by

Ekstrimisme & Pendidikan

Oleh : Suratno Muchoeri

Kenapa orang terdidik bisa terpapar ekstrimisme & kenapa yang pendidikan teknik-eksak lebih rentan ke muslim-ekstrimis? Baca buku baru tapi lama. Dulu udah baca versi Inggris (Engineers of Jihad terbit 2016). Sekarang baca lagi versi bahasa Indonesia yang beli online dan datang kemarin. Sebelum2nya lebih banyak teori kenapa orang terpapar ekstrimisme, mengkaitkan dengan kemiskinan (pendidikan rendah, status sosial juga) dan atau model tertentu penafsiran doktrin agama.

Ternyata setelah profiling, banyak orang2 terdidik yang terpapar juga (artinya nggak miskin) dan bahkan termasuk yang pendidikan agama juga, meski yang non agama (soshum & teknik-eksak) nggak beda. Selain itu ada pola2 berbeda dari paparan ekstrimisme terkait bekgron pendidikan. Kenapa orang2 terdidik bisa terpapar ekstrimisme? Karena ada deprivasi-relatif. Jadi seperti kata Amin Mudzakkir udah sekolah2 tinggi tapi gak sukses2 amat, bahkan kalah sama yang sekolah rendah terus masuk politik dan atau jadi komisaris he3.

Orang terdidik berharap akan sukses termasuk dalam hal material/ekonomi. Ketika yang terjadi sebaliknya mereka kecewa dan saat itulah potensi terpapar ekstrimisme muncul. Dalam skala2 global, profil ekstrimis terdidik banyak muncul dari era dimana ada krisis politik & ekonomi global, seperti tahun 1980-70 an. Kemudian ada pola paparan ekstrimisme terkait bekgron pendidikan. Jika orang2 soshum lebih rentang terpapar ekstrimisme kiri, maka orang2 teknik-eksak lebih rentang terpapar ekstrimisme kanan (termasuk muslim ekstrimis).

Alasannya selain deprivasi-relatif juga terkait psikologi kebutuhan. Ekstrimisme kanan lebih mengakomodir kebutuhan-kognitif termasuk dalam hal agama. Klo kita lihat ideologi ekstrim kanan bercorak biner (hitam-putih), bercorak penuh kepastian, penuh kekakuan/rigid, agak elitis (karena merasa pinter eksak scr sosiologis mendukung), penuh disiplin tinggi dan militansi, dan struktur/hirarkhi otoritas yang jelas. Ini secara umum sesuai dengan kebutuhan-kognitif dari orang2 yang memilih dan atau punya bekgron teknik-eksak. Selain soal deprivasi-relatif dan kebutuhan kognitif, ada juga faktor sosio-historia kenapa orang2 teknik-eksak lebih rentan terpapar ekstrimisme kanan termasuk muslim ekstrimis.

Yang pertama tentang konektivitas. Secara historis, karena deprivasi relatif tahun 1970-80an banyak orang terdidik terpapar ekstrimisme dan ternyata banyak orang teknik-eksakta jadi ekstrimis muslim (masuk/bikin klpk). Ini otomatos berkembang karena mereka otomatis akan mengajak teman2nya/jaringannya sesama teknik-eksakta untuk bergabung juga.Kemudian juga selain konektivitas juga ada kebutuhan group. Seiring dengan makin canggihnya modus operasi dan serangan kelompok ekstrimis muslim (untuk menghindari aparat terkait eksistensi grup dan untuk efek serangan yang mereka lakukan) mereka butuh orang2 teknik-eksak sebagai perancang (engineer) untuk memenuhi kebutuhan grup terkait pemanfaatan teknologi (internet, bikin bom, bio-weaphon dll).

Jadi memang sejak 2000-an kelompok2 ekstrimis muslim mengincar orang2 teknik-eksak (selain utk kebutuhan kelompok, juga mereka kurang ilmu agamanya, apalagi klo bisa diprovokasi politik-ekonomi: udah sekolah tinggi2 tapi nggak sukses juga he3.Itu aja dulu deh. Udah panjang and ini mo nonton olimpiade sambil sarapan mendoan. Semoga manfangat dan berkah. Danke

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed