by

Ada yang Meribetkan Agama

Oleh : Zahrotur Riyad

Diriku sama sekali tidak tertarik membahas secara serius segala larangan terhadap perempuan dari mulai ndak boleh pake ransel, ndak boleh pake BH, ndak boleh pake celana dalam dll dsb dllajr. Dibuat jadi guyonan saja daripada dibahas spaneng. Sejak dulu kelas 1 SMA, awal tahun 94 an, awal diriku pake kerudung dan kemudian ikut kajian-kajian Liqo udah kenyang dg itu semua. Diriku ingat banget, di masa itu ada buku kecil warnanya ijo berjudul Wanita Sholehah ada gambar perempuan pake kerudung.

Diriku ingat itu kayaknya terbitan Darul Arqom ketika mereka masih jaya-jayanya dan buku-buku terbitannya menyerbu Indonesia. Itu buku berisi 1001 larangan terhadap perempuan, yang jika dilakukan akan dilaknat oleh Alloh Tuhan semesta alam. Mulai dari ndak boleh cukur alis, ndak boleh pake sanggul, ndak boleh jadi perempuan yang ceria dan riang gembira kudu menunduk sambil mekutut sambil terus mengingat bahwa dirinya adalah sumber fitnah yg bakal masuk neraka. Karena itu kudu sedih terus.Ndak boleh tertawa terbahak, kudu lembut anggun.

Kalo ndak ada bakat lembut dan anggun ya kudu pura-pura lembut dan anggun. Kalian mau hidup dalam kepura-puraan? Diriku mah NEHIK… Ndak boleh hidup bahagia, kudu yang sengsara karena itulah sabar yg sesungguhnya. Semakin sengsara seorang perempuan, maka akan semakin besar peluang masuk surga. Ndak boleh menolak dipoligami. Karena menolak poligami berarti menolak kesenangan bagi tytyd laki-laki. Camkan itu. Sejak itu diriku tetap ngaji dan terus ikut ngaji.

Tetap berkerudung tapi dg sebuah tekad bahwa diriku akan menjadi muslimah, perempuan Islam dg versiku sendiri. Yang tidak satupun bisa mendikte diriku tentang hidup dan tentang surga/neraka. Diriku punya pemikiran sendiri ttg Gusti Alloh sebagai Sang Maha. Dan Dia bukan Sang Maha yang menciptakan hukum demi membela tytyd laki-laki. Yang membuat semua hukum untuk membela tytyd laki-laki itu adalah kaum laki-laki yang mengaku sebagai Tuhan. Berkedok Hukum Islam. Diriku tidak mencukur alis atau tidak menyambung rambut bukan karena ancaman Neraka. Tapi karena diriku suka dan mencintai alisku sebagaimana adanya karena begitulah yg diberikan Gusti Alloh kepada diriku sehingga diriku tidak perlu bersusah-susah untuk mengubahnya, cukup dg mencintai diriku sendiri, menerima diriku sendiri sebagai bentuk syukur kepada Gusti Alloh.

Diriku mencintai semua apa yang ada di dalam diriku dan tidak pernah merasa perlu untuk membanding-bandingkan diriku dengan orang lain atau menyesali apapun karena ya inilah diriku yang diciptakan berbeda oleh Gusti Alloh. Diriku mencintai diriku sendiri, menjura hormat untuk semua perjuangannya selama 43 tahun kehidupan sehingga ancaman apapun tidaklah diperlukan. Diriku mencintai diriku sendiri tanpa perlu ancaman apapun, termasuk ancaman Neraka. Diriku mencintai diriku sendiri, menerima dg segala potensi dan kekurangan yang ada tanpa perlu menjadi seperti orang lain. atau tidak menjadi diri sendiri untuk mendapat sanjung puja dan kekaguman orang lain.

Diriku mencintai diriku sendiri untuk tidak mendzalimi orang lain dan melawan ketika didzalimi. Jangan dzalim dan jangan mau didzalimi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed