by

Sambo Gitu Loh

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Sambo kini bukan sekadar nama orang, bukan sekadar kasus dan bukan sekadar skandal aparat elite. Sambo kini menjadi kosakata baru yang memperkaya bahasa pergaulan.

“Sambo” kini sudah jadi lagu juga. Menyusul popularitas “Bento”nya Iwan Fals dan Swami. “Namaku Sambo / aku seorang jendral, ” dendang dua bocah sekolah yang, selain piawai menyanyi, juga main gitar.

Di warung kaki lima, seorang teman makan nasi bebek goreng dengan sambel super pedas. Sembari ngos-ngosan dan mengibas-kibaskan telapak tangan ke mulutnya yang kepedasan, dia teriak;

“Rasa sambelnya, wuiih Sambo sekali…” katanya, disambut gelak tawa yang mendengarnya.

Seorang teman yang baru datang bergabung dan sedang kesal lantaran gagal mendapat pinjaman uang dari temannya – padahal dia tahu temannya kaya raya, menggerutu;

“Dia tega banget. Lebih Sambo dari Sambo!”

Ada juga cerita di tempat lain, tentang perubahan watak kawan karib yang dulu lempeng, ramah dan tegas, mendadak penuh selidik, tidak enjoy dan berpembawaan curiga.

“Kok dia jadi kayak Sambo, ya…? ” kata kawan saya heran.

Pendek kata, Sambo mendefiniskan serba lebih, serba woi, dan hal hal yang tidak normal. Juga hal hal yang heboh. Atau asyik juga.

“Ayolah kita nyantai, minum bier, kamu ‘kan lagi jadi temannya Sambo…”

Dan oh, ya, seperti heboh Gayus Tambunan dulu, kasus Ferdy Sambo melahirkan karya kreatif dan kritis dari pencipta lagu, musisi dan dan penyanyinya. Asyik.

SAMBO menjadi topik yang mengakrabkan pembicaraan antar teman di hari hari ini. Kemarin saya dipertemukan dengan sesama pensiunan wartawan dan akademisi di satu kampus negeri. Sebelum teman teman yang kami undang, hadir lengkap dan menginjak diskusi topik utama, kasus Ferdy Sambo jadi pergunjingan di antara kami.

“Tuhan akhirnya membuka tabirnya, Tuhan tak suka yang berlebih lebihan. Dia berikan jalan untuk menghinakannya, karena bertindak melebihi Tuhan, “ seorang teman baru yang religius, berkomentar lirih.

“Kenapa sebodoh itu, mengeksekusi anak buah di rumah dinas, di rumah yang di tempati, “ kata yang lain.

”Kalau saya yang jadi Sambo, dengan Rp 100-200 juta bisa bikin yang kita benci hilang. Dan untuk dia kan itu uang kecil. Receh. Apalagi polisi kan temannya preman juga, bisa diatur di mana kek, yang penting jauh dari rumah, “ teman lain menempatkan diri sebagi sesama penjahat.

DI LUAR kosakata baru, skandal Irjen. Pol. Ferdy Sambo menegaskan bahwa citra kepolisian dan lembaga Polri rusak, terutama oleh ulah oknum polisi sendiri. Bahkan dari kalangan elitenya. Bagaimana pun patronisme masih sangat berpengaruh.

Apa yang ditegaskan bukan apa yang dilakukannya sendiri.

“Ikan busuk dimulai dari kepalanya! “ kata Pak Nelayan.

Beberapa teman mengisahkan diri dan keluarganya yang dikerjai oknum polisi. Beberapa nama lingkaran Sambo disebut. Memang dasyat dasyat.

Dalam kasus tanah misalnya, ada jendral polisi yang terang terangan minta separuh luas tanah, jika sangketanya bisa dibereskan. Dan nilainya puluhan miliar. Padahal itu tanah yang dikumpulkan dari hasil kerja berpuluh puluh tahun, dan dia korban penipuan.

Skala pemerasan polisi dari jutaan hingga puluhan miliar, dengan contoh contoh aktual. Hampir semua teman saya pernah dikerjai oknum polisi, di kantor polisi.

Pergunjingan “Konsorsiom 303” dan bisnis sampingan hitam lain – dengan gaya hidup isteri isteri para oknum jendral polisi – menguak, para elite polisi yang hidup tidak sesuai profilnya, tidak sesuai dengan gaji dan tunjangan serta fasilitasnya.

Tidak mencerminkan abdi negara dan pelayan masyarakat. Serba wah.

Kenyataan itu mensahkan pergunjingan keharusan adanya uang pelicin dan sogokan untuk masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol) dan Sekolah Polisi, yang sudah lumrah dan jadi rahasis umum.

“Nggak apa nyogok sampai semiliar, asal nantinya bisa jadi Sambo…” begitu celoteh mereka.

Sambo – Lagi lagi Sambo!

Ada video parodi anak anak dan orang dewasa menirukan adegan rekontroksi Sambo. Juga video dari polisi yang menjelaskan bergabung dengan korps polisi gratis dan mendapat tanggapan olok olok di Tik Tok. Sama juga di Akmil – untuk calon taruna TNI.

Ya – mungkin saja ada anak petani, tukang gorengan, anak penjaga sekolah, dan warga klas menengah bawah yang diterima gratis di Akpol. Tapi jumlah mereka nampaknya tak lebih dari 5 %. Mereka pun didaulat jadi pi-ar (petugas public relations), humas, sekalian tameng di media massa untuk pencitraan.

“Kami juga menampung orang miskin, lho. Gak benar tradisi sogok menyosok itu! “. Kira kira begitu dalihnya.

Di balik itu, tetap saja, masuk jadi ajang cari uang panitia penerima. Mayoritas di dalam, yang menempuh pendidikan dan mendiami asrama, anak anak polisi dan jendral juga. Dan tarif sogokannya tambah tahun tambah naik.

Mengapa mereka mau? Karena mereka tahu, bahwa investasi orangtua mereka akan segera kembali. Anak bupati dan pejabat sipil pun mau anaknya masuk Akpol, buat jaga jaga kalau nanti bapaknya kena kasus.

Mereka tidak melihat Jendral Hoegeng Imam Santoso yang hidupnya serba kekurangan sebagai seorang jendral dan pensiunan Kapolri, sebagai role modelnya.

Mereka melihat gaya hidup sosok teman teman Ferdy Sambo.

Hmm, sungguh sangat Sambo.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed