by

Beragama Fundamentalistik dan Legalistik

Oleh : Efron Bayern

Beragama Fundamentalistik dan LegalistikUntuk memasukkan ajaran kepada anak kecil sangat mudah. Anak kecil menerima apa saja yang digelontor oleh pengajarnya. Saking mudahnya menerima ajaran, maka pembuatan kurikulum pendidikan untuk anak sangat ketat agar anak tidak salah didik.Mengajar orang dewasa jauh lebih sulit. Orang dewasa sudah memiliki prapaham yang kemudian dijadikan benteng ideologinya. Strategi gereja memumpunkan pengajaran orang dewasa penuh tantangan, karena dalam kenyataan cukup banyak warga gereja yang sudah tertanam ideologi tertentu tidak berkehendak menjadi dewasa.

Misal, meski sudah dijelaskan kisah Nabi Yunus ditelan ikan besar adalah metafor, tetap saja hal itu dipahami kisah historis. Bahkan ditambahkan dengan ikan paus agar kelihatan heroik. Alkitab adalah firman Allah sehingga tidak mungkin salah. Padahal pernyataan “Alkitab adalah firman Allah” itu sendiri adalah metafor.Bacaan Alkitab secara ekumenis pada Minggu ini diambil dari Ayub 23:1-9, 16-17, Mazmur 90:12-17, Ibrani 4:12-16, dan Markus 10:17-31.Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan seseorang mendatangi Yesus dan bertelut. Ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kulakukan untuk memeroleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Engkau tentu tahu segala perintah Allah: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu.” Orang itu berkata lagi, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Yesus memandang orang itu dan menaruh kasih kepadanya.

Kata Yesus, “Hanya satu kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…dan ikutlah Aku.” Mendengar jawaban Yesus, ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, karena banyak hartanya.Setelah orang itu pergi, Yesus memandang murid-murid-Nya. Kata Yesus, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”Yesus adalah pengajar lisan. Ia tidak mungkin mengajar atau mengajukan banyak pertanyaan sekaligus dalam satu kalimat seperti bacaan di atas. Ia akan bertanya satu per satu. Kira-kira Yesus bertanya, “Apakah kamu membunuh?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Yesus bertanya lagi, “Apakah kamu berzinah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Demikian seterusnya sampai pada akhirnya orang itu tidak sanggup menjawab pertanyaan atau tepatnya ajakan Yesus tentang hakikat menjalankan misi Kerajaan Allah. Begitu sulitnya orang yang dikuasai harta atau ideologi untuk diajak percaya pada kebenaran hingga Yesus mengumpamakan “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

”Sejak Jokowi berkuasa, secara kasat mata pembangunan fisik dan manusia di Papua melaju kencang. Hanya di masa Jokowi Papua dapat menyelenggarakan PON dengan fasilitas olahraga yang amat sangat baik. Konektivitas antar-daerah semakin lancar. Jalan Trans Papua sepanjang 3.462 km segera tersambungkan; tinggal 16 km lagi. Harga barang, terutama BBM, semakin terjangkau. Dalam pada itu para pembenci Jokowi tidak melihat pembangunan di atas sebagai kemajuan. Mereka sudah tertanam ideologi: apa pun salah Jokowi. Ya, memang kemajuan kemajuan Papua masih belum sempurna. Akan tetapi apa yang sudah dikerjakan oleh Jokowi jauh melebihi para pendahulunya.

Mengajak berdialog dengan pembenci Jokowi sama sulitnya dengan berdialog dengan orang kaya di atas mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti menjalankan misi Kerajaan Allah dengan menghadirkan keadilan Allah, yaitu berbelarasa dan memberdayakan masyarakat marginal atau pinggiran seperti masyarakat Papua. Dengan kata lain menciptakan keadilan sosial. Tentu upaya itu tidaklah mudah. Dalam konteks bacaan di atas berbelarasa diungkapkan dengan berbagi dengan sesama. Namun orang kaya itu lebih menjalankan agama secara legalistik; boleh dan tidak boleh.

Pembenci Jokowi maunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu langsung turun dari langit tanpa perlu berpeluh. Maunya mereka langsung mendapat bagian rejeki lewat “komisi pembangunan”.Cara beragama orang kaya di atas juga mirip warga gereja yang berwatak fundamentalistik; mereka yang menggadang-gadang ideologi Alkitab tidak salah karena tulisan yang diilhamkan oleh Allah. “Pokoknya Alkitab tidak salah. Kamu liberal dan sesat!” kata mereka. Padahal, kalau mereka hidup di zaman Yesus, patut diduga mereka berdiri di barisan terdepan berteriak, “Bunuh Yesus! Salibkan Dia!”. Mengapa? Yesus itu liberal.

Buktinya, Yesus lebih mementingkan bekerja menolong banyak orang ketimbang berdoa (Mrk. 1:29-39), Yesus membela murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan (Mrk. 7:1-23). Yesus itu radikal. Buktinya dalam bacaan Injil hari ini menjalankan Dasa Titah menurut Yesus belumlah cukup, masih ditambah perintah menjual seluruh harta dan membagikan kepada orang-orang miskin.Quote of the day: “Never argue with stupid people; they will drag you down to their level and then beat you with experience.” Mark Twain Wassalam, MDS (10102021)

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed