by

Persaingan Dakwah

Oleh : Mamang Haerudin

Sebetulnya saya masih belum merasa tepat, apa judul yang pas untuk catatan harian hari ini. Namun baiklah, diakui atau tidak, bahwa dakwah Islam belakangan sarat akan dengan persaingan. Dakwah yang begitu kentara ke arah gagah-gagahan. Saling adu kekuatan, saling menunggu kesalahan–atau sekadar “keceletot lidah.” Sampah-sampah dakwah pun makin berserakan, di antaranya keangkuhan, nyinyir, cibiran, merendahkan, merasa paling alim dan seterusnya.

Dasarnya begini. Setiap orang, apakah itu guru, dosen, santri, pengusaha, termasuk Kiai atau Ustadz yang pendakwah, punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ada penceramah yang hafal Al-Qur’an, ada yang tidak, ada yang bisa baca kitab kuning, ada yang tidak, ada yang bisa melucu (sampai level keterlaluan), ada yang tidak dan seterusnya. Contohnya banyak ya. Namun soal dakwah harus kontekstual, dakwah yang basisnya adalah dakwah digital, ini tidak bisa dikesampingkan.

Karena dakwah memang harus kontekstual, melek digital dan viral. Lagi-lagi saya harus menyebut geliat dakwah teman-teman Muslim hijrah yang sungguh membuat mata saya terbelalak. Mereka yang selama ini diremehkan, dianggap tidak bisa baca kitab kuning, tidak mengerti mantiq-balaghah, minim penghafal Al-Qur’an dan seterusnya, secara pelan tapi pasti, mampu menggebrak dunia persilatan dakwah di Indonesia. Dakwah kontekstual, melek digital, milenial dan viral, masih di tangan mereka.

Dakwahnya variatif, disukai semua kalangan umat Muslim, bahkan mampu meracik dakwah pemberdayaan. Atas realitas ini, siapa pun da’i atau kelompok Muslim yang tidak mau beradaptasi dengan kontekstualitas zaman, pasti akan tertinggal. Ini bukan urusan berkah atau tidak, ikhlas atau tidak. Ini urusan bahwa dakwah itu ada ilmunya, ada manajemennya, ada strategi dan targetnya yang jelas. Kalau persoalannya masih banyak Kiai atau ustadz sepuh yang tidak mungkin melek digital, kan ada regenerasi Kiai dan ustadz berikutnya. Contoh Kiai dan Ustadz Muhammadiyah yang sepuh, silakan meneruskan dakwah zona nyamannya.

Namun Kiai dan Ustadz mudanya, minimalnya, ya ini yang harus tancap gas, segera menyesuaikan diri dan belajar melek digital. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed