by

Ajaran Leluhur Bukan Import

Oleh : Santosaba

Mari berfikir cerdas :Jika pada budaya “Asli Nusantara” ada kata “Hyang”, Siwa, Brahma dan Wisnu…. apakah ini ajaran di import dari luar Nusantara,Indonesia…..?Kapan “Misionaris/Pendakwah/Bikhsu/Mikhu/Orang Suci” di era pra Islam dari daratan India datang menyebarkan ajaran nya di bumi Nusantara…?Tidak ada jawabnya, Kalaupun ada pasti di jawab Resi Markandeya dan Agatsya…Fahami, Nama itu ada pada kitab kitab terdahulu dan kemudian nama itu ada pada masa kerajaan di Nusantara dan tertulis dalam beberapa lontar di Nusantara lengkap dengan silsilah nya…adakah kitab india menjelaskan ini…?

Mari kita cermati,Telaah kajian akademik ajaran yang terlahir di india :Study tentang “Hinduisme”,..ini adalah peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, Pangkalnya Brahmanisme agama Weda Kuno atau berbasis “Vedic”, Sintesis tersebut muncul sekitar 500–200 SM, dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri tumbuh berdampingan dengan Buddhism hingga abad ke-8, dari India Utara, “Sintesis Hindu” tersebar ke selatanAkhir abad ke-18 seterusnya orang Inggris menyebut penduduk ‘Hindustan’, yaitu bangsa di sebelah barat daya India. ‘Hindu’ menjadi istilah padanan bagi ‘orang India’ yang bukan Muslim, bukan Sikh, bukan Jaina, bukan Kristen, bukan Buddha, yang mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan tradisional yang berbeda-beda

Akhiran ‘-isme’ ditambahkan pada kata “Hindu” sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada agama kemudian istilah tersebut diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa untuk menentang kolonialisme “Hindu” ditegaskan kembali sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen, didukung oleh “Sanskritisasi”, sejak abad ke-19 di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi, saat istilah “Hinduisme” mulai dipakai secara luas….dan ada peraturan tidak tertulis bahwa orang suci tidak melakukan penyebaran ajaran keluar Dari penjelasan di atas kita fahami bahwa istilah ‘Hindu’ sebagai antonim terhadap keyakinan lain, sekitar awal abad ke-16, kemudian kata ‘Hindu’ dengan tambahan akhiran ‘-isme’ ditambahkan pada kata Hindu sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan Agama

Artinya : Ajaran “Hindu”merujuk pada Agamadi india baru ada sekitar tahun 1830, berarti ini secara formil “Hinduisme” india baru ada setelah era Raja raja Nusantara. Di Nusantara pada ajaran asli masyarakatnya penyebutan kata “Hyang”… adalah kata yang menunjukan pengertian pemahaman tentang yang Maha Mutlak adanya “Tuhan”…Tuhan Yang Maha Esa… “Hyang Widhi Tunggal” dan prosesi ber “ibadahnya” ..terbentuk dari 2 suku kata yaitu “Sembah” dan kata “Hyang” dalam satu kesatuan menjadi “Sembahyang”….kata ini sudah ada lebih dahulu sebelum masuk “Ajaran” lain masukDi Bali…Leluhur kita mengajarkan untuk “Sembah Hyang” di “Pura” alam terbuka “Tri Hita Karana” bukan di “Ashram” berdoa dengan “Tri Sandhya”, Panca Sembah tidak dengan…. “maha mantra hare krishna hare rama”…..dan bukan menjadi pelayan abadi “Tuhan Kṛṣṇa”… di alam “Vaikuntha” nanti….Karena “Dewa” bagi kami adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi atau Brahman..

Leluhur kita mengajarkan untuk menganggap penting”Penghormatan” terhadap leluhur Upakara di Sanggah….”Pedharman”,Ka-Hyangan tiga Sad Khayangan dan ritual nya dari Rong tiga ato Sanggah Kemulan, “Sanggah” dari kata “Sang Melinggih atau munggah naik seperti putaran “Suastika”, symbol ini yang di pakai dan di salah artikan “Hitler” Pa-Ra “Hyang” ,Matahari atau Sang-Surya sebagai symbol penerang , ‘Hyang”… adalah kata yang menunjukan pengertian pemahaman tentang yang Maha Mutlak adanya “Tuhan”…Tuhan Yang Maha Esa… “Hyang Widhi Tunggal” Masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan “Sang Guru Hyang” atau Sangkuriang, Sebagian lagi memanggilnya dengan sebutan, Guriang yang artinya, Guru Hyang, istilah Sinar adalah,Astra/Ra/ Matahari, Cahaya (Dewa) dan Terang

Dalam perkembangan ajaran “Dharma/Dhamma”…berkembang di dataran India, mendasari 2 ajaran utama Hindu,Buddha dan “Jainsm” : Pada tahun 563–483 SM,Lahir Sidharta Gautama tokoh “Buddhism” Pada tahun 549–477 SM,Lahir Mahavira tokoh “Jainsm” Pada abad 9 M, di india mengelompok masyarakat yang tidak menganut “Buddhism” dan “Jainsm” tidak Islam, tidak Nasrani tetap memegang teguh “Vedic” yang di kemudian hari menjadi bernama “Hindu” dan akhiran “isme” di tambahkan pada kata “Hindu” di Era kolonialis inggris 1830 M

Perhatikan pilosofic Nusantara ini sudah ada lebih dahulu dari semua ajaran di atas :Cahaya, sesuai dengan bentuk dasar ajaran “Matahari” sebagai sumber cahaya maka , Terdapat lima warna cahaya utama Pancawarna yang menjadi landasan filosofi kehidupan penganut ajaran asli Nusantara Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat “Hyang Iswara” Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat “Hyang Brahma” Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat “Hyang Mahadewa” Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat “Hyang Wisnu”Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat “Hyang Siwa”,

Jika ada kesamaan penyebutan kata ini di india ,ini bukti ajaran itu berawal dari kita, tidak sebaliknya…kapan dan siapa masa pra Islam tokoh ajaran india yang ke Nusantara…? Tidak ada,karena ada peraturan tidak tertulis orang suci tidak menyebarkan ke luar wilayahAjaran Asli Nusantara terdahulu, berkonsep umum pada Lima kualitas Cahaya tersebut sesungguhnya merupakan nilai waktu dalam hitungan wuku, Kelima wuku, lima tidak ada yang buruk dan semuanya baik, Sang Hyang Siwa,Dewa Pelebur segala cahaya/warnaDewa Siwa “Pelebur” cahaya telah disalah artikan menjadi “Dewa Perusak”…..

Ajaran asli Nusantara dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan “Jamparing Panah Chakra” , ini sejatinya “Dharmic” yang tumbuh di indiaPara Peziarah Tiongkok dari Fa-Hien 399-414 M, I-Tshing 671 – 695 M, juga Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna,tahun 1.013 MDatang ke Nusantara terdahulu untuk “Belajar” bukan membawa “Buddhism” dari negaranya di sebarkan ke sini..dan Palembang bukan pusat “Buddhism” di masa lalu,jangan salah kaprah…apalagi ikut mempublikasikannya tanpa dasarPenggalian yang paling penting oleh para sarjana Buddhis Indonesia adalah konsep “Ketuhanan” dalam “Buddhism” yang diadopsi dari berbagai penelitian teks-teks kuno dalam buku “Sanghyang Kamahayanikan”, ajaran leluhur bangsa Indonesia yaitu konsep “Hyang Widhi Tunggal” dan atas dasar salah satu inilah, Negara memasukan “Buddha” menjadi salah satu Agama resmi negara”Mahāyāna” di Indonesia terpublikasi “ada” setelah 1955,

Ketika Ashin Jinarakkhita kembali ke Indonesia dan juga saat negara mengizinkan upacara “Waisak” Nasional di Borobudur….mulai saat ini Borobudur terpublikasi berdasar “Buddhism Mahayana”…Literasi teks 12 kata “Svargga” pada relief dasar yang “Ditutup” membuktikan ini bukan “Buddhism”..ini fakta”Nalanda Copperpalate”,ditemukan di Vihara I Nalanda di India,Tertulis Raja Phala keturunan Syailendra bernama Balaputradewa dari Svarnadvipa ,…”Nalanda” di Bihar India didirikan pada tahun 427 M di bangun oleh dan atas prakarsa Sailendra Srivijaya dari Sumatra…Beliau membangun Nalanda demi kepentingan “Pengembangan” yang pusat nya pendidikan itu ada di Nusantara, Bernama “Dharmaphala” Di area Universitas Nalanda di Bihar India,tepat nya di situs Kuil no.3 disebut dengan nama “Stupa Sariputta” panel relief terpahat di atas menara,”Sariputra”….. adalah putra dari ibunya Śāri karena nama ibunya itulah ia disebut Sariputra Ayah nya Māṭhara…

Nama ibu dan anak nya jelas nama Nusantara bukan India, Beliau yang membawa ajaran “Dharma” ke sana,nenjadi cikal bakal lahirnya “Buddhism” ajaran yang kini di “label” kan di Borobudur …Budaya asli Nusantara maju terdahulu terekam sempurna pada budaya Bali, Sunda Wiwitan, Tengger, Malim, Marapu, Tolotang dll ,Pokok dasar ajaran nya bernama “Dharma/Dhamma” Filolog eropa menyebut “Dharmic” inilah yang sejatinya “Dharmic Original” tumbuh di tanah India menjadi 3 ajaran Hindu,Buddha & JainaFahami ini :Jika pada budaya “Asli Nusantara” ada kata Hyang..Siwa Brahma dan Wisnu….ini adalah nama dan ajaran asli Nusantara Indonesia, Karena TIDAK ADA “Misionaris/Pendakwah/ Bhiksu/Mikhu/Orang suci” dari daratan India datang era pra Islam menyebarkan ajaran nya di bumi Nusantara

Maka gugurlah “Labeling” selama ini tentang ajaran asli Nusantara, Kerajaan Pra Islam juga situs situs di Nusantara berdasar pada ajaran yang terlahir di India, Tidak importBahwa sejatinya ajaran leluhur Nusantara yang tergambar di Borobudur hingga kini tersimpan di Bali yang mewarnai india

Sumber : Status Facebook Santosaba

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed