by

Pandemi di Indonesia, Que Sera Sera?

Oleh: Erizeli Bandaro

Pandemi sudah berlangsung lebih 1,5 tahun. Jumlah yang meninggal sampai dengan minggu lalu sebanyak 97000 orang. Saya tidak akan membahas soal pandemi dari sisi penanggulangan dan kesehatan. Tapi saya akan membahas soal dampak ekonomi. Berdasarkan data desember 2020, korban PHK akibat kebijakan PSBB mencapai 2,7 juta orang. Artinya angka pengangguran bertambah jadi 9,77 juta. Apakah ini masalah? Untuk negara besar dengan rasio GINI terukur dan terkendali engga ada masalah. Tapi untuk Indonesia itu sangat beresiko.

Mengapa? Negera lain walau terjadi ketimpangan penghasilan namun rasio sumber daya tidak begitu timpang. Misal china. Rasio GINI 46 % tapi sumber daya 100% negara kuasai. Ketimpangan hanya dari segi pendapatan. Sementara Indonesia walau rasio GINI 38,1 namun rasio GINI lahan dan SDA sangat timpang, yaitu 68,3. Artinya hanya 1% penduduk mengusahai 68,3 % lahan dan sumber daya. Sementara kekuatan ekonomi kita bukan ditopang oleh kelompok 1% itu tapi oleh 99 % rakyat lewat umkm pasar domestik.

Nah apa jadinya bila 99% itu tidak punya akses ekonomi akibat kebijakan penanggulangan pandemi covid 19 ? Itu akan cepat sekali jadi masalah politik dan sosial. Chaos tidak bisa dihindari kalau tidak cepat diantisipasi untuk pembukaan akses ekonomi. Sementara kelompok yang 1 % mereka engga ngaruh. Ketahanan ekonomi mereka kuat dan cenderung mengandalkan pasar ekspor. Walau pasar domestik lesu atau nyungsep mereka tetap survival. Ya tinggal PHK aja. Inilah yang bisa menjadi pemicu chaos. Karena rasa ketidak adilan ekonomi.

Saya tahu pemerintah menghadapi dilematis. Antara ekonomi dan kesehatan. Tapi juga harus dipahami bahwa konndisi real ekonomi kita berbeda dengan china atau AS atau negara lain. Khususnya soal rasio GINI. Jadi engga bisa kita memakai standar negara lain dalam mengatasi pendemi. Karena ini bukan hanya menyangkut nyawa tapi juga ekonomi yang bisa berdampak luas secara politik.

Saya tahu selagi kita menerapkan standar luar menyelesaikan masalah internal selama itu sulit kita akan menyatukan suara. Persepsi berbeda tentang covid tidak bisa diselesaikan dengan salah atau benar tapi harus melalui kearifan lokal dengan tetap menghormati cara cara akademis. Kalau tetap dengan sikap seperti apa kata sains dan WHO ya saya hanya bisa berkata. “Whatever Will be Will be. Que sera sera..”

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed