasi mencapai cakupan di atas 60%. Hal ini membuktikan bahwa lock down bukan satu-satunya hal yang dapat menurunkan kasus.

Amerika Serikat minggu ini mencatat kenaikan kasus signifikan. Rumah sakit di daerah-daerah selatan seperti Florida, Texas, dan sebagainya sudah banyak yang penuh dan menyatakan kekurangan tempat untuk menampung pasien yang terus berdatangan. Seperti diperkirakan, daerah selatan tersebut mencatat angka cakupan vaksinasi yang rendah.

Negeri kita tidak akan mampu melakukan hal yang dibuat China, dalam hal lock down. Negeri kita juga tidak akan mampu melakukan yang dikerjakan Amerika Serikat, dalam hal vaksinasi. Jadi kedua negara tidak dapat disepadankan dengan Indonesia.

Keterbatasan itu membuat upaya pembatasan kontak antar manusia tidak akan pernah optimal di sini. Kita perlu mengandalkan hal lain. Sayangnya opsi kita tidak banyak karena banyak aspek sepanjang sejarah bangsa tidak berpihak pada pencapaian hasil penanganan wabah yang mumpuni. Di lain pihak, kita boleh merasa beruntung karena gelombang akan menyurut secara periodik sekalipun tidak cukup baik upaya yang dilakukan.

Jangan dilupakan juga bahwa alasan atau penyebab selesainya pandemi Flu Spanyol pada 1918, setelah menghabisi 50 juta nyawa manusia, termasuk seperempat penduduk Pulau Madura, tidak sepenuhnya diketahui. Pasti ada kekuatan doa di situ, atau habisnya reservoir untuk virus, atau perubahan iklim, atau yang lain. Saat pandemi Flu Spanyol tidak ada obat mujarab dan belum ada vaksin sehingga peran kedua aspek ini bisa ditiadakan.

Saat ini pilihan paling rasional adalah on dan off. Jika kasus meninggi maka kita akan melakukan pembatasan dalam bentuk PSBB, PPKM, atau lock down. Jika kasus menurun maka pembatasan akan dilonggarkan kembali.

Seluruh dunia melakukan hal serupa berkali-kali. Sekali lagi, tidak mungkin dengan sekali PSBB/PPKM/lock down pandemi akan berhenti. Masih akan ada gelombang berikutnya, menurut ilmu. Dan tentu tidak hanya sekali. Padahal, yang dikhawatirkan, gelombang berikutnya akan lebih mematikan, seperti yang nampak pada beberapa pandemi sebelumnya.

(Sumber: Facebook)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed