by

Asia, China dan Kiblat Penguasaan Dunia

Oleh : Munawar Khalil

Sejarah revolusi pertama manusia yang terkenal dengan revolusi kognitif 70 ribu tahun lalu, kemudian saintifik 500 tahun lalu. Berlanjut saat ini dan tengah mencapai puncak eksistensinya pada masa revolusi ke-4 teknologi informasi, yaitu berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau sering disebut dengan artificial intelligence (AI). Tidak ada yang membayangkan sebelumnya jika masa depan Sapiens bergerak begitu jauh dan melesat baru di beberapa dekade terakhir ini saja.

Tak ada satu pun, sekurang-kurangnya manusia-manusia itu sendiri, yang punya firasat keturunan mereka suatu hari kelak bisa terbang, berjalan di bulan atau menuju planet lain, membelah atom, menyibak kode genetik, menulis buku-buku sejarah, apalagi sampai mampu menciptakan salah satu puncak pengetahuan dengan artificial intelligence-nya.Yang tak disangka, lompatan jauh dan tinggi ini berasal dari negara-negara di kawasan sekitar kita yaitu Asia, salah satunya China, selain Jepang dan Korsel. Bahkan ada analisis yang memetakan bahwa Vietnam dan Thailand juga akan menyusul setelahnya dibelakang India. Menurut analis lain, kemungkinan faktor eksistensialism ini juga yang membuat pergerakan di Laut China Selatan agak memanas, pasca ditariknya pasukan dari Afghanistan oleh Amerika karena ingin berfokus ke sana.

Apa sih yang menyebabkan negara-negara ini begitu cepat akselerasi penguasaan teknologinya? Terutama ketika mereka tidak hanya bergerak maju dalam proses produksi, tapi mulai mengarah kepada kecerdasan buatan? Sementara kita, yang satu kawasan dengan mereka kelihatan stuck bahkan cenderung menurun penguasaan teknologinya.Selain ruang untuk penguasaan teknologi berbasis santifik itu menyempit dan cenderung tidak diberikan, menurut saya salah satu faktornya karena sebagian kita yang anti sains, dan menganggap sains adalah media demestifikasi beberapa hal yang selama ini menjadi ‘keyakinan’ kita.

Terkadang ‘keduanya’ begitu masif di branding berhadapan dan bertentangan karena lancang menyentuh ranah yang menurut sains adalah konsepsi tentang mitologi yang tidak boleh disentuh atau dikritisi. Dari sinilah yang menurut saya tadi, sains memang ada diakui manfaatnya secara nyata. Tapi begitu sains membuka nalar kita dengan temuannya yang menyerempet keyakinan, sains berubah jadi momok menakutkan. Akhirnya generasi ini lebih kita dorong untuk belajar ilmu “hapalan” di sekolah umum atau khusus dibanding untuk belajar sains.

Padahal, Indonesia termasuk pangsa pasar terbesar produk sains yang sangat konsumtif, namun sebatas hanya penikmat dan penonton di pinggiran bagi melesatnya kemajuan teknologi negara lain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed