by

Bersekolah Tapi Tambah Bodoh

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu. Sekarang keingat lagi gara2 topik ‘muhrim’. Mahasiswi bimbinganku yang pinter baru lulus. Seperti biasa saya tanya mau kerja dimana, apalagi ini mahasiswa super cerdas “Rencana kerja atau neruskan bisnis orang tua?” “Nggak akan kerja pak. Saya mau belajar agama.”

Tentu saya kaget. Dengan kemampuan dia yang hebat dia bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus.”Mengapa?” tanya saya.”Selama ini sudah saya habiskan waktu saya untuk belajar ilmu dunia. Saatnya saya belajar agama”, begitu kira2 jawabnya.

Mahasiswi cantik berkerudung itu memang anak bimbingan akademis saya, tapi dia bukan anak saya. Saya tidak bisa terlalu mencampuri.Tidak lama sesudah itu saya dapat undangan perkawinan dari dia. Kubaca siapa yang mengundang, saya nggak kenal. Ternyata yang mengundang calon suaminya. Saya mulai bingung. Lalu dia jelaskan bahwa nanti pestanya akan dipisah laki perempuan.

Saya mulai nggak sreg dengan cara seperti itu. Akhirnya kuputuskan tidak datang. Akan repot dan aneh apalagi kalau bawa istri.Si mahasiswi ini tentu saja anak yang baik, pinter, rajin dan tidak suka bikin masalah. Tapi mungkin karena didikan dan pergaulan akhirnya begitu. Sekolah dan ilmu yang dia pelajari selama ini dianggap bukan bagian dari amalan agama. Sementara mencari ilmu punya tempat yang mulia dalam agama.Lalu pesta laki perempuan dipisah.

Ya tujuannya baik tapi alasannya yang tidak baik. Mereka berpikir laki perempuan bukan muhrim tidak boleh di satu tempat. Lalu apa mereka nggak mau ke pasar? Mall? Naik pesawat? Di situ campur laki perempuan. Di ruang kelas juga begitu. Kita menghormati pilihan orang. Tapi saya tidak cocok dengan pandangan dan sikap seperti itu. Mereka merendahkan manusia yang dilengkapi dengan nalar dan nuraninya.

Sebelumnya, beberapa tahun sebelum reformasi ada teman dosen yang nikah, laki perempuan dipisah. Sempat takjub saat itu (kesel maksudnya). Nggak tahu istri teman ini yang mana. Pas pasca perkawinan, teman ini main ke rumah kontrakan. Dia masuk ke rumah ngobrol, istrinya ditinggal di sepeda motor di pinggir jalan. alamak (dalam hati berkata pasti istrinya nggak cantik, jadi nggak eman2 di tinggal dipinggir jalan, atau malu mau dipamerkan).

Dalam hidup, mereka tidak konsisten. Terlalu banyak ketidak-konsistenannya. Karena kalau konsisten memang tidak bisa mereka hidup di jaman sekarang dengan cara seperti itu. Ribet dan tidak masuk akal.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed